BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perpindahan panas
secara konduksi (hantaran) terjadi karena interaksi molekul dimana molekul
dengan tingkat energi tinggi memberikan kepada molekul yang lebi rendah,
terjadi pada benda padat. Berdasarkan kemampuan penghantaran kalor, zat dapat
dibagi menjadi : konduktor dan isolator, dimana konduktor merupakan
penghantaran panas yang baik dan isolator merupakan penghantaran panas yang
buruk . sebagai contoh dari konduktor adalah berupa logam seperti besi,
tembaga, aluminium dan lain sebagainya, sedangkan contoh isolator adalah kayu,
kain dan lain sebagainya. Proses-proses tersebut merupakan perpindahan panas
yang diakibatkan oleh gaya sehingga terlaksananya suatu usaha. Dengan demikian
termodinamika juga merupakan beberapa cabang ilmu fisika. Dalam mempelajari
termodinamika bukan hanya fenomena suhu saja tetapi juga tuntunan logika,
sifat-sifat fisis gas, larutan zat padat dan reaksi kimia.
Arus listrik tak lain ialah arus muatan-muatan listrik. Oleh
adanya medan magnet, arus muatan-muatan itu lalu membelok kea rah tepi keping
karena mengalami gaya Lorentz. Maka terjadilah penimbunan muatan-muatan
disepanjang tepi lempeng. Penimbunan
muatan demikian akan menimbulkan medan listrik yang arahnya menyilang lempeng
dari satu tepi ke tepi yang lain. Jadi hantaran listrik di dalam larutan
elektrolit itu tak lain ialah hantaran elektron-elektron dari elektrode negatif
ke elektrode positif dengan diangkut oleh ion-ion elektrolit. Hambatan-hambatan
itu berasal dari gaya elektrostatikantara ion-ion dengan molekul-molekul cairan
dan sebagainya. Di lain pihak, makin besar konsentrasi larutan elektrolit,
makin besar daya hantar listriknya.
Pada
percobaan clean energy trainer dengan
metode electrolyzer ini diharapkan dapat mengetahui cara memproduksi energi
dari proses elektrolisis dengan menggunakan
larutan elektrolit, mengetahui
prinsip kerja dari electrolyzer, mengetahui aplikasi dari penggunaan electrolyzer.
1.2.Tujuan
1.
Untuk mengetahui cara
kerja electrolyzer.
2.
Untuk mengetahui kurva karakteristik electrolyzer.
3.
Untuk mengetahui
aplikasi percobaan.
BAB II
DASAR TEORI
Sesuatu yang dipindahkan dari suatu
system ke system lain yang diakibatkan oleh perbedaan temperatur disebut
dengan kalor. Kalor merupakan energi panas yang satuannya adalah kalori, satu
kalori setara dengan banyaknya kalor yang dibutuhkan oleh 1 gram air untuk
menaikkan temperatur 1oC, sesuai dengan suhu mutlak yaitu 14,5oC
sampai dengan 15,5oC.
Jika
dikonversikan antara kalori dengan satuan energi mekanik maka 1 kal = 4,186
joule dan sebaliknya 1 joule = 0,24 kalori. Besar kalor yang diberikan pada
sebuah benda untuk menaikkan temperatur tergantung kepada massa dan jenis
benda. Satuan dari kalor jenis adalah: kal/gr oC atau J/kg oC
Pada perubahan
wujud (fasa) zat dari padat menjadi cair berubah menjadi gas dan gas berbah
menjadi padat atau sebaliknya. Jadi kalor yang diberikan atau yang diterima
oleh suatu zat persatuan massa disebut kalor laten (L) atau yang disebut kalor
penguapan. Menurut azas black kalor yang diberikan (Q1) sama dengan
kalor yang diterima (Q2).
Jadi kalor yang diberikan oleh
suatu benda atau suatu sistem bersuhu T1 sama dengan kalor yang
diterima oleh suatu benda atau suatu sistem bersuhu T2. Jika kedua
sistem tersebut mempunyai suhu yang berbeda misalnya T1 > T2
kemudian kedua sistem tersebut dihubungkan maka akan terjadi perpindahan panas
dari suhu tertinggi ke suhu yang lebih rendah.
