Sabtu, 18 September 2021

thysistor (SCR) - laporan praktikum ELektronika DASar - FISIKA

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

        Thyristor adalah komponen elektronika yang berfungsi sebagai saklar (switch) atau pengendali yang terbuat dari bahan semikonduktor. Thyristor yang secara ekslusif bertindak sebagai saklar ini pada umumnya memiliki dua hingga empat kaki terminal. Meskipun terbuat dari semikonduktor, Thyristor tidak digunakan sebagai Penguat sinyal seperti Transistor. Istilah “Thyristor” berasal dari bahasa Yunani yang artinya adalah “Pintu”.

Pada prinsipnya, Thyristor yang berterminal tiga akan menggunakan arus/tegangan rendah yang diberikan pada salah satu kaki terminalnya untuk mengendalikan aliran arus/tegangan tinggi yang melewati dua terminal lainnya. Sedangkan untuk Thyristor yang berterminal dua yang tidak memiliki terminal kendali (GATE), fungsi saklarnya akan diaktifkan apabila tegangan pada kedua terminalnya mencapai level tertentu.

Level tegangan yang dimaksud tersebut biasanya disebut dengan Breakdown Voltage atau Breakover Voltage. Pada saat dibawah tegangan breakdownnya, kedua kaki terminal tidak akan mengaliri arus listrik atau berada di posisi OFF.

Membahas mengenai Saklar (Switch) elektronik, pada dasarnya kita juga dapat menggunakan Transistor. Namun jika dibandingkan dengan Transistor, Thyristor yang didedikasi sebagai Komponen Saklar ini akan dapat berfungsi lebih baik. Hal ini dikarenakan Transistor memerlukan tegangan/arus yang tepat untuk mengoperasikan fungsi saklarnya, jika tegangan/arus yang diberikannya tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan maka Transistor tersebut akan berada diantara keadaan ON dan OFF. Saklar yang berada diantara keadaan ON dan OFF bukanlah suatu saklar yang baik.

1.2   Tujuan

1.         Untuk mengetahui cara kerja dari SCR penyearah.

2.         Untuk mengetahui aplikasi dari SCR.

3.         Untuk mengetahui cara penggunaan SCR sebagai switching.

4.         Untuk mengetahui fungsi peralatan dan komponen.

BAB II

LANDASAN TEORI

Apa itu Perangkat Kerusakan?  Ini adalah perangkat solid-state yang kerjanya tergantung pada fenomena longsoran salju.  Mereka kadang-kadang disebut dengan nama generik thyristor yang merupakan saklar semikonduktor yang tindakan bistable tergantung pada umpan balik regeneratif P-N-P-N. Kita akan membahas perangkat berikut: Unijunction Transistor (UJT), Silicon Controlled Rectifier (SCR), Triac (kependekan dari 'triode ac'), Diac (kependekan dari 'diode ac'), Silicon Controlled Switch (SCS).

            Perangkat ini memiliki dua atau lebih persimpangan dan dapat dinyalakan atau dimatikan pada tingkat yang sangat cepat. Mereka juga disebut sebagai perangkat latching. Sebuah gerendel adalah sejenis saklar yang awalnya ditutup, tetap tertutup sampai seseorang membukanya. Unijunction Transistor Pada dasarnya, ini adalah dioda silikon tiga terminal. Seperti namanya, itu hanya memiliki satu persimpangan P-N.  Ini berbeda dari dioda biasa karena ia memiliki tiga lead dan berbeda dari FET dalam hal ia tidak memiliki kemampuan untuk transistor Unijunction.

            Namun, ia memiliki kemampuan untuk mengontrol karakteristik resistansi daya negatif yang besar yang membuatnya berguna sebagai OSE (a) Konstruksi. Ini terdiri dari panel yang didoping ringan dengan tipe-D yang didoping.  Aterial paduan ke satu sisi (B lebih dekat,) untuk menghasilkan persimpangan PN tunggal A ditunjukkan pada Gambar. 27.1 (a), ada tiga Eminals: satu emitor, E dan dua basis dan B, di bagian atas dan bawah bilah licon  .  Kaki emitor ditarik pada sudut n ke vertikal dan panah menunjukkan arah arus konvensional.

