BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengertian
osilator dan prinsip kerjanya – osilator (oscillator) adalah suatu rangkaian
elektronika yang menghasilkan sejumlah getaran atau sinyal listrik secara
periodik dengan amplitudo yang konstan. Gelombang sinyal yang dihasilkan ada
yang berbentuk Gelombang Sinus (Sinusoide
Wave), Gelombang Kotak (Square
Wave) dan Gelombang Gigi Gergaji (Saw Tooth Wave). Pada dasarnya sinyal arus searah atau
DC dari pencatu daya (power
supply) dikonversikan oleh Rangkaian Osilator menjadi sinyal arus
bolak-balik atau AC sehingga menghasilkan sinyal listrik yang periodik dengan
amplitudo konstan.
Osilator mendeskripsikan
rangkaian-rangkaian yang gain membangkitkan gelombang sinus, gelombang per-
segi, dan bentuk-gelombang segitiga. Rangkaian- rangkaian osilator ini
merupakan komponen dasar Seka pembentuk rangkaian clock dan pewaktuan (timing)
serta rangkaian pembangkit sinyal dan fungsi. Pada kita telah melihat bagaimana umpan-balik negatif dapat diterapkan pada
sebuah sehir Vin amplifier untuk membentuk sebuah tahapan- rangkaian (stage)
yang memiliki gain yang ter- kontrol secara akurat.
Bentuk umpan-balik
alternatif, di mana output diumpankan kembali sedemikian rupa sehingga
memperkuat input (bukannya me- nguranginya), dikenal sebagai umpan-balik
positif, memperlihatkan diagram blok dari sebuah
tahapan amplifier yang menerapkan umpan- balik positif. Perhatikan bahwa
amplifier tersebut memberikan pergeseran fase sebesar 180° dan rangkaian
umpan-balik menghasilkan pergeseran lebih lanjut sebesar 180°.
Kondisi-kondisi untuk osilasi (lihat Dari
pembahasan sebelumnya kita dapat menyim- pulkan bahwa kondisi-kondisi untuk
terjadinya osilasi adalah: umpan-balik harus positif (yaitu sinyal yang
diumpankan kembali harus tiba dalam keadaan sefase dengan sinyal di inputnya),
gain tegangan loop keseluruhan harus lebih besar dari satu.
1.2
Tujuan
1.
Untuk mengetahui dan mempelajari serta merakit
rangkaian osilator
2.
Untuk membuat osilator monostable dan astable
3.
Untuk menghitung frekuensi,
waktu, dan duty-cycle
BAB II
LANDASAN TEORI
Osilator Bab ini mendeskripsikan rangkaian-rangkaian yang gain
membangkitkan gelombang sinus, gelombang per- segi, dan bentuk-gelombang
segitiga. Rangkaian- rangkaian osilator ini merupakan komponen dasar Seka
pembentuk rangkaian clock dan pewaktuan (timing) serta rangkaian pembangkit
sinyal dan fungsi. Pada kita telah melihat
bagaimana umpan-balik negatif dapat diterapkan pada sebuah sehir Vin amplifier
untuk membentuk sebuah tahapan- rangkaian (stage) yang memiliki gain yang ter-
kontrol secara akurat.
Bentuk umpan-balik alternatif, di mana output diumpankan
kembali sedemikian rupa sehingga memperkuat input (bukannya me- nguranginya),
dikenal sebagai umpan-balik positif, memperlihatkan
diagram blok dari sebuah tahapan amplifier yang menerapkan umpan- balik
positif. Perhatikan bahwa amplifier tersebut memberikan pergeseran fase sebesar
180° dan rangkaian umpan-balik menghasilkan pergeseran lebih lanjut sebesar
180°. Oleh karena itu, pergeser- an fase totalnya adalah 0°. Gain tegangan keseluruh-
dan Ga V. out Sehi gain ng Mak an diberikan oleh:
Kondisi-kondisi
untuk osilasi (lihat Dari pembahasan sebelumnya kita dapat menyim- pulkan bahwa
kondisi-kondisi untuk terjadinya osilasi adalah: umpan-balik harus positif
(yaitu sinyal yang diumpankan kembali harus tiba dalam keadaan sefase dengan
sinyal di inputnya),gain tegangan loop keseluruhan harus lebih besar dari 1
(yaitu gain amplifier harus cukup besar sehingga melebihi pelemahan yang di-
hasilkan oleh rangkaian umpan-balik yang selektif terhadap frekuensi).
