Sabtu, 11 September 2021

Clean Energy Treiner dengan Metode Electrolyzer - Zat Padat 2 - FISIKA

 


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perpindahan panas secara konduksi (hantaran) terjadi karena interaksi molekul dimana molekul dengan tingkat energi tinggi memberikan kepada molekul yang lebi rendah, terjadi pada benda padat. Berdasarkan kemampuan penghantaran kalor, zat dapat dibagi menjadi : konduktor dan isolator, dimana konduktor merupakan penghantaran panas yang baik dan isolator merupakan penghantaran panas yang buruk . sebagai contoh dari konduktor adalah berupa logam seperti besi, tembaga, aluminium dan lain sebagainya, sedangkan contoh isolator adalah kayu, kain dan lain sebagainya. Proses-proses tersebut merupakan perpindahan panas yang diakibatkan oleh gaya sehingga terlaksananya suatu usaha. Dengan demikian termodinamika juga merupakan beberapa cabang ilmu fisika. Dalam mempelajari termodinamika bukan hanya fenomena suhu saja tetapi juga tuntunan logika, sifat-sifat fisis gas, larutan zat padat dan reaksi kimia. 

      Arus listrik tak lain ialah arus muatan-muatan listrik. Oleh adanya medan magnet, arus muatan-muatan itu lalu membelok kea rah tepi keping karena mengalami gaya Lorentz. Maka terjadilah penimbunan muatan-muatan disepanjang  tepi lempeng. Penimbunan muatan demikian akan menimbulkan medan listrik yang arahnya menyilang lempeng dari satu tepi ke tepi yang lain. Jadi hantaran listrik di dalam larutan elektrolit itu tak lain ialah hantaran elektron-elektron dari elektrode negatif ke elektrode positif dengan diangkut oleh ion-ion elektrolit. Hambatan-hambatan itu berasal dari gaya elektrostatikantara ion-ion dengan molekul-molekul cairan dan sebagainya. Di lain pihak, makin besar konsentrasi larutan elektrolit, makin besar daya hantar listriknya.

       Pada percobaan clean energy trainer dengan metode electrolyzer ini diharapkan dapat mengetahui cara memproduksi energi dari proses elektrolisis dengan menggunakan larutan elektrolit, mengetahui prinsip kerja dari electrolyzer, mengetahui aplikasi dari penggunaan electrolyzer.

1.2.Tujuan

1.      Untuk mengetahui cara kerja electrolyzer.

2.      Untuk mengetahui kurva karakteristik electrolyzer.

3.      Untuk mengetahui aplikasi percobaan.

BAB II

DASAR TEORI

Sesuatu yang dipindahkan dari suatu system ke system lain yang diakibatkan oleh perbedaan temperatur disebut dengan kalor. Kalor merupakan energi panas yang satuannya adalah kalori, satu kalori setara dengan banyaknya kalor yang dibutuhkan oleh 1 gram air untuk menaikkan temperatur 1oC, sesuai dengan suhu mutlak yaitu 14,5oC sampai dengan 15,5oC.

Jika dikonversikan antara kalori dengan satuan energi mekanik maka 1 kal = 4,186 joule dan sebaliknya 1 joule = 0,24 kalori. Besar kalor yang diberikan pada sebuah benda untuk menaikkan temperatur tergantung kepada massa dan jenis benda. Satuan dari kalor jenis adalah: kal/gr oC atau J/kg oC

Pada perubahan wujud (fasa) zat dari padat menjadi cair berubah menjadi gas dan gas berbah menjadi padat atau sebaliknya. Jadi kalor yang diberikan atau yang diterima oleh suatu zat persatuan massa disebut kalor laten (L) atau yang disebut kalor penguapan. Menurut azas black kalor yang diberikan (Q1) sama dengan kalor yang diterima (Q2).

Jadi kalor yang diberikan oleh suatu benda atau suatu sistem bersuhu T1 sama dengan kalor yang diterima oleh suatu benda atau suatu sistem bersuhu T2. Jika kedua sistem tersebut mempunyai suhu yang berbeda misalnya T1 > T2 kemudian kedua sistem tersebut dihubungkan maka akan terjadi perpindahan panas dari suhu tertinggi ke suhu yang lebih rendah.

