Jumat, 17 September 2021

Osilator - laporan praktikum ELektronika DASar - FISIKA

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Pengertian osilator dan prinsip kerjanya – osilator (oscillator) adalah suatu rangkaian elektronika yang menghasilkan sejumlah getaran atau sinyal listrik secara periodik dengan amplitudo yang konstan. Gelombang sinyal yang dihasilkan ada yang berbentuk Gelombang Sinus (Sinusoide Wave), Gelombang Kotak (Square Wave) dan Gelombang Gigi Gergaji (Saw Tooth Wave). Pada dasarnya sinyal arus searah atau DC dari pencatu daya (power supply) dikonversikan oleh Rangkaian Osilator menjadi sinyal arus bolak-balik atau AC sehingga menghasilkan sinyal listrik yang periodik dengan amplitudo konstan. 

Osilator mendeskripsikan rangkaian-rangkaian yang gain membangkitkan gelombang sinus, gelombang per- segi, dan bentuk-gelombang segitiga. Rangkaian- rangkaian osilator ini merupakan komponen dasar Seka pembentuk rangkaian clock dan pewaktuan (timing) serta rangkaian pembangkit sinyal dan fungsi. Pada kita telah melihat bagaimana umpan-balik negatif dapat diterapkan pada sebuah sehir Vin amplifier untuk membentuk sebuah tahapan- rangkaian (stage) yang memiliki gain yang ter- kontrol secara akurat.

Bentuk umpan-balik alternatif, di mana output diumpankan kembali sedemikian rupa sehingga memperkuat input (bukannya me- nguranginya), dikenal sebagai umpan-balik positif, memperlihatkan diagram blok dari sebuah tahapan amplifier yang menerapkan umpan- balik positif. Perhatikan bahwa amplifier tersebut memberikan pergeseran fase sebesar 180° dan rangkaian umpan-balik menghasilkan pergeseran lebih lanjut sebesar 180°.

Kondisi-kondisi untuk osilasi (lihat Dari pembahasan sebelumnya kita dapat menyim- pulkan bahwa kondisi-kondisi untuk terjadinya osilasi adalah: umpan-balik harus positif (yaitu sinyal yang diumpankan kembali harus tiba dalam keadaan sefase dengan sinyal di inputnya), gain tegangan loop keseluruhan harus lebih besar dari satu.

1.2     Tujuan

1.            Untuk mengetahui dan mempelajari serta merakit rangkaian osilator

2.            Untuk membuat osilator monostable dan astable

3.            Untuk menghitung  frekuensi, waktu, dan duty-cycle

BAB II

LANDASAN TEORI

Osilator Bab ini mendeskripsikan rangkaian-rangkaian yang gain membangkitkan gelombang sinus, gelombang per- segi, dan bentuk-gelombang segitiga. Rangkaian- rangkaian osilator ini merupakan komponen dasar Seka pembentuk rangkaian clock dan pewaktuan (timing) serta rangkaian pembangkit sinyal dan fungsi. Pada kita telah melihat bagaimana umpan-balik negatif dapat diterapkan pada sebuah sehir Vin amplifier untuk membentuk sebuah tahapan- rangkaian (stage) yang memiliki gain yang ter- kontrol secara akurat.

Bentuk umpan-balik alternatif, di mana output diumpankan kembali sedemikian rupa sehingga memperkuat input (bukannya me- nguranginya), dikenal sebagai umpan-balik positif, memperlihatkan diagram blok dari sebuah tahapan amplifier yang menerapkan umpan- balik positif. Perhatikan bahwa amplifier tersebut memberikan pergeseran fase sebesar 180° dan rangkaian umpan-balik menghasilkan pergeseran lebih lanjut sebesar 180°. Oleh karena itu, pergeser- an fase totalnya adalah 0°. Gain tegangan keseluruh- dan Ga V. out Sehi gain ng Mak an diberikan oleh:

Kondisi-kondisi untuk osilasi (lihat Dari pembahasan sebelumnya kita dapat menyim- pulkan bahwa kondisi-kondisi untuk terjadinya osilasi adalah: umpan-balik harus positif (yaitu sinyal yang diumpankan kembali harus tiba dalam keadaan sefase dengan sinyal di inputnya),gain tegangan loop keseluruhan harus lebih besar dari 1 (yaitu gain amplifier harus cukup besar sehingga melebihi pelemahan yang di- hasilkan oleh rangkaian umpan-balik yang selektif terhadap frekuensi). Sehingga, untuk membuat sebuah osilator kita hanya membutuhkan sebuah amplifier dengan gain yang cukup besar yang dapat mengkompensasi pelema- han dari rangkaian umpan-balik positif.