Sehingga, untuk membuat sebuah osilator kita hanya membutuhkan sebuah amplifier
dengan gain yang cukup besar yang dapat mengkompensasi pelema- han dari
rangkaian umpan-balik positif.
Dengan mengasumsikan bahwa amplifier memberikan
per- geseran fase 180°, frekuensi osilasi adalah sedemi- kian rupa sehingga menimbulkan
pergeseran fase 180° pada rangkaian umpan-balik. Sejumlah rang- kaian dapat
digunakan untuk menghasilkan per- geseran fase 180°, salah satu yang paling
sederhana adalah rangkaian tangga C-R tiga-tahap.
Sebagai alternatif, jika amplifier menghasilkan
pergeseran fase 0°, rangkaian tersebut akan berosilasi pada frekuensi yang
sedemikian rupa sehingga menim- bulkan pergeseran fase 0° pada rangkaian umpan-
balik. Dalam kedua kasus tersebut, hal terpenting adalah umpan-balik harus
positif sehingga sinyal output tiba kembali pada input sedemikian rupa sehingga
memperkuat sinyal aslinya. (Tooley,M. 2003) Osilator
nada yang mengacu baik IC 555 A dan B sama-sama menjalankan sebagai
multivibrator astabil, di mana IC 555 B berosilasi dengan frekuensi lebih
tinggi dari IC 555 A dan masing-masing frekuensi masing-masing dapat dilengkapi
dengan potensiometer (variabel R) masing-masing yaitu 1K dan 1M. Frekuensi osilasi masing-masing rangkaian IC
555 dapat di hitung dengan persamaan yang diberikan di atas.
Operasional (Op-Amp) teori lanjutan dan
pemakolan terbuka, maka masing-masing IC 555 berosilasi tetapi jika perlu
ditutup memerlukan 4 input IC 555 maka termasuk rendah, maka IC 555 B dengan
tidak dapat digunakan atau tidak berosilasi tinggi maka IC 555 B berosilasi
sesuai yang diperlukan penyetelan R
variabeinya. pendek keluaran pin 3 IC
555 A dan masukan keluaran pin 3 IC 555 B akan dikeluarkan pecahan oleh penguat
audio atau dengan bantuan trafo pengeras suara.
Osilator Siklus Tugas variabel diselesaikan pada
dengan menambahkan komponen dioda (diode) maupun variabel R, siklus tugas dapat
diperlebar secara variabel, seperti dijelaskan Hal ini terkait pengisian dan
pengosongan kapasitor melalui lintasan oleh dinyatakan dioda DA dan pin 7, sedangkan
pengisian kapasitor dari Vcc melalui RA dan DA.
Osilator bergerak bebas pada IC 2240 diprogram
bekerja sebagai osilator bergerak bebas atau astabil. Pin 10 reset terground jadi IC 2240 sekali
jalan akan tetap dalam siklus menunggu.
Bila catu daya diberikan, RR dan CR akan menggandeng pulsa pemicu sisi
positif ke pin 11 input IC 2240. Pulsa pemicu ini akan menyebabkan IC 2240
mulai osilasinya.setiap perpindahan dari transisi ke luar ke masing-masing
hambatan tariknya (ke + V). Karena
osilator maka keluaran berbentuk gelombang persegi dan frekuensinya dihitung
dengan biner, atau dengan kata lain setiap keluaran kenaikan kelipatan setengah
frekuensi.
Pulsa pada keluaran tergantung pada saklar
program ditutup.Periode pola pulsa ditentukan oleh saklar program terendah yang
ditutup.Contoh : bila saklar 4T (pin 3) dan pin 1 saklar 1T ditutup, pola
pulsanya berulang setiap 2 x 4T =8T det.
Pembangkit sinyal biner dengan memperbaiki, kita
dapat memperoleh gelombang persegi dalam bentuk biner. Modifikasi dilakukan
dengan menggantikan 8 hambatan R ke saklar yang dapat diprogram dan juga dengan
sebuah hambatan R tunggal yang dengan pada, juga hambatan 51 kQ antara deret
keluaran, kemudian terminal reset diri dihilangkan. Lebar pulsa minimum adalah
1T, halnya pada pembahasan di atas bahwa keluaran akan tinggi bila semua pin
keluaran yang dihubungan adalah tinggi, ini terlihat jelas pada. Pengsintesa
Frekuensi Kangkaian pada memungkinkan memberikan salah satu pola pulsa
frekuensi dari 255 frekuensi yang berhubungan, jadi frekuensi keluaran tertentu
dapat diprogram dengan
menutup
saklar-saklar pada keluaran.