Perpindahan panas merupakan bagian dari kalor atau panas yang khusus mempelajari cara berpindahnya panas, missal dari suatu benda padat ke benda padat yang lain, benda padat ke benda cair (zat alir) yang kedua benda tersebut apabila disentuhkan dan bagaimana perpindahan panas jika kedua benda tidak disentuhkan tetapi mempunyai jarak tetap antara satu dengan yang lainnya juga dapat dirasakan, misalnya waktu kita kedinginan maka untuk menghangatkan badan kita tidak perlu masuk ke dalam api unggun tetapi cukup berada disekitar api unggun saja.

Perpindahan panas secara konduksi (hantaran) terjadi karena interaksi molekul dimana molekul dengan tingkat energi tinggi memberikan kepada molekul yang lebi rendah, terjadi pada benda padat. Berdasarkan kemampuan penghantaran kalor, zat dapat dibagi menjadi : konduktor dan isolator, dimana konduktor merupakan penghantaran panas yang baik dan isolator merupakan penghantaran panas yang buruk . sebagai contoh dari konduktor adalah berupa logam seperti besi, Tembaga, Aluminium dan lain sebagainya, sedangkan contoh isolator adalah Kayu, Kain dan lain sebagainya.

Konveksi (aliran) adalah perambatan panas melalui zat perantara dimana bagian-bagian zat ikut berpindah (mengalir) karena perbedaan rapat massa. Sebagai zat perantara adalah fluida (zat alir) seperti zat cair dan gas. Jumlah panas yang dialirkan dalam fluida tergantung pada penampang yang dilalui dan perbedaan suhu. Teori matematik untuk konveksi panas tidak mudah seperti konduksi, ini dikarenakan oleh panas yang diperoleh atau hilang dari permukaan pada suhu gabungan dengan fluida, sedangkan suhu yang lain tergantung dari brbagai keadaan, misalnya.

1.    Permukaannya datar atau melengkung

2.    Permukaannya horizontal atau vertical

3.    Fluida yang berhubungan dengan permukaan zat cair atau gas.

4.    Rapat massa, viskositas, panas jenis dan daya hantar kalor fluida tersebut.

5.    Kecepatan fluida sangat kecil sehingga arusnya laminar atau kecepatannya sangat besar sehingga menimbulkan arus terbuka.

6.    Kerja dipenguapan, pengembunan atau timbulnya lapisan.

Untuk perpindahan panas secara konduksi dan konveksi dapat terjadi lewat suatu zat perantara (medium), tetapi untuk perpindahan secara radiasi tidak membutuhkan zat perantara karena mekanismenya sangat berbeda atau boleh juga dikatakan cara pemindahan kalor tanpa memerlukan medium perantara. Misalnya panas dari matahari diubah menjadi energi radiasi, energi radiasi ini merambat lewat ruang dan diubah kembali menjadi panas jika mengenai suatu benda. Proses-proses tersebut merupakan perpindahan panas yang diakibatkan oleh gaya sehingga terlaksananya suatu usaha. Dengan demikian termodinamika juga merupakan beberapa cabang ilmu fisika. Dalam mempelajari termodinamika bukan hanya fenomena suhu saja tetapi juga tuntunan logika, sifat-sifat fisis gas, larutan zat padat dan reaksi kimia.  Menurut eksperimen tentang percobaan kalorimeter untuk menentukan kesetaraan antara kalor dan energi diadapat bahwa 1 joule = 4,186 kalori. Dari sini jelas bahwa uasaha yang dilakukan oleh sistem tergantung pada proses yang bersangkutan.                                                                           (Nasruddin, 2013) 