            UJT dalam kondisi konduksi. Interbase Resistance (RRR) ,Basis Emitor Silikon bar B, Basis Ini adalah perlawanan antara B, dan B, yaitu, itu adalah resistensi total dari bar silikon dari satu ujung ke ujung lainnya dengan terminal emitor terbuka . Dari rangkaian ekivalen Gambar 27.2 (b), terlihat bahwa Rap = R2 + R Perlu dicatat juga bahwa titik A sedemikian rupa sehingga E. RB> R2 Biasanya, R = 60% dari Rpp: (c) Intrinsik  Rasio Stand-off Seperti yang terlihat pada Gambar 27.3 (a), ketika baterai 30 V diterapkan pada B, B, ada penurunan tegangan secara progresif terhadap RBn asalkan E terbuka.                              (Theraja, 2005)

Thyristor pada kondisi ini disebut berada pada keadaan konduksi atau keadaan hidup. Tegangan jatuh yang terjadi dikarena tegangan ohmic antara empat layer dan biasanya cukup kecil sekitar 1 V. Pada keadaan on, arus anode dibatasi oleh resistansi atau impedansi luar RL. Arus anode harus lebih besar dari suatu nilai yang disebut menemp latching current IL, agar diperoleh cukup banyak aliran pembawa muatan bebas yang melewati sambungan-sambungan;  jika tidak devais akan kembali ke kondisi blocking ketika tegangan anode ke katode berkurang. Latching current  IL, adalah arus anode minimum yang diperlukan agar dapat membuat thyristor tetap pada kondisi hidup begitu suatu thyristor telah dihidupkan dan sinyal gerbang dihilangkan. 

            Karakteristik v-i umum dari suatu thyristor. Ketika berada pada kondisi on, thyristor akan bertindak seperti diode yang tidak dapat dikontrol. Devais ini akan terus berada pada kondisi on karena tidak ada lapisan deplesi pada sambungan J2, karena pembawa-pembawa muatan yang bergerak bebas. Akan tetapi, jika arus maju anode berada di bawah suatu tingkatan yang disebut holding curent LH, daerah deplesi akan terbentuk di sekitar J2, karena adanya pengurangan banyak pembawa muatan bebas dan thyristor akan berada pada keadaan blocking.

            Holding current terjadi pada orde milliamper dan lebih kecil dari latching current IL,IH>IL. Holding current  IH adalah arus anoda minimum untuk mempertahankan thyristor pada kondisi on. thyristor keadaan tunak (0,91T). Ton adalah jumlah tunda td, dan waktu mulai t1,td didefenisikansebagai interval waktu antara 10% arus gerbang (0,1IG) dan 10% arus keadaan on thyristor (0,1IT).tr adalah waktu yang diperlukan agar arus anoda naik dari 10% arus keadaan on thyristor (0,1IT) ke 90% arus keadaan on thyristor (0,9IT). Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan ketika merancang rangkaian kendali gerbang: Sinyal gerbang harus dihilangkan setelah thyristor dihidupkan. Suatu sinyal penggerbangan kontinyuakan meningkatkandaya yang terbuang di sambung gerbang.