Untuk memahami cara kerja rangkaian pada kita
misalkan deretan keluaran menjadi tinggi, hal demikian akan mendorong pin 10
reset ke tinggi dan menggandeng sebuah pulsa sisi negatif ke pin 11 pemicu,
Akibatnya terminal reset menuju ke positif mereset IC 2240 sehingga semua
keluaran menjadi rendah. Pulsa positif pada pin 10 memicu kembali osilator
basis waktu IC 2240, untuk memulai membangkitkan periode waktu yang tergantung
pada posisi saklar keluaran diprogram atau tertutup. Contoh, saklar T dan
saklar 4T ditutup seperti diperlihatkan sedangkan hasil penentuan. (Muis, S. 2017)
Pada
frekuensi di bawah 1 MHz, kita dapat menggunakan osilator RC untut menghasilkan
gelombang sinus yang hampir sempurna.Osilator frekuensi rendah ini menggunakan
penguat operasional dan rangkaian resonansi RC untut menentukan frekuensi
osilasinya.Di atas I MHz, digunakan osilator LC.Osilator frekuens tinggi ini
menggunakan transistor dan rangkaian resonansi LC. Bab ini juga membicarakan
chip yang cukup banyak digunakan yaitu timer 555. LC ini digunakan pada beberapa
oched loop (PLL) aplikasi untuk menghasilkan tunda waktu, osilator vang
dikendalikan tegangan, dan ngkalan dari sinyal keluaran termodulasi. Bab ini
diakhiri dengan rangkaian komunikasi yang disebut dengan phase-locked loop
(PLL).
Teori osilasi sinusoidal untuk membentuk
osilator sinusoidal, kita menggunakan penguat dengan umpan balik positif.Idenya
adalah dengan menggunakan isyarat umpan balik pada sinyal kelvaran. Jika sinyal
umpan balik cukup besar dan mempunyai fase yang benar, akan menyebabkan adanya
sinyal keluaran meskipun tidak ada sinyal masukan eksternal.
Jika pergeseran fase yang melalui penguat dan
rangkatan umpan balik adalah 0, ABD akansefase dengan v Anggap bahwa kita
menghubungkan titik x dengan titik y dan secara simultan membuang sumber
tegangan v Kemudian tegangan umpan balik ABu, mendorong masukan penguat,
seperti terlihat pada Gambar 23-1b. Apa yang terjadi dengan tegangan keluaran?
Jika AB kurang dari 1, ABu akan lebih kecil daripada v dan sinyal keluaran akan
melemah seperti terlihat pada. Akan tetapi jika AB lebih besar daripada 1, ABv
akan lebih besar daripada v dan keluaran akan semakin besar. Jika AB sama
dengan 1, AB akan sama dengan v dan tegangan keluaran adalah gelombang sinus
steady seperti. Pada kasus ini, rangkaian mencatu sinyal masukan sendiri.Pada
beberapa osilator penguatan kalang adalah lebih besar daripada 1 saat power
pertama kali dinyalakan.Tegangan awal yang kecil diberikan pada terminal
masukan, dan kemudian tegangan keluaran membesar, seperti terlihat pada.Setelah
tegangan keluaran mencapai nilai tertentu, AB sccara otomatis berubah menjadi
1, dan nilai puncak ke puncak menjadi konstan.
Tegangan awal adalah derau suhu Dari manakah
tegangan awal berasal?Seperti yang telah dibicarakan setiap resistor terdiri
dari beberapa elektron bebas.Karena suhu yang berubah, elektron bebas ini
bergerak secara acak dalam arah yang berbeda dan menghasilkan tegangan derau
pada resistor.Pergerakarınya adalah secara acak dan mempunyai frekuensi lebih
dari 1000 GHz. Anda dapat memikirkan bahwa tiap-tiap resistor mempunyai sumber
tegangan ac kecil yang menghasilkan semua frekuensi. Pada terjadi proses
sebagai berikut: saat Anda menyalakan power untuk pertama kali, hanya terdapat
derau tegangan yang dibangkitkan oleh resistor yang terdapat pada sistem.