Efek Hall ialah gejala timbulnya e.m.f. diantara kedua tepi kedua lempeng logam apabila sepanjang lempeng logam itu dialiri arus listrik dan pada waktu yang sama tegak lurus permukaan dikenakan medan magnet. Gejala tersebut dapat diterangkan berdasarkan gaya Lorentz terhadap muatan-muatan listrik yang tengah bergerak. Arus listrik tak lain ialah arus muatan-muatan listrik. Oleh adanya medan magnet, arus muatan-muatan itu lalu membelok kea rah tepi keping karena mengalami gaya Lorentz. Maka terjadilah penimbunan muatan-muatan disepanjang  tepi lempeng. Penimbunan muatan demikian akan menimbulkan medan listrik yang arahnya menyilang lempeng dari satu tepi ke tepi yang lain. Medan listrik yang timbul ini sudah tentu akan menghalangi pembelokan muatan-muatan listrik yang datang berikutnya dan akhirnya terjadilah kesetimbangan sewaktu medan listriknya sudah cukup kuat untuk mengimbangi gaya Lorentz. Perlu diperhatikan bahwa baik muatan positif maupun muatan negatif terkumpulnya   selalu disisi atau tepi yang sama sebab seandainya mengalirnya muatan positif adalah dari kiri ke kanan maka mengalirnya muatan negatif adalah dari kanan ke kiri sehingga arah membeloknya oleh gaya Lorentz adalah ke sisi yang sama. Jadi dengan mengamati apakah beda potensial antara satu tepi dengan tepi yang lain itu positif ataukah negatif dapatlah diketahui apakah penghantaran listrik itu terutama oleh zarah bermuatan listrik negatif ataukah oleh zarah bermuatan listrik positif. Sebelum dikenal efek hall, orang berpendapat bahwa penghantaran arus listrik tak lain ialah pengaliran elektron-elektron bebas yang berarti penghantarannya adallah oleh zarah-zarah bermuatan negatif. Tetapi penelitian dengan efek hall menunjukkan adanya penghantaran listrik    oleh zarah bermuatan listrik positif pada beberapa bahan semikonduktor. Tetapi inti-inti atom bahan yang bermuatan positif tak mungkin mengalir. Maka timbullah hipotesa adanya lowongan yakni tempat kosong didalam atom yang bersikap sebagai zarah bermuatan positif yang bergerak pada arah yang berlawanan dengan arah mengalirnya elektron bebas.

Bergeraknya temapat kosong ini karena diisi oleh elektron di atom yang elektronnya meninggalkan tempat kosong karena mengisi tempat kosong di atom disampingnya. Jadi penghantaran listrik oleh lowong tak lain adalah oleh elektron-elektron valensi yang meloncat dari satu atom ke atom disampingnya secara estafet. Menurut pengamatan, beda potensial antara kedua tepi lempeng tersebut, yang disebut e.m.f. Hall eH, ternyata lebih besar lempengnya lebih tipis serta arus listriknya dan medan magnetnya lebih kuat. Gaya Lorentz pada muatan yang bergerak dengan kecepatan v yaitu

F = qv X B

Induksi elektromagnetik ialah gejala timbulnya induksi e.m.f. didalam untai listrik apabila untai listrik itu berada didalam medan magnet yang bervariasi terhadap waktu. Induksi e.m.f. demikian diketemukan dan diselidiki oleh Faraday dan Lenz. Lenz pada tahun 1834, berdasarkan hokum newton ke-3, reaksi = aksi, menegemukakan pendapat bahwa e.m.f. induksi itu adalah suatu reaksi atas perubahan medan magnet yang dicakup atau yang mengenai kumparan. Reaksi itu adalah sedemikian rupa hingga arus listrik yang dapat mengalir karena induksi e.m.f. itu akan menimbulkan medan magnet yang flux garis gaya magnetiknya mengkompensasi perubahan flux garis gaya magnetik luar yang dicakup kumparan.