            Ketika thyristor pada kondisi reverse bias, tidak boleh ada sinyal gerbang; jika ada sinyal gerbang, thyristor akan rusak karena peningkatan arus bocor. Lebar pulsa gerbang tG harus lebih lama dari waktu yang diperlukan untuk arus anoda meningkat ke nilai arus holding IH. Secara praktis, lebar pulsa TG dapat biasanya diambil lebih dari waktu ton  dari rhyristor. Suatu thyristor memerlukan waktu minimum untuk menyebarkan kondisi tersambung ke semua sambungannya secara merata.  Jika peningkatan arus anode lebih cepat dibandingkan kecepatan penyebaran dari proses turn-on, titik-titik pemanasan akan terjadi pada devais karena adanya daerah-daerah dengan kepadatan arus yang tinggi dan devais akan rusak sebagai hasil dari suhu yang berlebihan. Pada prakteknya, devais harus diproteksi terhadap di/dt yang tinggi. Pada keadaan lunak.  Din tersambung ketika thyristor T1 off. Jika T1, dihidupkan (fired), ketika Din, masih tersambung  di/dt akan sangat tinggi dan terbatas hanya oleh induktansi stray dari rangkaian. Thyristor yang berada dalam kondisi on dapat dimatikan dengan mengurangi arus maju ke tingkat di bawah arus holding IH. Ada beberapa variasi teknik untuk membuat thyristor off.                                                        (Rashid, 1999)

Dioda adalah suatu komponen elektronik yang dapat melewatkan arus pada arah saja. Ada berbagai macam dioda,yaitu dioda tabung, dioda sambungan p-n, dioda kontak titik dan sebagainya. Dalam hal ini kita akan membatasi pembahasan pada dioda sambungan p-n, khususnya dioda penyearah, dioda isyarat dan dioda zener.

            Dioda memegang peranan amat penting dalam elektronika, diantaranya  adalah untuk menghasilkan tegangan searah dari tegangan bolak-balik, untuk mengesan gelombang radio, untuk membuat berbagai bentuk gelombang isyarat, untuk mengatur tegangan searah agar tidak berubah dengan beban maupun dengan perubahan tegangan jala-jala (PLN), untuk saklar elektronik, LED, laser semikonduktor , mengesan gelombang mikro dan lain-lain. Beberapa pengertian dasar daripada dioda sambungan p-n digunakan pada transistor, sehingga apabila kita menguasai pengertian dasar dioda akan mudah pula kita memahami sifat transistor.

            Tanda + dan – dalam kotak persegi menyatakan pembawa muatan intrinsik yaitu yang  berasal dari ikatan kovalen pada atom silikon, yang menjadi bebas oleh karena eksitasi termal. Pembawa muatan yang lain adalah muatan bebas, yaitu lubang yang dihasilkan oleh atom akseptor pada bahan jenis-p, dan elektron bebas yang berasal dari atom donor. Pembawa muatan bebas ini adalah pembawa muatan ekstrinsik.

            Elektron bebas pada bahan jenis-n akan berdifusi melalui sambungan’ masuk kedalam bahan jeni-p, dan terjadi rekombinasi dengan lubang-lubang yang ada dalam bahan p. Sebaliknya juga terjadi, yaitu lubang bahan p berdifusi masuk kedalam bahan n, dan berrekombinasi dengan elektron dan saling meniadakan muatan. Akibatnya, tepat pada sambungan p-n terjadi daerah tanpa muatan bebas, yang disebut daerah pengosongan. Oleh karena muatan positif terpisah dari muatan negatif, maka dalam daerah pengosongan terjadi medan listrik, yang melawan proses difusi selanjutnya. Dengan adanya medan listrik ini terjadi beda potensial listrik atau bukit potensial antara bagian p-n dalam daerah pengosongan. Sebaran muatan, kuat medan listrik dan potensial listrik pada sambungan p-n dilukiskan pada gambar.

            Adanya kuat medan listrik menyebabkan terjadinya bukit potensial pada sambungan p-n. Agar suatu elektron dalam bahan n dapat menyebrangi sambungan haruslah elektron tersebut mempunyai energi lebih besardari bukit potensial yaitu muatan elektron. Pada keadaan ini terjadi aliran arus minoritas, yaitu lubang yang ada di jenis n dan elektron bebas yang ada di jenis p. Yang tidak dihalangi oleh bukit potensial, akan tetapi dibantu untuk menyebrang sambugan. Pada saat yang sama, lubang yang ada dijenis p yaitu pembawa muatan mayoritas ada juga  yang mempunyai cukup energi untuk enyebrang sambungan. Dalam keadaan mantap kedua aliran ini saling meniadakan.                            (Sutrisno, 1986)