Derau tegangan kemudian dikuatkan dan terdapat
pada terminal output.Derau yang telah dikuatkan, yang terdiri dari semua
frekuensi, memicu rangkaian umpan balik resonansi.Dengan perancangan yang
disengaja, kita dapat membuat penguatan kalang lebih besar daripada 1 dan
pergeseran fase kalang 0° pada frekuensi resonansi.Di atas dan di bawah
frekuensi resonansi, pergeseran fase tidak lagi 0°. Sebagai hasilnya, osilasi
hanya akan membesar pada frekuensi resonansi dari rangkaian umpan balik.
Dimana
tanda minus pada persamaan untuk sudut fase. (Malvino.
A, 2004)
Kriteria
Sirkuit untuk Osilator.Rangkaian dikenal sebagai osilator pelat-disetel. Analisis rangkaian sederhana memerlukan
asumsi arus kisi nol, koefisien tabung konstan, dan bentuk gelombang
sinusoidal, semua persyaratan yang tidak sepenuhnya terpenuhi dalam rangkaian
osilator, yang biasanya beroperasi di Kelas C dengan arus pelat terputus-putus
dan di berbagai daerah dengan koefisien tabung bervariasi. Namun, penggunaan di
sini dari rangkaian ekuivalen triode hanya merupakan pendekatan yang membantu
untuk memahami persyaratan rangkaian, dan tanpa maksud kuantitatif. Sebagai kondisi kedua yang diperlukan untuk
osilasi, puas dengan penyesuaian otomatis frekuensi ke nilai ini, membuat
istilah reaktif nol. Karena R biasanya akan
kecil sehubungan dengan r, frekuensi osilasi akan mendekati frekuensi resonansi
dari sirkuit yang disetel saja. Perlu
dicatat, bagaimanapun, bahwa R termasuk resistansi beban yang digabungkan,
sehingga frekuensi osilator adalah fungsi dari beban osilator.Untuk stabilitas
frekuensi tinggi, diinginkan untuk mengisolasi rangkaian yang disetel osilator
dari efek pemuatan variabel.
Untuk memulai osilasi dengan bias nol gm harus
lebih besar dari nilai yang diberikan.
Selama operasi aktual, arus jaringan mengalir melalui R ,, memberikan
nilai bias yang cukup untuk kondisi Kelas C, dan memberikan rata-rata u dan gm
untuk memenuhi kondisi Barkhausen.
Semakin besar amplitudo osilasi, semakin besar arus grid dan bias jaringan. Bias yang meningkat ini menyebabkan gm jatuh,
mengurangi osilasi anplitude hingga tercapai keseimbangan. Jadi penggunaan bias kebocoran jaringan
memungkinkan nilai gm yang besar pada bias nol untuk memudahkan osilasi, namun
tetap memberikan batasan otomatis amplitudo osilasi. Daya penggerak grid yang rendah dan
stabilitas frekuensi tinggi menentukan nilai R. yang besar, tetapi nilai yang
terlalu tinggi menyebabkan osilasi yang tidak stabil dan terputus-putus.
Sirkuit osilator umpan balik dasar.Berbagai
jenis umpan balik osilator diilustrasikan pada berbeda dalam cara di mana umpan
balik dari piring ke kotak dicapai. Rangkaian memperoleh umpan balik melalui
kopling induktansi bersama, dengan penyetelan pada sirkuit pelat. Rangkaian adalah sebaliknya, dengan
penyetelan pada rangkaian kisi. Sirkuit
ini biasanya digunakan sebagai sumber sinyal lokal pada receiver dan jelas
merupakan osilator jaringan yang disetel,menggunakan kedua tala grid dan plat,
dengan masing-masing kumparan terlindung untuk mencegah kopling induktif.
Umpan balik terjadi melalui kapasitas pelat
kisi-kisi tabung, dan tetrode mungkin tidak berosilasi dengan mudah kecuali
jika kapasitas eksternal paralel ditambahkan.Sirkuit yang disetel dari Q yang
lebih tinggi menentukan frekuensi osilasi.
Karena sirkuit pelat biasanya memasok beban eksternal, sirkuit grid
biasanya akan memiliki Q yang lebih tinggi dan akan mengontrol frekuensi. Sirkuit pelat kemudian dapat disetel untuk
menyesuaikan pelat osilator dan kondisi pengoperasian Kelas C.Rangkaian ini
dikenal sebagai osilator tuned-plate-tuned-grid.