Adapun perumusan secara kuantitatif tentang induksi e.m.f. tersebut. Baru dikemukakan pada tahun 1845 oleh Neumann. Ia mengatakan bahwa besarnya e.m.f. terinduksi itu sebanding dengan cepatnya perubahan flux garis gaya magnetik yang sebaliknya lingkaran kawat memotong beberapa garis gaya medan magnet tersebut. Hal ini seolah-olah  sebagai kawat yang membawa muatan bebas yang dikandungnya itu bergerak memotong garis-garis gaya magnet, sehingga timbullah medan induksi e.m.f. kalau diteliti lebih lanjut akan ternyata e.m.f. itu adalah sedemikian rupa hingga kalau mengalirkan arus listrik, arus listrik itu akan menimbulkan medan magnet yang arahnya sama dengan arah medan magnet yang dicakup, yang berarti memperkuat kembali medan magnet yang melemah tadi.

Pada dasarnya hantaran listrik, yakni hantaran muatan-muatan listrik dilakukan oleh elektron-elektron dengan setiap elektron membawa muatan sebanyak 1,6 X 10-19 Coulomb. Didalam logam konduktor, hantaran listrik dilakukan oleh elektron-elektron bebas yang bergerak disela-sela susunan atom-atom logam. Didalam bahan semikonduktor, hantaran listrik kecuali dilakukan oleh elektron-elektron bebas, juga oleh elektron-elektron valensi, yakni elektron-elektron yang masih terikat oleh atom-atom, dengan cara melompat dari satu atom ke satu atom disampingnya secara estafet. Hantaran listrik oleh elektron valensi demikian adalah yang dikenal sebagai hantaran listrik oleh lubang (hole) dalam teori semikonduktor. Didalam cairan, hantaran listrik bukannya dilakukan oleh elektron-elektron yang dibawa ion-ion cairan yang bergerak dari satu elektrode ke elektrode yang lain. Sebagian dari molekul-molekul cairan, senantiasa terurai menjadi ion-ion positif dan negatif. Apabila kedalam cairan dimasukkan dua keeping logam yang masin-masing dihubungkan kekutub-kutub sumber daya listrik, maka ion-ion akan bergerak dari satu keping ke keping yang lainnya. Keping-keping tersebut bertindak selaku elektrode positif dan elektrode negatif. Ion-ion positif bergerak ke elektrode negtif, yakni ke keping yang dihubungkan ke kutub negatif sumber daya, dan ion-ion negatif bergerak ke elektrode positif. Sesampainya di elektrode positif, ion negatif melepaskan elektronnya ke elektrode tersebut dan menjadi gugusan-gugusan atom netral.

Sebaliknya ion-ion positif sesampainya di elektroda negatif akan menarik elektron dari elektrode tersebut serta juga menjadi gugusan atom-atom netral. Gugusan atom-atom netral segera bereaksi dengan air dan membentuk molekul-molekul baru yang yang lalu terurai menjadi ion-ion lagi. Jadi hantaran listrik di dalam larutan elektrolit itu tak lain ialah hantaran elektron-elektron dari elektrode negatif ke elektrode positif dengan diangkut oleh ion-ion elektrolit. Hambatan tersebut berasal dari gesekan dan tumbukan ion molekul dan sebaginya. Di lain pihak, makin besar konsentrasi larutan elektrolit, makin besar daya hantar listriknya.      (Soedojo, 1986)

Dibagian utama, konduktor listrik dapat secara tajam dibagi menjadi dua kelas : konduktor logam atau elektronik, dan konduktor elektrolit. Logam, paduan dan beberapa substansi lai seperti karbon, adalah konduktor kelas satu, larutan garam terentu, garam cair, dan beberapa padatan seperti halida perak 1 dan bentuk perak sufida 2 (stabil diatas 179) merupakan konnduktor kelas kedua. Jalur listrik melalui conduktor elektrolitik diketahui sebagau elektrolisis. Garam terlarut atau cair dierbut elektrolit. Pada konduktro logam, lintasan listrik terjadi tanpa pergerakan kuantitas materi yang dapat dipikirkan, dalam konduktor kelas kedua, bagian arus saat ini selalu dikaitkan dengan transpor materi. Selain itu, ada perbedaan penting antara dua kelas konduktor. Dengan pengecualian karbon amorf, resistensi kondukstor kelas pertama meniagkat dengan keinaikan suhu, bahwa konduktor kelas kedua menurun dengan peningkatan dalam suhu.