SCR adalah perangkat empat lapis dengan tiga terminal, yaitu, anoda, katoda, dan gerbang. Ketika anoda dibuat positif sehubungan dengan katoda, persimpangan J2  adalah bias terbalik dan hanya arus bocor yang akan mengalir melalui SCR kemudian dikatakan berada dalam keadaan blok maju atau mati. Ketika katoda dibuat positif sehubungan dengan anoda, persimpangan J1 dan J3 terbalik bias dan arus bocor balik kecil akan mengalir melalui SCR. Ini adalah keadaan pemblokiran terbalik perangkat. Ketika anoda ke katoda tegangan meningkat, persimpangan reverse-bias J2 akan rusak karena gradien tegangan besar melintasi lapisan penipisan. Ini adalah kerusakan longsoran salju. Karena persimpangan lainnya J1 dan J3 adalah bias maju. Gambar 2.1 menunjukkan karakteristik SCR. Pada keadaan aktif, arus dibatasi oleh impedansi eksternal. Jika tegangan anoda ke katoda sekarang berkurang, karena lapisan penipisan asli dan persimpangan bias-balik J2 tidak ada lagi karena pergerakan bebas dari operator, perangkat akan terus tetap hidup. Ketika arus maju turun di bawah level  Ihsaat ini, daerah penipisan akan mulai berkembang di sekitar J2  karena berkurangnya jumlah operator dan perangkat akan pergi ke status pemblokiran. Demikian pula, ketika SCR dihidupkan, arus maju yang dihasilkan harus lebih dari arus penguncian I1 .Hal ini diperlukan untuk mempertahankan jumlah arus pembawa yang diperlukan. oss persimpangan, jika tidak, perangkat akan kembali ke status pemblokiran segera setelah anoda ke katoda tegangan berkurang.

Ketika SCR dibiaskan terbalik, perangkat akan berperilaku dengan cara yang sama seperti dua dioda yang terhubung secara seri dengan tegangan balik yang diterapkan di atasnya. Dua bagian dalam SCR akan diolah sedikit dibandingkan dengan lapisan luar. Oleh karena itu, forward breakover voltage VBO akan secara umum lebih tinggi daripada reverse breakover voltage VBR. Dari diskusinya di atas, dapat dilihat bahwa SCR memiliki dua kondisi operasi yang stabil dan dapat dibalik. Pergantian dari off-state ke on-state, disebut turn-on , dicapai dengan meningkatkan tegangan maju di luar VBO. Transisi balik, disebut turn-off, dibuat dengan mengurangi arus maju di bawah Ih. Metode yang lebih nyaman dan berguna untuk menyalakan perangkat menggunakan drive gerbang. Jika tegangan maju kurang dari VBO diterapkan pada perangkat, itu dapat dihidupkan dengan menerapkan tegangan positif antara gerbang dan katoda. Metode ini dikenal sebagai kontrol gerbang.                            (Rio, 1999)

Hubungan p-n merupakan dasar dari elektronik semikonduktor.Sifat hubungan p-n dimengerti benar, ini penting karena merupakan kunci agar dapat memahami elektronik semikonduktor. Hubungan p-n tidak bias dibentuk hanya dengan menghubungkan semikonduktor tipe p dan tipe n begitu saja. Akan didapat hubungan p-n bila kita rubah sebagian dari substrat kristal menjadi tipe-n dengan menambah donor dan bagian yang lain menjadi tipe-p dengan menambah aseptor.