Dengan mengasumsikan bahwa amplifier memberikan per- geseran fase 180°, frekuensi osilasi adalah sedemi- kian rupa sehingga menimbulkan pergeseran fase 180° pada rangkaian umpan-balik. Sejumlah rang- kaian dapat digunakan untuk menghasilkan per- geseran fase 180°, salah satu yang paling sederhana adalah rangkaian tangga C-R tiga-tahap.

Sebagai alternatif, jika amplifier menghasilkan pergeseran fase 0°, rangkaian tersebut akan berosilasi pada frekuensi yang sedemikian rupa sehingga menim- bulkan pergeseran fase 0° pada rangkaian umpan- balik. Dalam kedua kasus tersebut, hal terpenting adalah umpan-balik harus positif sehingga sinyal output tiba kembali pada input sedemikian rupa sehingga memperkuat sinyal aslinya.                                    (Tooley,M. 2003) Osilator nada yang mengacu baik IC 555 A dan B sama-sama menjalankan sebagai multivibrator astabil, di mana IC 555 B berosilasi dengan frekuensi lebih tinggi dari IC 555 A dan masing-masing frekuensi masing-masing dapat dilengkapi dengan potensiometer (variabel R) masing-masing yaitu 1K dan 1M.  Frekuensi osilasi masing-masing rangkaian IC 555 dapat di hitung dengan persamaan yang diberikan di atas.

Operasional (Op-Amp) teori lanjutan dan pemakolan terbuka, maka masing-masing IC 555 berosilasi tetapi jika perlu ditutup memerlukan 4 input IC 555 maka termasuk rendah, maka IC 555 B dengan tidak dapat digunakan atau tidak berosilasi tinggi maka IC 555 B berosilasi sesuai yang diperlukan penyetelan  R variabeinya.  pendek keluaran pin 3 IC 555 A dan masukan keluaran pin 3 IC 555 B akan dikeluarkan pecahan oleh penguat audio atau dengan bantuan trafo pengeras suara.

Osilator Siklus Tugas variabel diselesaikan pada dengan menambahkan komponen dioda (diode) maupun variabel R, siklus tugas dapat diperlebar secara variabel, seperti dijelaskan Hal ini terkait pengisian dan pengosongan kapasitor melalui lintasan oleh dinyatakan dioda DA dan pin 7, sedangkan pengisian kapasitor dari Vcc melalui RA dan DA.

Osilator bergerak bebas pada IC 2240 diprogram bekerja sebagai osilator bergerak bebas atau astabil.  Pin 10 reset terground jadi IC 2240 sekali jalan akan tetap dalam siklus menunggu.  Bila catu daya diberikan, RR dan CR akan menggandeng pulsa pemicu sisi positif ke pin 11 input IC 2240. Pulsa pemicu ini akan menyebabkan IC 2240 mulai osilasinya.setiap perpindahan dari transisi ke luar ke masing-masing hambatan tariknya (ke + V).  Karena osilator maka keluaran berbentuk gelombang persegi dan frekuensinya dihitung dengan biner, atau dengan kata lain setiap keluaran kenaikan kelipatan setengah frekuensi.

Pulsa pada keluaran tergantung pada saklar program ditutup.Periode pola pulsa ditentukan oleh saklar program terendah yang ditutup.Contoh : bila saklar 4T (pin 3) dan pin 1 saklar 1T ditutup, pola pulsanya berulang setiap 2 x 4T =8T det.