Sirkuit Hartley adalah bentuk yang populer,
dengan umpan balik yang diperoleh melalui hubungan timbal balik antara dua
bagian induktansi. Posisi keran katoda
dapat disesuaikan untuk mengontrol besarnya tegangan penggerak jaringan dan
output serta efisiensi osilator. Bentuk
umpan-seri dari biasanya tidak digunakan karena keperluan untuk membagi koil
tangki. Bentuk shunt dari biasanya
digunakan, choke frekuensi tinggi yang mencegah frekuensi tinggi. (Ryder,
J. 1957)
Untuk
sumber gf khusus ini, dan sumber tidak lagi diperlukan untuk memberi makan
energi ke sirkuit LC. Sirkuit LC
berfungsi sebagai tangki di mana elektron terus-menerus dipindahkan dari
kapasitor ke koil dan kembali lagi, Karena tidak ada resistansi, tidak ada oss
energi, dan secara teori dimungkinkan untuk melepaskan LC sirkuit tangki dari sumber dan elektron akan
terus berosilasi bolak-balik di antara frekuensi pada saat sirkuit tersebut
merupakan antiresonant.
Pada kapasitor telah dibebankan ke tegangan
maksimum dengan menyentuhnya sesaat di sumber.Satu piring negatif dan yang
lainnya positif, dan energi disimpan dalam bentuk eiectrostatic di dielektrik
kapasitor. Pada elektron dari playa
negatif kapasitor mulai mengalir melalui koil ke plat positif. Ketika mereka mengalir melalui koil, mereka
mengembangkan medan magnet, menyimpan beberapa energi mereka di bidang
ini. Pada waktu tercapai ketika ada
banyak elektron yang ada di pelat atas kapasitor seperti di bagian bawah, dan
gf melintasi kapasitor, dan sirkuit, adalah nol.Pada saat ini, arus mencapai
maksimum (jumlah maksimum elektron yang bergerak per detik).
Semua energi kini telah meninggalkan kapasitor
sekunder menunjukkan bahwa koefisien kopling k antara dua kumparan juga
variabel. Ada empat koefisien kopling
yang menarik: Jika k berada dalam kisaran 0,005, kopling mungkin disebut kopling
kurang; atau longgar. Jika k adalah 0,05
atau lebih, kopling mungkin disebut overcoupling, atau ketat. Di mana-mana
antara kopling longgar dan ketat adalah gelar yang disebut kopling kritis.Tingkatan
kopling antara kritis dan ketat dapat disebut kopling transisional atau
flat-top.Tingkat kopling menentukan respons frekuensi, tegangan output,
impedansi primer, dan arus primer.grafik tegangan keluaran versus frekuensi
untuk empat derajat kopling. Pada arus
primer diplot terhadap frekuensi untuk berbagai derajat sambungan, dengan nilai
Q yang sama.
Pada kapasitor telah dibebankan ke tegangan
maksimum dengan menyentuhnya sesaat di sumber.Satu piring negatif dan yang
lainnya positif, dan energi disimpan dalam bentuk eiectrostatic di dielektrik
kapasitor. Pada elektron dari playa
negatif kapasitor mulai mengalir melalui koil ke plat positif. Ketika mereka mengalir melalui koil, mereka
mengembangkan medan magnet, menyimpan beberapa energi mereka di bidang
ini. Pada waktu tercapai ketika ada
banyak elektron yang ada di pelat atas kapasitor seperti di bagian bawah, dan
gf melintasi kapasitor, dan sirkuit, adalah nol.Pada saat ini, arus mencapai
maksimum (jumlah maksimum elektron yang bergerak per detik). (Shrader.
R, 1977)
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1
Komponen dan Peralatan
3.1.1 Komponen dan Fungsi
1. IC Timer 555
Fungsi: Sebagai
multivibrator dan untuk membuat modulator lebar pulsa
2. Resistor 1 (Kꭥ)
Fungsi: Sebagai
tahanan atau hambatan aliran listrik
3. Kapasitor 10 (μF)
Fungsi: Sebagai
pengatur waktu
4. LED
Fungsi: Sebagai
indikator cahaya
5. Potensiometer
Fungsi: Sebagai
pembagi tegangan
3.1.1 Peralatan dan Fungsi
1.
Protoboard
Fungsi: Sebagai tempat merangkai sementara
2.
Jumper
Fungsi: Untuk menghubungkan komponen dalam
rangkaian
3.