Gambar 2.2 menggambarkan hubungan tepat sesudah terbentuk ;aseptor membentuk semikonduktor tipe-p dan donor membentuk tipe-n yang disertai dengan jumlah hole dan electron yang sama ,dan kedua daerah itu sifat listriknya netral.Hole dan electron itu merupakan pembawa bebas yang dapat dinaikkan tingkatannya  ke jalur konduksi dan juga dapat dalam jalur valensi. Pembawa-pembawa ini berdifusi ke daerah yang mempunyai konsentrasi rendah dan berekombinasi satu sama lain.

Hubungan p-n merupakan dasar dari elektronik semikonduktor.Sifat hubungan p-n dimengerti benar, ini penting karena merupakan kunci agar dapat memahami elektronik semikonduktor. Hubungan p-n tidak bias dibentuk hanya dengan menghubungkan semikonduktor tipe p dan tipe n begitu saja. Akan didapat hubungan p-n bila kita rubah sebagian dari substrat kristal menjadi tipe-n dengan menambah donor dan bagian yang lain menjadi tipe-p dengan menambah aseptor. Hubungan p-n merupakan dasar dari elektronik semikonduktor.Sifat hubungan p-n dimengerti benar, ini penting karena merupakan kunci agar dapat memahami elektronik semikonduktor. Hubungan p-n tidak bias dibentuk hanya dengan menghubungkan semikonduktor tipe p dan tipe n begitu saja.

Misalnya, karena hole dalam tipe-p lebih tinggi konsentrasinya daripada hole dalam tipe-n,mereka berdifusi dari daerah tipe-p ke tipe-n. Ambilah misalnya pada hole,bila ia meninggalkan daerah tipe-p dan hilang ke dalam daerah tipe-n karena berekombinasi,sebuah aseptor akan diionisasikan menjadi negatif dalam daerah tipe-p itu,yang membentuk  muatan ruang negatif. Medan listrik ini menghambat hole untuk berdifusi dari daerah tipe-p ke tipe-n,demikian juga pada elektron terhambat berdifusi dari tipe-n ke tipe-p.Dalam keadaan seimbang dialam hubungan p-n terbentuk daerah:

1.       Daerah tipe-p netral: daerah di mana jumlah hole sama dengan jumlah asepto,

2.       Daerah muatan ruang tipe-p: daerah di mana aseptor diionisasikan negative

3.       Daerah muatan ruang tipe-n: daerah dimana donor diionisasikan positif

4.       Daerah tipe-n netral: daerah dimana jumlah donor sama dengan jumlah elektron

Daerah daerah 2 dan 3 bersama sama disebut daerah muatan ruang atau lapisan deplesi atau dipole listrik.                                                                                             (Ramamoorty, 1977)

BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

1.    Komponen dan Peralatan

3.1.1 Komponen dan Fungsi

1.       SCR 2P4M

Fungsi: sebagai switching atau saklar pada rangkaian

2.       Resistor (220)

Fungsi: sebagai penghambat arus

3.       Saklar (2 buah)

Fungsi: untuk menghidupkan dan mematikan LED

4.       LED

Fungsi: sumber cahaya

5.       Resistor 200 K

Fungsi: penghambat arus

 

3.1.2 Peralatan dan Fungsi

1.       Protoboard

Fungsi : tempat merangkai percobaan

2.         Multimeter

Fungsi: untuk mengukur arus dan tegangan

3.       Jumper

Fungsi: untuk menghubungkan antarkomponen

4.         Power Supply

Fungsi: sebagai sumber tegangan

6.         Baterai

Fungsi: penyimpan tegangan

3.2 Prosedur Percobaan

      1. Dipersiapkan semua peralatan dan komponen.

     2. Dipasang SCR pada papan protoboard

     3. Dipasang Switch 1 pada protoboard dan Switch 2 dipasang pada kaki 3 SCR (katoda)

4.  Dipasang LED dan resistor 200 K pada protoboard pada arah yang sama

5. Dihubungkan baterai pada kaki LED dan Switch 2

6. Dihubungkan PSA dengan Anoda dipasang di Switch 1 sedangkan Katoda dipasang di Switch 2.

7. Digunakan jumper untuk menghubungkan LED dengan Ground

8. Dihitung tegangan yang dihasilkan LED dengan menghubungkan jumper pada ground dan kaki LED

9. Hasil bisa dilihat pada multimeter

 

4.2 Analisa Data

1.       1. Jelaskan pengertian thysistor dan jenis-jenisnya!