Pembangkit sinyal biner dengan memperbaiki, kita dapat memperoleh gelombang persegi dalam bentuk biner. Modifikasi dilakukan dengan menggantikan 8 hambatan R ke saklar yang dapat diprogram dan juga dengan sebuah hambatan R tunggal yang dengan pada, juga hambatan 51 kQ antara deret keluaran, kemudian terminal reset diri dihilangkan. Lebar pulsa minimum adalah 1T, halnya pada pembahasan di atas bahwa keluaran akan tinggi bila semua pin keluaran yang dihubungan adalah tinggi, ini terlihat jelas pada. Pengsintesa Frekuensi Kangkaian pada memungkinkan memberikan salah satu pola pulsa frekuensi dari 255 frekuensi yang berhubungan, jadi frekuensi keluaran tertentu dapat diprogram dengan

menutup saklar-saklar pada keluaran.

Untuk memahami cara kerja rangkaian pada kita misalkan deretan keluaran menjadi tinggi, hal demikian akan mendorong pin 10 reset ke tinggi dan menggandeng sebuah pulsa sisi negatif ke pin 11 pemicu, Akibatnya terminal reset menuju ke positif mereset IC 2240 sehingga semua keluaran menjadi rendah. Pulsa positif pada pin 10 memicu kembali osilator basis waktu IC 2240, untuk memulai membangkitkan periode waktu yang tergantung pada posisi saklar keluaran diprogram atau tertutup. Contoh, saklar T dan saklar 4T ditutup seperti diperlihatkan sedangkan hasil penentuan. (Muis, S. 2017)

Pada frekuensi di bawah 1 MHz, kita dapat menggunakan osilator RC untut menghasilkan gelombang sinus yang hampir sempurna.Osilator frekuensi rendah ini menggunakan penguat operasional dan rangkaian resonansi RC untut menentukan frekuensi osilasinya.Di atas I MHz, digunakan osilator LC.Osilator frekuens tinggi ini menggunakan transistor dan rangkaian resonansi LC. Bab ini juga membicarakan chip yang cukup banyak digunakan yaitu timer 555. LC ini digunakan pada beberapa oched loop (PLL) aplikasi untuk menghasilkan tunda waktu, osilator vang dikendalikan tegangan, dan ngkalan dari sinyal keluaran termodulasi. Bab ini diakhiri dengan rangkaian komunikasi yang disebut dengan phase-locked loop (PLL).

Teori osilasi sinusoidal untuk membentuk osilator sinusoidal, kita menggunakan penguat dengan umpan balik positif.Idenya adalah dengan menggunakan isyarat umpan balik pada sinyal kelvaran. Jika sinyal umpan balik cukup besar dan mempunyai fase yang benar, akan menyebabkan adanya sinyal keluaran meskipun tidak ada sinyal masukan eksternal.

Jika pergeseran fase yang melalui penguat dan rangkatan umpan balik adalah 0, ABD akansefase dengan v Anggap bahwa kita menghubungkan titik x dengan titik y dan secara simultan membuang sumber tegangan v Kemudian tegangan umpan balik ABu, mendorong masukan penguat, seperti terlihat pada Gambar 23-1b. Apa yang terjadi dengan tegangan keluaran? Jika AB kurang dari 1, ABu akan lebih kecil daripada v dan sinyal keluaran akan melemah seperti terlihat pada. Akan tetapi jika AB lebih besar daripada 1, ABv akan lebih besar daripada v dan keluaran akan semakin besar. Jika AB sama dengan 1, AB akan sama dengan v dan tegangan keluaran adalah gelombang sinus steady seperti. Pada kasus ini, rangkaian mencatu sinyal masukan sendiri.Pada beberapa osilator penguatan kalang adalah lebih besar daripada 1 saat power pertama kali dinyalakan.Tegangan awal yang kecil diberikan pada terminal masukan, dan kemudian tegangan keluaran membesar, seperti terlihat pada.Setelah tegangan keluaran mencapai nilai tertentu, AB sccara otomatis berubah menjadi 1, dan nilai puncak ke puncak menjadi konstan.