                Koefisien resisteansi untuk suhu dR/dt positif untuk metal dan paudan, dan negtaif untuk karbon Amorf, Grafit, dan konduktor kelas kedua. Beberapa zat telah diselidiki yang tampaknya menjembatani kesenjangan antara kelas pertama dan kedua. Konduktor, konduksi dalam zat ini adalah bagian logam dan bagian elektrolit, oleh karena itu zat ini telah disebut konduktor campuran. Misalnya bentuk β perak sulfida (stabil dibawah 179º) adalah konduktor campuran, sekitar 80 % konduksi menjadi elektrolit dan 20% sisanya logam.

            Pada suhu diatas 200º, banyak garam logam terutama halida telah ditemukan bertindak sebagai konduktor elektrolit. Pemilihan larutan padat Oksigen dalam Zirkonium telah dipelajari antara 1600º dan 1800º dna telah ditemukan bahwa oksigen bergerak melalui kisis, sehingga meningkatkan konsentrasinya pada ujung positif konduktor. Menurut penyelidikan Kraus, konduksi dalam larutan logam alkali dan alkali tanah dalam amonia cair adalah bagian logam dan sebagian elektrolit.

            Ketika potongan-potongan foil platinum melekat pada dua kutub sel Daniell, direndam dalam lartan encer dari tembaga klorida.Tidak hanya tembaga yang diendapkan pada potongan foil yang bergabung dengan kutub negatif dari sel, tetapi juga gelembung kklorin dibebaskan pada bagian lain dari foil. Potongan-potongan foil ini disebut elektroda. Elektroda yang melekat pada kutub positif dari sel disebut anoda, yang bergabung dengan kutub negatif, katoda. Selama perjalanan arus listrik melalui konduktor elektrolit, konstituen elektrolit bergerak melalui solusi dan dari elektrolisis dan terbebaskan di elektroda.

Seperti pada elektrolisis tumpangan tembaga ini bagaimanapun tidak selalu terbukti karena fakta bahwa zat-zat yang dibebaskan di elektroda kadang-kadang bereaksi dengan pelarut larutan. Produk-produk reaksi ini dapat diamati pada elektroda. Produk dari banyak elektrolit, seperti garam logam alkali dari asam oksigen dan alkali hidroksida, hanyalah hidrogen pada katoda dan oksigen pada anoda.

Sebelumnya, telah diduga bahwa pembentukan gas-gas ini adalah proses sekunder, karena interaksi dengan air dari logam dan radikal asam yang dibabaskan oleh arus. Sekarang diketahui, bagaimanapun bahwa elektrolisis larutan tersebut terdiri dalam dekomposisi utama air, kecuali dalam kondisi yang sangat khusus.

Selama elektrolisis larutan tersebut, perubahan konsentrasi terjadi didekat elektroda. Solusi tentang katoda menjadi basa, dan itu tentang anoda. Seringkali unsur-unsur atau kelompok unsur yang dibebaskan selama perjalanan arus bereaksi dengan bahan elektroda. Jadi, ketika larutan natrium klorida di elektrolisis antara anoda perak dan katoda logam di lapisi dengan perak klorida, logam perak terbentuk pada katoda dan perak klorida di produksi di anoda. Kadang-kadang perubahan yang terjadi di elektroda jauh dari sederhana. Misalnya Centnerszwer dan Drucker telah menu jukkan bahwa, ketika larutan kalium iodide dan natrium iodide dalam cairan sulfur diooksida adalah elektrolisis, reaksi yang sangat kompleks terjadi pada katoda.

Ada kemungkinan bahwa logam alkali pertama berisah pada elektroda ini dan kemudian bereaksi dengan pelarut untuk membentuk hidrosulfit, yang kemudian terurai menjadi tiosulfat dan pirosulfit. Karena perjalanan listrik melalui konduktro elektrolit selalu dikaitakn dengan gerakan materi dan pemisahannya di elektroda, wajar untuk menanyakan apakah ada hubungannya antara kuantitas listrik yang melewati solusi dan kuantitas materi yang msmisahkan di elektroda. Penelitian briliian dari ilmuan Inggris ternama, Michael Faraday (1791-1867), mengarah pada penemuan hubungan ini yang ia nyatakan dalam dua hukum terkenal, pada tahun 1833. Hukum pertama Faraday dari elektorlisis menyatakan fundamental hubungan yang ada antara kuantitas lsitrik yang melewati solusi dan jumlah zat yang dibebaskan pada elektroda.