Perpindahan
panas merupakan bagian dari kalor atau panas yang khusus mempelajari cara
berpindahnya panas, missal dari suatu benda padat ke benda padat yang lain,
benda padat ke benda cair (zat alir) yang kedua benda tersebut apabila
disentuhkan dan bagaimana perpindahan panas jika kedua benda tidak disentuhkan
tetapi mempunyai jarak tetap antara satu dengan yang lainnya juga dapat
dirasakan, misalnya waktu kita kedinginan maka untuk menghangatkan badan kita
tidak perlu masuk ke dalam api unggun tetapi cukup berada disekitar api unggun
saja.
Perpindahan
panas secara konduksi (hantaran) terjadi karena interaksi molekul dimana molekul
dengan tingkat energi tinggi memberikan kepada molekul yang lebi rendah,
terjadi pada benda padat. Berdasarkan kemampuan penghantaran kalor, zat dapat
dibagi menjadi : konduktor dan isolator, dimana konduktor merupakan
penghantaran panas yang baik dan isolator merupakan penghantaran panas yang
buruk . sebagai contoh dari konduktor adalah berupa logam seperti besi,
Tembaga, Aluminium dan lain sebagainya, sedangkan contoh isolator adalah Kayu,
Kain dan lain sebagainya.
Konveksi
(aliran) adalah perambatan panas melalui zat perantara dimana bagian-bagian zat
ikut berpindah (mengalir) karena perbedaan rapat massa. Sebagai zat perantara
adalah fluida (zat alir) seperti zat cair dan gas. Jumlah panas yang dialirkan
dalam fluida tergantung pada penampang yang dilalui dan perbedaan suhu. Teori
matematik untuk konveksi panas tidak mudah seperti konduksi, ini dikarenakan
oleh panas yang diperoleh atau hilang dari permukaan pada suhu gabungan dengan
fluida, sedangkan suhu yang lain tergantung dari brbagai keadaan, misalnya.
1. Permukaannya
datar atau melengkung
2. Permukaannya
horizontal atau vertical
3. Fluida
yang berhubungan dengan permukaan zat cair atau gas.
4. Rapat
massa, viskositas, panas jenis dan daya hantar kalor fluida tersebut.
5. Kecepatan
fluida sangat kecil sehingga arusnya laminar atau kecepatannya sangat besar
sehingga menimbulkan arus terbuka.
6. Kerja
dipenguapan, pengembunan atau timbulnya lapisan.
Untuk
perpindahan panas secara konduksi dan konveksi dapat terjadi lewat suatu zat
perantara (medium), tetapi untuk perpindahan secara radiasi tidak membutuhkan
zat perantara karena mekanismenya sangat berbeda atau boleh juga dikatakan cara
pemindahan kalor tanpa memerlukan medium perantara. Misalnya panas dari
matahari diubah menjadi energi radiasi, energi radiasi ini merambat lewat ruang
dan diubah kembali menjadi panas jika mengenai suatu benda. Proses-proses
tersebut merupakan perpindahan panas yang diakibatkan oleh gaya sehingga
terlaksananya suatu usaha. Dengan demikian termodinamika juga merupakan
beberapa cabang ilmu fisika. Dalam mempelajari termodinamika bukan hanya
fenomena suhu saja tetapi juga tuntunan logika, sifat-sifat fisis gas, larutan
zat padat dan reaksi kimia. Menurut
eksperimen tentang percobaan kalorimeter untuk menentukan kesetaraan antara
kalor dan energi diadapat bahwa 1 joule = 4,186 kalori. Dari sini jelas bahwa
uasaha yang dilakukan oleh sistem tergantung pada proses yang bersangkutan.