Tegangan awal adalah derau suhu Dari manakah tegangan awal berasal?Seperti yang telah dibicarakan setiap resistor terdiri dari beberapa elektron bebas.Karena suhu yang berubah, elektron bebas ini bergerak secara acak dalam arah yang berbeda dan menghasilkan tegangan derau pada resistor.Pergerakarınya adalah secara acak dan mempunyai frekuensi lebih dari 1000 GHz. Anda dapat memikirkan bahwa tiap-tiap resistor mempunyai sumber tegangan ac kecil yang menghasilkan semua frekuensi. Pada terjadi proses sebagai berikut: saat Anda menyalakan power untuk pertama kali, hanya terdapat derau tegangan yang dibangkitkan oleh resistor yang terdapat pada sistem.

Derau tegangan kemudian dikuatkan dan terdapat pada terminal output.Derau yang telah dikuatkan, yang terdiri dari semua frekuensi, memicu rangkaian umpan balik resonansi.Dengan perancangan yang disengaja, kita dapat membuat penguatan kalang lebih besar daripada 1 dan pergeseran fase kalang 0° pada frekuensi resonansi.Di atas dan di bawah frekuensi resonansi, pergeseran fase tidak lagi 0°. Sebagai hasilnya, osilasi hanya akan membesar pada frekuensi resonansi dari rangkaian umpan balik.

Dimana tanda minus pada persamaan untuk sudut fase.                                (Malvino. A, 2004)

Kriteria Sirkuit untuk Osilator.Rangkaian dikenal sebagai osilator pelat-disetel.  Analisis rangkaian sederhana memerlukan asumsi arus kisi nol, koefisien tabung konstan, dan bentuk gelombang sinusoidal, semua persyaratan yang tidak sepenuhnya terpenuhi dalam rangkaian osilator, yang biasanya beroperasi di Kelas C dengan arus pelat terputus-putus dan di berbagai daerah dengan koefisien tabung bervariasi. Namun, penggunaan di sini dari rangkaian ekuivalen triode hanya merupakan pendekatan yang membantu untuk memahami persyaratan rangkaian, dan tanpa maksud kuantitatif. Sebagai kondisi kedua yang diperlukan untuk osilasi, puas dengan penyesuaian otomatis frekuensi ke nilai ini, membuat istilah reaktif nol.  Karena R biasanya akan kecil sehubungan dengan r, frekuensi osilasi akan mendekati frekuensi resonansi dari sirkuit yang disetel saja.  Perlu dicatat, bagaimanapun, bahwa R termasuk resistansi beban yang digabungkan, sehingga frekuensi osilator adalah fungsi dari beban osilator.Untuk stabilitas frekuensi tinggi, diinginkan untuk mengisolasi rangkaian yang disetel osilator dari efek pemuatan variabel.

Untuk memulai osilasi dengan bias nol gm harus lebih besar dari nilai yang diberikan.  Selama operasi aktual, arus jaringan mengalir melalui R ,, memberikan nilai bias yang cukup untuk kondisi Kelas C, dan memberikan rata-rata u dan gm untuk memenuhi kondisi Barkhausen.  Semakin besar amplitudo osilasi, semakin besar arus grid dan bias jaringan.  Bias yang meningkat ini menyebabkan gm jatuh, mengurangi osilasi anplitude hingga tercapai keseimbangan.  Jadi penggunaan bias kebocoran jaringan memungkinkan nilai gm yang besar pada bias nol untuk memudahkan osilasi, namun tetap memberikan batasan otomatis amplitudo osilasi.  Daya penggerak grid yang rendah dan stabilitas frekuensi tinggi menentukan nilai R. yang besar, tetapi nilai yang terlalu tinggi menyebabkan osilasi yang tidak stabil dan terputus-putus.

Sirkuit osilator umpan balik dasar.Berbagai jenis umpan balik osilator diilustrasikan pada berbeda dalam cara di mana umpan balik dari piring ke kotak dicapai. Rangkaian memperoleh umpan balik melalui kopling induktansi bersama, dengan penyetelan pada sirkuit pelat.  Rangkaian adalah sebaliknya, dengan penyetelan pada rangkaian kisi.  Sirkuit ini biasanya digunakan sebagai sumber sinyal lokal pada receiver dan jelas merupakan osilator jaringan yang disetel,menggunakan kedua tala grid dan plat, dengan masing-masing kumparan terlindung untuk mencegah kopling induktif. 