Hukum pertama ini menyatakan jumlah zat yang dibebaskan di elektroda berbanding lurus dengan kuantitas listrik yang melewati larutan. Hukum kedua elektrolisis Faraday mengungkapkan hubungan mendasar antara jumlah zat yang dibebaskan di elektroda dengan jumlah listrik yang sama. Undang-undang kedua menyatakan, jumlah listrik yang sama menyebabkan jumlah setara zat yang sama di elektroda. Jadi, jumlah perak yang dibebaskan elektroda selama perjalanan 10 coulomb listrik melalui larutan garam perak adala dua kali lipat yang diendapkan ketika 5 coulomb melewati larutan.

Pengeluaran jumlah listrik yang sama melalui larutan tembaga klorida, besi bromina, seng iodida, dan asam hidroklorat, memberikan sejumlah bebas tembaga, klorin, besi, bromina, seng, yodium, dan hidrogen yang sebanding dengan bobot ekuivalennya. Jumlah gram elemen atau sekelompok elemen yang diatur bebas dengan jalannya 1 coulomb listrik melalui suatu  konduktor elektrolitik disebut ekuivalen elektrokimia dari unsue atau kelompok. Menurut suatu  hukum yang dinyatakan oleh seorang ilmuan fisika, Faraday, setara elektrokimia sebanding dengan setara kimia. Merupakan hal yang menarik untuk menghitung jumlah listrik yang dibutuhkaan untuk membebaskan 1 yang setara dari suatu elemen atau kelompok unsur. Sebagaimana yang telah sudah ditunjukkan, 1 couloumb listrik menetapkan 1,118 miligram perak bebas dari larutan garam perak.                                                       (Greighton Jermain,1951)

BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Peralatan dan Fungsi

·        USB perekam data

o   Fungsi : untuk membaca besaran data pengukuran dari modul surya

·        Kabel USB

o   Fungsi : sebagai penghubung atau pemindah informasi dari perekam data ke laptop

·        Laptop  yang telah terinstal Clean Energy Trainer

o   Fungsi : mengolah data yang di dapat dari perekam data

·        Adaptor

o   Fungsi : sebagai power supply untuk merubah tegangan AC menjadi DC

·        Elektrolyzer

o   Fungsi : tempat proses elektrolisis

·        Selang

o   Fungsi : untuk memasukkan larutan elektrolit ke elektrolyzer

·        Tabung penyimpanan

o   Fungsi : untuk meyimpan

·        Tabung penampung

o   Fungsi : untuk menampung

·        Charger Laptop

o   Fungsi : untuk mengisi daya baterai pada laptop

·         Cok sambung

o   Fungsi : untuk menyambungkan peralatan dengan sumber arus listrik (PLN)

·         Kabel penghubung

o   Fungsi : sebagai penghubung antara peralatan

3.2 Bahan Dan Fungsi

1.      Air distilas (Aquades)

Fungsi : Digunakan sebagai sampel yang akan di elektrolisis sehingga menghasilkan

Hidrogen.

 