Multimeter Dgital
Fungsi: Sebagai alat untuk mengukur besar
hambatan, tegangan dan arus pada
rangkaian
4.
Stopwatch
Fungsi: Untuk menghitung waktu terjadinya
osilasi
5.
Baterai
Fungsi: Sebagai sumber listrik
3.2
Prosedur Percobaan
1.
Siapkan peralatan
dan bahan yang akan digunakan.
2.
Rangkailah
peralatan dan bahan tersebut di protoboard
3.
Setelah
dirangkai, kemudian ukurlah berapa hambatan yang ada di potensiometer
menggunakan multimeter digital
4.
Lalu amati LED,
lihat berapa detik LED mati dan menyala
menggunakan stopwatch
dan catat hasilnya di data percobaan
5. Ulangi hal tersebut hingga 15 kali.
3.3 Gambar Percobaan
BAB IV
DATA DAN
ANALISA DATA
4.1 Data Percobaan
R2
= 46,2 ohm
R1
= 10 ohm
C
= 10 F
4.2 Analisa Data
T1 ON :
T1.1 = 0,693 (R1+R2)
C + T1.1 = 0,693 (10+46,4) 10 + 5,88 = 390,852 + 5,88 = 396,732
T1.2 = 0,693 (R1+R2)
C + T1.2 = 0,693 (10+46,4) 10 + 4,34 = 390,852 + 4,34 = 395,192
T1.3 = 0,693 (R1+R2)
C + T1.3 = 0,693 (10+46,4) 10 + 3,33 = 390,852 + 3,33 = 394,182
T1.4 = 0,693 (R1+R2)
C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 2,85 = 390,852 + 2,85 = 393,702
T1.5 = 0,693 (R1+R2)
C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 2,43 = 390,852 + 2,43 = 393,282
T1.6 = 0,693 (R1+R2)
C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 2,04 = 390,852 + 2,04 = 392,892
T1.7 = 0,693 (R1+R2)
C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,85 = 390,852 + 1,85 = 392,702
T1.8 = 0,693 (R1+R2)
C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,66 = 390,852 + 1,66 = 392,512
T1.9= 0,693 (R1+R2)
C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,53 = 390,852 + 1,53 = 392,382
T1.10 = 0,693 (R1+R2)
C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,40 = 390,852 + 1,40 = 392,252
T1.11 = 0,693 (R1+R2)
C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,29 = 390,852 + 1,29 = 392,142
T1.12= 0,693 (R1+R2)
C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,21 = 390,852 + 1,21 = 392,062
T1.13= 0,693 (R1+R2)
C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,13 = 390,852 + 1,13 = 391,982
T1.14 = 0,693 (R1+R2)
C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,06 = 390,852 + 1,06 = 391,912
T1.15 = 0,693 (R1+R2)
C + T1.4 = 0,693 (10+46,4) 10 + 1,00 = 390,852 +1,00 = 391,852
T2 OFF :
T2.1 = 0,693 (R2) C + T1.1
= 0,693 (46,4) 10 + 6,25 = 321,552 +
6,25 = 327,802
T2.2 = 0,693 (R2) C + T1.1
= 0,693 (46,4) 10 + 4,54 = 321,552 +
4,54 = 326,092
T2.3 = 0,693 (R2) C + T1.1
= 0,693 (46,4) 10 + 3,70 = 321,552 +
3,70 = 325,252
T2.4 = 0,693 (R2) C + T1.1
= 0,693 (46,4) 10 + 3,12 = 321,552 +
3,12 = 324,672
T2.5 = 0,693 (R2) C + T1.1
= 0,693 (46,4) 10 + 2,70 = 321,552 +
2,70 = 324,252
T2.6 = 0,693 (R2) C + T1.1
= 0,693 (46,4) 10 + 2,38 = 321,552 +
2,38 = 323,932
T2.7 = 0,693 (R2) C + T1.1
= 0,693 (46,4) 10 + 2,12 = 321,552 +
2,12 = 323,672
T2.8 = 0,693 (R2) C + T1.1
= 0,693 (46,4) 10 + 1,92 = 321,552 +
1,92 = 323,472
T2.9 = 0,693 (R2) C + T1.1
= 0,693 (46,4) 10 + 1,72 = 321,552 +
1,72 = 323,272
T2.10 = 0,693 (R2) C + T1.1
= 0,693 (46,4) 10 + 1,58 = 321,552 +
1,58 = 323,132
T2.11= 0,693 (R2) C + T1.1
= 0,693 (46,4) 10 + 1,47 = 321,552 +
1,47 = 323,022