Umpan balik terjadi melalui kapasitas pelat kisi-kisi tabung, dan tetrode mungkin tidak berosilasi dengan mudah kecuali jika kapasitas eksternal paralel ditambahkan.Sirkuit yang disetel dari Q yang lebih tinggi menentukan frekuensi osilasi.  Karena sirkuit pelat biasanya memasok beban eksternal, sirkuit grid biasanya akan memiliki Q yang lebih tinggi dan akan mengontrol frekuensi.  Sirkuit pelat kemudian dapat disetel untuk menyesuaikan pelat osilator dan kondisi pengoperasian Kelas C.Rangkaian ini dikenal sebagai osilator tuned-plate-tuned-grid.

Sirkuit Hartley adalah bentuk yang populer, dengan umpan balik yang diperoleh melalui hubungan timbal balik antara dua bagian induktansi.  Posisi keran katoda dapat disesuaikan untuk mengontrol besarnya tegangan penggerak jaringan dan output serta efisiensi osilator.  Bentuk umpan-seri dari biasanya tidak digunakan karena keperluan untuk membagi koil tangki.  Bentuk shunt dari biasanya digunakan, choke frekuensi tinggi yang mencegah frekuensi tinggi.                                                                           (Ryder, J. 1957)

Untuk sumber gf khusus ini, dan sumber tidak lagi diperlukan untuk memberi makan energi ke sirkuit LC.  Sirkuit LC berfungsi sebagai tangki di mana elektron terus-menerus dipindahkan dari kapasitor ke koil dan kembali lagi, Karena tidak ada resistansi, tidak ada oss energi, dan secara teori dimungkinkan untuk melepaskan LC  sirkuit tangki dari sumber dan elektron akan terus berosilasi bolak-balik di antara frekuensi pada saat sirkuit tersebut merupakan antiresonant. 

Pada kapasitor telah dibebankan ke tegangan maksimum dengan menyentuhnya sesaat di sumber.Satu piring negatif dan yang lainnya positif, dan energi disimpan dalam bentuk eiectrostatic di dielektrik kapasitor.  Pada elektron dari playa negatif kapasitor mulai mengalir melalui koil ke plat positif.  Ketika mereka mengalir melalui koil, mereka mengembangkan medan magnet, menyimpan beberapa energi mereka di bidang ini.  Pada waktu tercapai ketika ada banyak elektron yang ada di pelat atas kapasitor seperti di bagian bawah, dan gf melintasi kapasitor, dan sirkuit, adalah nol.Pada saat ini, arus mencapai maksimum (jumlah maksimum elektron yang bergerak per detik).

Semua energi kini telah meninggalkan kapasitor sekunder menunjukkan bahwa koefisien kopling k antara dua kumparan juga variabel.  Ada empat koefisien kopling yang menarik: Jika k berada dalam kisaran 0,005, kopling mungkin disebut kopling kurang;  atau longgar. Jika k adalah 0,05 atau lebih, kopling mungkin disebut overcoupling, atau ketat. Di mana-mana antara kopling longgar dan ketat adalah gelar yang disebut kopling kritis.Tingkatan kopling antara kritis dan ketat dapat disebut kopling transisional atau flat-top.Tingkat kopling menentukan respons frekuensi, tegangan output, impedansi primer, dan arus primer.grafik tegangan keluaran versus frekuensi untuk empat derajat kopling.  Pada arus primer diplot terhadap frekuensi untuk berbagai derajat sambungan, dengan nilai Q yang sama.

Pada kapasitor telah dibebankan ke tegangan maksimum dengan menyentuhnya sesaat di sumber.Satu piring negatif dan yang lainnya positif, dan energi disimpan dalam bentuk eiectrostatic di dielektrik kapasitor.  Pada elektron dari playa negatif kapasitor mulai mengalir melalui koil ke plat positif.  Ketika mereka mengalir melalui koil, mereka mengembangkan medan magnet, menyimpan beberapa energi mereka di bidang ini.  Pada waktu tercapai ketika ada banyak elektron yang ada di pelat atas kapasitor seperti di bagian bawah, dan gf melintasi kapasitor, dan sirkuit, adalah nol.Pada saat ini, arus mencapai maksimum (jumlah maksimum elektron yang bergerak per detik).     (Shrader. R, 1977)

BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Komponen dan Peralatan

3.1.1 Komponen dan Fungsi

1.       IC Timer 555

Fungsi: Sebagai multivibrator dan untuk membuat modulator lebar pulsa

2.       Resistor 1 (K)

Fungsi: Sebagai tahanan atau hambatan aliran listrik

3.       Kapasitor 10 (μF)

Fungsi: Sebagai pengatur waktu

4.       LED

Fungsi: Sebagai indikator cahaya

5.       Potensiometer

Fungsi: Sebagai pembagi tegangan

 

      3.1.1 Peralatan dan Fungsi

1.       Protoboard

Fungsi: Sebagai tempat merangkai sementara

2.       Jumper

Fungsi: Untuk menghubungkan komponen dalam rangkaian

3.       Multimeter Dgital

Fungsi: Sebagai alat untuk mengukur besar hambatan, tegangan dan arus pada

rangkaian

4.       Stopwatch

Fungsi: Untuk menghitung waktu terjadinya osilasi

5.       Baterai

Fungsi: Sebagai sumber listrik

 

3.2  Prosedur Percobaan

1.       Siapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan.

2.       Rangkailah peralatan dan bahan tersebut di protoboard

3.       Setelah dirangkai, kemudian ukurlah berapa hambatan yang ada di potensiometer menggunakan multimeter digital

4.       Lalu amati LED, lihat berapa detik LED  mati dan menyala menggunakan stopwatch

dan catat hasilnya di data percobaan

5.       Ulangi hal tersebut hingga 15 kali.

3.3 Gambar Percobaan




BAB IV

DATA DAN ANALISA DATA

4.1 Data Percobaan

R2 = 46,2 ohm

R1 = 10 ohm

C = 10 F




4.2 Analisa Data

T1 ON :

T1.1 = 0,693 (R1+R2) C + T1.1 = 0,693 (10+46,4) 10 + 5,88 = 390,852 + 5,88 = 396,732

T1.2 = 0,693 (R1+R2) C + T1.2 = 0,693 (10+46,4) 10 + 4,34 = 390,852 + 4,34 = 395,192

T1.3 = 0,693 (R1+R2) C + T1.3 = 0,693 (10+46,4) 10 + 3,33 = 390,852 + 3,33 = 394,182

T1.4 = 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 2,85 = 390,852 + 2,85 = 393,702

T1.5 = 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 2,43 = 390,852 + 2,43 = 393,282

T1.6 = 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 2,04 = 390,852 + 2,04 = 392,892

T1.7 = 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,85 = 390,852 + 1,85 = 392,702

T1.8 = 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,66 = 390,852 + 1,66 = 392,512

T1.9= 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,53 = 390,852 + 1,53 = 392,382

T1.10 = 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,40 = 390,852 + 1,40 = 392,252

T1.11 = 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,29 = 390,852 + 1,29 = 392,142

T1.12= 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,21 = 390,852 + 1,21 = 392,062

T1.13= 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,13 = 390,852 + 1,13 = 391,982

T1.14 = 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,06 = 390,852 + 1,06 = 391,912

T1.15 = 0,693 (R1+R2) C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,00 = 390,852 +1,00 = 391,852

 

T2 OFF :

T2.1 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 6,25 =  321,552 + 6,25 = 327,802

T2.2 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 4,54 =  321,552 + 4,54 = 326,092

T2.3 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 3,70 =  321,552 + 3,70 = 325,252

T2.4 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 3,12 =  321,552 + 3,12 = 324,672

T2.5 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 2,70 =  321,552 + 2,70 = 324,252

T2.6 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 2,38 =  321,552 + 2,38 = 323,932

T2.7 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 2,12 =  321,552 + 2,12 = 323,672

T2.8 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 1,92 =  321,552 + 1,92 = 323,472

T2.9 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 1,72 =  321,552 + 1,72 =  323,272

T2.10 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 1,58 =  321,552 + 1,58 = 323,132

T2.11= 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 1,47 =  321,552 + 1,47 = 323,022

T2.12 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 1,36 =  321,552 + 1,36 = 322,912

T2.13 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 1,28 =  321,552 + 1,28 = 322,832