 3.3 Prosedur Percobaan

1.    Disiapkan semua peralatan dan bahan.

2.    Dirangkai seperangkat alat elektrolyzer

3.    Dihubungkan tabung penyimpanan dan tabung penampung ke elektrolyzer.

4.    Dihubungkan perangkat elektrolyzer dengan USB perekam data dengan kabel penghubung.

5.    Dihubungkan USB perekam data dengan laptop menggunakan kabel USB.

6.    Dibuka aplikasi Clean Energy Trainer.

7.    Dipilih tab electrolyzer.

8.    Diisi kedua tabung dengan dengan air terdistilasi hingga batas tabung.

9.    Diatur software pada mode manual.

10.      Diatur tegangan pada 2000 mV.

11.      Dibuka klep pada samping tabung.

12.      Diperhatikan penurunan aquades pada tabung per 5 mm.

13.      Dicatat waktu yang dipakai.

14.      Setelah 30 mm pada tabung H2, tegangan diubah menjadi 0 mV.

15.      Kemudian diubah mode menjadi mode automatic.

16.      Diklik start.

17.      Dicatat data yang dihasilkan pada table karakteristik.

18.      Setelah selesai software ditutup dan laptop di shutdown.

19.      Dirapikan kembali alat yang sudah digunakan.

BAB IV

HASIL DAN ANALISA

4.1. Data Percobaan




4. Proses elektrolisis air adalah Elektrolisis air adalah peristiwa penguraian senyawa air (H2O) menjadi oksigen (O2) dan hidrogen gas (H2) dengan menggunakan arus listrik yang melalui air tersebut. Pada katode, dua molekul air bereaksi dengan menangkap dua elektron, tereduksi menjadi gas H2 dan ion hidroksida (OH-). Sementara itu pada anode, dua molekul air lain terurai menjadi gas oksigen (O2), melepaskan 4 ion H+ serta mengalirkan elektron ke katode. Ion H+ dan OH- mengalami netralisasi sehingga terbentuk kembali beberapa molekul air.    2 H 2 O ( l ) → 2 H 2 ( g ) + O 2 ( g ) {\displaystyle {\mbox{ }}2H_{2}O(l)\rightarrow 2H_{2}(g)+O_{2}(g)\,}   2 H 2 O ( l ) → 2 H 2 ( g ) + O 2 ( g ) {\displaystyle {\mbox{ }}2H_{2}O(l)\rightarrow 2H_{2}(g)+O_{2}(g)\,} Gas hidrogen dan oksigen yang dihasilkan dari reaksi ini membentuk gelembung pada elektrode dan dapat dikumpulkan. Prinsip ini kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan hidrogen dan hidrogen peroksida (H2O2) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan hidrogen.

 4.3. Gambar Percobaan


BAB V

KESIMPULAN

5.1    Kesimpulan

1.      1 Dari percobaan yang dilakukan dapat diketahui prinsip kerja elektrolyzer yaitu menguraian senyawa air (H2O) menjadi oksigen (O2) dan hidrogen gas (H2) dengan menggunakan arus listrik yang melalui air tersebut. Pada katode, dua molekul air bereaksi dengan menangkap dua elektron, tereduksi menjadi gas H2 dan ion hidroksida (OH-). Sementara itu pada anode, dua molekul air lain terurai menjadi gas oksigen (O2), melepaskan 4 ion H+ serta mengalirkan elektron ke katode. Ion H+ dan OH- mengalami netralisasi sehingga terbentuk kembali beberapa molekul air. Gas hidrogen dan oksigen yang dihasilkan dari reaksi ini membentuk gelembung pada elektrode dan dapat dikumpulkan. Prinsip ini kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan hidrogen dan hidrogen peroksida (H2O2) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan hidrogen.

 

1.    3. Aplikasi percobaan dalam kehidupan sehari-hari :

·      Bahan bakar kendaraan hidrogen.

·      Pembuatan beberapa bahan kimia

·      Pemurnian logam

·      Penyepuhan logam


DAFTAR PUSTAKA

Nasruddin. 2013. Fisika Dasar Edisi Kedua.  Medan : USU Press.

  Halaman : 133-136, 139-140145,148-149,154,164-165

Soedojo, Peter. 1986. Azas-Azas Ilmu Fisika Jilid 2. Yogyakarta: Gadjah Mada University

           Halaman : 111-113, 115-120, 136, 149-150

Greighton, Jermail. 1951. Principles And Applications Of Electrochemistry. London : John wiley & sons, INC

 Pages: 12-17


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Interface Input Output - Laporan Interface - FISIKA

  1.1   Latar belakang Jika I/O yang dipetakan dimemori sedang digunakan, seluruh keempat register itu merupakan bagian dari ruang alamat ...