Pengertian Thyristor adalah komponen elektronika yang berfungsi sebagai saklar (switch) atau pengendali yang terbuat dari bahan semikonduktor. Thyristor yang secara ekslusif bertindak sebagai saklar ini pada umumnya memiliki dua hingga empat kaki terminal. Meskipun terbuat dari semikonduktor, Thyristor tidak digunakan sebagai Penguat sinyal seperti Transistor. Istilah Thyristor berasal dari bahasa Yunani yang artinya adalah pintu.Pada prinsipnya, Thyristor yang berterminal tiga akan menggunakan arus/tegangan rendah yang diberikan pada salah satu kaki terminalnya untuk mengendalikan aliran arus/tegangan tinggi yang melewati dua terminal lainnya. Sedangkan untuk Thyristor yang berterminal dua yang tidak memiliki terminal kendali (GATE), fungsi saklarnya akan diaktifkan apabila tegangan pada kedua terminalnya mencapai level tertentu. Level tegangan yang dimaksud tersebut biasanya disebut dengan Breakdown Voltage atau Breakover Voltage. Pada saat dibawah tegangan breakdownnya, kedua kaki terminal tidak akan mengaliri arus listrik atau berada di posisi OFF.

2. Jenis-jenis Thyristor :

a.       SCR adalah jenis Thyristor yang memiliki tiga kaki terminal yang masing-masing terminal dinamai dengan GATE, ANODA dan KATODA. Secara struktur, SCR terdiri dari 4 lapis semikonduktor yaitu PNPN yang terminal pengendalinya terdapat pada lapisan P (Positif).

b.       SCS (Silicon Controlled Switch) merupakan jenis Thyristor yang memiliki 4 kaki terminal yaitu terminal GATE, ANODE GATE, ANODE dan CATHODE. Sama seperti SCR, SCS atau Silicon Controlled Switch juga berfungsi sebagai Saklar.

c.       Triode from Alternating Current (TRIAC) adalah Thyristor yang berkaki terminal tiga yang masing-masing terminalnya dinamai dengan GATE, MI1 dan MI2. Setelah dipicu (trigger) menjadi ON, TRIAC mampu menghantarkan arus listrik dari kedua arah. Oleh karena itu, TRIAC sering disebut juga dengan Bidirectional Triode Thyristor.

d.       Diode Alternating Current (DIAC) adalah Thyristor yang hanya memiliki dua kaki terminal dan dapat menghantar arus listrik dari kedua arah apabila tegangan melampaui batas tegangan breakovernya (tegangan breakdown). DIAC sering disebut juga dengan Bidirectional Thyristor.

 

2.      3.  Jelaskan perbedaan NPN dan PNP!

a.       pada transistor PNP kaki kolektor selalu terhubung dengan tegangan negatif sedangkan pada transistor NPN kaki kolektor selalu terhubung dengan tegangan positif

b.       kaki emitor pada transistor PNP akan mengeluarkan arus negatif sedangkan pada transistor NPN mengeluarkan tegangan positif

c.       kaki basis pada transistor PNP dikontrol dengan menggunakan tegangan negatif sedangkan pada transistor NPN dikontrol menggunakan tegangan positif.

3.      4.  Sebutkan karakteristik dan prinsip kerja thysistor (SCR)!