T2.14= 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 1,20 =  321,552 + 1,20 = 322,752

T2.15 = 0,693 (R2) C + T1.1 = 0,693 (46,4) 10 + 1,13 =  321,552 + 1,13 = 322,682


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1  Kesimpulan

1.   Untuk mengetahui dan mempelajari serta merakit rangkaian osilator

Osilatorberfungsimengubahdayaarussearah (DC) daricatudayakedayaarusbolak-balik (AC) dalambeban. Osilatorumumnyadigunakandalampemancardanpenerima radio dantv, dalam radar dandalamberbagaisistemkomunikasi. Pesawatpenerima radio dantvjugamenggunakanosilatoruntukmengolahisyarat yang datang.Dengan menggunakan penguat atau dapat digunakan dengan Op-Amp sebagai penguat pembalik. Hal tersebut tidak hanya dapat memperkuat sinyal input, tetapi juga dapat menggeser fasa . Namun, umpan balik dapat menghasilkan osilasi dan kita harus dapat memiliki umpan balik positif dengan jumlah yang cukup. Umpan balik positif dapat terjadi jika hanya tegangan kembali ke fasa dengan sinyal input yang aslinya.


2.   Untuk membuat osilator monostable dan astable

·         Rangkaian Dasar Osilator IC 555 Astabil

    Dalam rangkaian Osilator IC 555 di atas, pin 2 dan pin 6 dihubungkan bersama-sama memungkinkan rangkaian untuk memicu kembali dirinya sendiri pada setiap siklus yang memungkinkannya untuk beroperasi sebagai osilator free-running. Selama setiap siklus kapasitor, C mengisi melalui kedua resistor waktu, R1 dan R2 tetapi melepaskan dirinya sendiri hanya melalui resistor.
Kemudian kapasitor mengisi hingga 2/3Vcc (batas pembanding atas) yang ditentukan oleh kombinasi 0.693 (R1 + R2) C dan melepaskannya sendiri ke 1/3Vcc (batas pembanding yang lebih rendah) yang ditentukan oleh 0.693 (R2*C) kombinasi. Ini menghasilkan bentuk gelombang Output yang level voltasenya kira-kira sama dengan Vcc - 1.5V dan yang periode output "ON" dan "OFF" ditentukan oleh kombinasi kapasitor dan resistor. Oleh karena itu, waktu individual yang diperlukan untuk menyelesaikan satu siklus pengisian dan pengosongan output diberikan.

·         Rangkaian Multivibrator Monostabil 

      Transistor dasar Collector-gabungan Multivibrator Monostabil dan bentuk gelombang yang terkait ditunjukkan di atas. Ketika daya pertama kali diterapkan, base transistor TR2 terhubung ke Vcc melalui resistor biasing, RT dengan demikian mengubah transistor "sepenuhnya-ON" dan menjadi saturasi dan pada saat yang sama mengubah TR1 "OFF" dalam proses. Ini kemudian mewakili rangkaian "Status Stabil" dengan output nol. Arus yang mengalir ke terminal dasar jenuh dari TR2 karena itu akan sama dengan Ib = (Vcc - 0.7)/RT.

3. Osilator berdasarkan metode pengoperasiannya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu osilator balikan dan osilator relaksasi.Namun, pada dasarnya ada empat macam osilator, yaitu osilator RC, osilator LC, osilator Kristal dan osilator relaksasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Malvino, P. A. 2004. Prinsip-Prinsip Elektronika. Jakarta : Erlangga

             Halaman : 362-364                                                

Muis, S. 2017. Penguat Operasional. Yogyakarta: Teknosain

           Halaman : 65-85

Ryder,  J. 1957. Engineering Electronic.Japan : Tosho Insatsu

           Pages : 370-391

Shrader, R. 1977. Electronial Fundamental.New York : McGraw-Hill.

           Pages:120-121

Tooley, M. 2003. Rangkaian Elektronika. Jakarta : Erlangga

            Halaman :154-155   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Interface Input Output - Laporan Interface - FISIKA

  1.1   Latar belakang Jika I/O yang dipetakan dimemori sedang digunakan, seluruh keempat register itu merupakan bagian dari ruang alamat ...