T2.12 = 0,693 (R2) C + T1.1
= 0,693 (46,4) 10 + 1,36 = 321,552 +
1,36 = 322,912
T2.13 = 0,693 (R2) C + T1.1
= 0,693 (46,4) 10 + 1,28 = 321,552 +
1,28 = 322,832
T2.14= 0,693 (R2) C + T1.1
= 0,693 (46,4) 10 + 1,20 = 321,552 +
1,20 = 322,752
T2.15 = 0,693 (R2) C + T1.1
= 0,693 (46,4) 10 + 1,13 = 321,552 +
1,13 = 322,682
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Untuk mengetahui dan mempelajari serta
merakit rangkaian osilator
Osilatorberfungsimengubahdayaarussearah (DC) daricatudayakedayaarusbolak-balik
(AC) dalambeban. Osilatorumumnyadigunakandalampemancardanpenerima radio dantv,
dalam radar dandalamberbagaisistemkomunikasi. Pesawatpenerima radio
dantvjugamenggunakanosilatoruntukmengolahisyarat yang datang.Dengan
menggunakan penguat atau dapat digunakan dengan Op-Amp sebagai penguat
pembalik. Hal tersebut tidak hanya dapat memperkuat sinyal input, tetapi juga
dapat menggeser fasa
2. Untuk
membuat osilator monostable
dan astable
·
Rangkaian Dasar
Osilator IC 555 Astabil
Dalam
rangkaian Osilator IC 555 di atas, pin
2 dan pin 6 dihubungkan bersama-sama memungkinkan rangkaian untuk memicu
kembali dirinya sendiri pada setiap siklus yang memungkinkannya untuk
beroperasi sebagai osilator free-running. Selama setiap siklus kapasitor, C
mengisi melalui kedua resistor waktu, R1 dan R2 tetapi melepaskan dirinya
sendiri hanya melalui resistor.
Kemudian kapasitor mengisi hingga 2/3Vcc (batas
pembanding atas) yang ditentukan oleh kombinasi 0.693 (R1 + R2) C dan
melepaskannya sendiri ke 1/3Vcc (batas pembanding yang lebih rendah) yang
ditentukan oleh 0.693 (R2*C) kombinasi. Ini menghasilkan bentuk gelombang
Output yang level voltasenya kira-kira sama dengan Vcc - 1.5V dan yang periode
output "ON" dan "OFF" ditentukan oleh kombinasi kapasitor
dan resistor. Oleh karena itu, waktu individual yang diperlukan untuk
menyelesaikan satu siklus pengisian dan pengosongan output diberikan.
· Rangkaian Multivibrator Monostabil
Transistor dasar Collector-gabungan Multivibrator Monostabil dan bentuk gelombang yang terkait ditunjukkan di atas. Ketika daya pertama kali diterapkan, base transistor TR2 terhubung ke Vcc melalui resistor biasing, RT dengan demikian mengubah transistor "sepenuhnya-ON" dan menjadi saturasi dan pada saat yang sama mengubah TR1 "OFF" dalam proses. Ini kemudian mewakili rangkaian "Status Stabil" dengan output nol. Arus yang mengalir ke terminal dasar jenuh dari TR2 karena itu akan sama dengan Ib = (Vcc - 0.7)/RT.
3. Osilator berdasarkan metode pengoperasiannya dapat dikelompokkan menjadi
dua, yaitu osilator balikan dan osilator relaksasi.Namun, pada dasarnya ada empat macam osilator, yaitu osilator RC, osilator LC, osilator Kristal dan osilator relaksasi.
DAFTAR PUSTAKA
Malvino, P. A. 2004. Prinsip-Prinsip Elektronika.
Jakarta : Erlangga
Halaman : 362-364
Muis, S. 2017. Penguat Operasional. Yogyakarta: Teknosain
Halaman : 65-85
Ryder, J. 1957. Engineering Electronic.Japan : Tosho
Insatsu
Pages : 370-391
Shrader, R. 1977. Electronial
Fundamental.New York : McGraw-Hill.
Pages:120-121
Tooley, M. 2003. Rangkaian Elektronika. Jakarta : Erlangga
Halaman :154-155



Tidak ada komentar:
Posting Komentar