Karaktristik tegangan versus arus ini diperlihatkan bahwa thyristor mempunyai 3 keadaan atau daerah, yaitu :

a.       Keadaan pada saat tegangan balik (daerah I)

b.       Keadaan pada saat tegangan maju (daerah II)

c.       Keadaan pada saat thyristor konduksi (daerah III)      

Pada daerah I, thyristor sama seperti diode, dimana pada keadaan ini tidak ada arus yang mengalir sampai dicapainya batas tegangan tembus (Vr). Pada daerah II terlihat bahwa arus tetap tidak akan mengalir sampai dicapainya batas tegangan penyalaan (Vbo). Apabila tegangan mencapai tegangan penyalaan, maka tiba – tiba tegangan akan jatuh menjadi kecil dan ada arus mengalir. Pada saat ini thyristor mulai konduksi dan ini adalah merupakan daerah III. Arus yang terjadi pada saat thyristor konduksi, dapat disebut sebagai arus genggam (IH = Holding Current). Arus IH ini cukup kecil yaitu dalam orde miliampere.  Untuk membuat thyristor kembali off, dapat dilakukan dengan menurunkan arus thyristor tersebut dibawah arus genggamnya (IH) dan selanjutnya diberikan tegangan penyalaan.

Pada prisipnya, Thyristor yang memiliki terminal tiga akan menggunakan arus tegangan rendah yang diberikan kepada salah satu kaki terminalnya untuk mengendalikan aliran arus tegangan tinggi yang melewati dua terminal lainya. Sedangkan untuk Thyristor berterminal dua tidak memiliki kendali GATE, fungsi saklarnya akan di aktifkan apabila tengangan pada kedua terminalya mencapai level tertentu. Level tegangan yang dimaksud biasanya disebut Breakdown Voltage. Pada saat dibawah tegangan breakdown. Kedua kaki terminal tidak akan mengaliri arus listrik atau berada pada posisi OFF.Dalam membahas tentang Saklar (Switch) elektronik, pada dasarnya kita juga dapat menggunakan sebuah komponen elektronik Transistor. Namun bila dibandingkan dengan Transistor, Thyristor akan berfungsi lebih baik dari pada transistor. Hal ini dikarenakan Transistor memerlukan tegangan  yang tepat untuk mengoperasikan fungsi saklarnya, jika tegangan yang diberikan tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan maka pada Transistor tersebut akan berada dalam keadan ON dan OFF. Saklar yang berada diatara keadaan ON dan OFF bukanlah saklar yang dalam keadaan baik. Sangat berbeda dengan Thyristor, Komponen ini sudah dirancang untuk hanya berada dalam dua keadaan ON atau ONFF. Dalam aplikasinya, Thyristor banyak digunakan di perangkat atau rangkaian-rangkaian elektronika seperti Pengendali Daya, Timer, Osilator, peredam cahaya, pengendali kecepatan motor listrik dan lain sebagainya.

 

4.      5.  Aplikasi dari SCR!

Secara umum, aplikasi Thyristor adalah  :

a.       Mengontrol kecepatan dan frekuensi

b.       Penyearahan

c.       Pengubahan daya

d.       Manipulasi robot

e.       Kontrol temperatur

f.        Kontrol cahaya

                                                             DAFTAR PUSTAKA

Ramamoorty, M. 1977. An Introduction to Thyristors and Their Applications.

               India : Affiliated

                Pages : 9-11

Rashid, M. H.1999. Elektronika Daya Rangkaian, Devais, Dan Aplikasinya. Jilid Satu.

           Jakarta : PT Prenhallindo.

            Halaman : 74-81

Rio, S. Reka. 1999. FISIKA DAN TEKNOLOGI SEMIKONDUKTOR. Cetakan Ketiga.   

           Jakarta : Pradnya Paramita.

            Halaman : 58-60

Sutrisno. 1986. ELEKTRONIKA : Teori Dasar dan Penerapannya. Jilid Satu. Bandung : ITB.

          Halaman : 81-83

Theraja, B. L. 2005. Basic Electronics. India : RAM NAGAR, NEW DELHI .

          Pages : 472-473 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Interface Input Output - Laporan Interface - FISIKA

  1.1   Latar belakang Jika I/O yang dipetakan dimemori sedang digunakan, seluruh keempat register itu merupakan bagian dari ruang alamat ...