(Nasruddin,
2013)
Efek Hall ialah gejala timbulnya
e.m.f. diantara kedua tepi kedua lempeng logam apabila sepanjang lempeng logam
itu dialiri arus listrik dan pada waktu yang sama tegak lurus permukaan
dikenakan medan magnet. Gejala tersebut dapat diterangkan berdasarkan gaya
Lorentz terhadap muatan-muatan listrik yang tengah bergerak. Arus listrik tak
lain ialah arus muatan-muatan listrik. Oleh adanya medan magnet, arus
muatan-muatan itu lalu membelok kea rah tepi keping karena mengalami gaya
Lorentz. Maka terjadilah penimbunan muatan-muatan disepanjang tepi lempeng. Penimbunan muatan demikian akan
menimbulkan medan listrik yang arahnya menyilang lempeng dari satu tepi ke tepi
yang lain. Medan listrik yang timbul ini sudah tentu akan menghalangi
pembelokan muatan-muatan listrik yang datang berikutnya dan akhirnya terjadilah
kesetimbangan sewaktu medan listriknya sudah cukup kuat untuk mengimbangi gaya
Lorentz. Perlu diperhatikan bahwa baik muatan positif maupun muatan negatif
terkumpulnya selalu disisi atau tepi yang sama sebab
seandainya mengalirnya muatan positif adalah dari kiri ke kanan maka
mengalirnya muatan negatif adalah dari kanan ke kiri sehingga arah membeloknya
oleh gaya Lorentz adalah ke sisi yang sama. Jadi dengan mengamati apakah beda potensial
antara satu tepi dengan tepi yang lain itu positif ataukah negatif dapatlah
diketahui apakah penghantaran listrik itu terutama oleh zarah bermuatan listrik
negatif ataukah oleh zarah bermuatan listrik positif. Sebelum dikenal efek
hall, orang berpendapat bahwa penghantaran arus listrik tak lain ialah
pengaliran elektron-elektron bebas yang berarti penghantarannya adallah oleh
zarah-zarah bermuatan negatif. Tetapi penelitian dengan efek hall menunjukkan
adanya penghantaran listrik oleh zarah bermuatan listrik positif pada
beberapa bahan semikonduktor. Tetapi inti-inti atom bahan yang bermuatan
positif tak mungkin mengalir. Maka timbullah hipotesa adanya lowongan yakni tempat
kosong didalam atom yang bersikap sebagai zarah bermuatan positif yang bergerak
pada arah yang berlawanan dengan arah mengalirnya elektron bebas.
Bergeraknya
temapat kosong ini karena diisi oleh elektron di atom yang elektronnya
meninggalkan tempat kosong karena mengisi tempat kosong di atom disampingnya.
Jadi penghantaran listrik oleh lowong tak lain adalah oleh elektron-elektron
valensi yang meloncat dari satu atom ke atom disampingnya secara estafet. Menurut
pengamatan, beda potensial antara kedua tepi lempeng tersebut, yang disebut
e.m.f. Hall eH, ternyata lebih besar lempengnya lebih tipis serta
arus listriknya dan medan magnetnya lebih kuat. Gaya Lorentz pada muatan yang
bergerak dengan kecepatan v yaitu
F = qv X B
Induksi elektromagnetik ialah
gejala timbulnya induksi e.m.f. didalam untai listrik apabila untai listrik itu
berada didalam medan magnet yang bervariasi terhadap waktu. Induksi e.m.f.
demikian diketemukan dan diselidiki oleh Faraday dan Lenz. Lenz pada tahun
1834, berdasarkan hokum newton ke-3, reaksi = aksi, menegemukakan pendapat
bahwa e.m.f. induksi itu adalah suatu reaksi atas perubahan medan magnet yang
dicakup atau yang mengenai kumparan. Reaksi itu adalah sedemikian rupa hingga
arus listrik yang dapat mengalir karena induksi e.m.f. itu akan menimbulkan
medan magnet yang flux garis gaya magnetiknya mengkompensasi perubahan flux
garis gaya magnetik luar yang dicakup kumparan.
Adapun perumusan
secara kuantitatif tentang induksi e.m.f. tersebut. Baru dikemukakan pada tahun
1845 oleh Neumann. Ia mengatakan bahwa besarnya e.m.f. terinduksi itu sebanding
dengan cepatnya perubahan flux garis gaya magnetik yang sebaliknya lingkaran
kawat memotong beberapa garis gaya medan magnet tersebut. Hal ini
seolah-olah sebagai kawat yang membawa
muatan bebas yang dikandungnya itu bergerak memotong garis-garis gaya magnet,
sehingga timbullah medan induksi e.m.f. kalau diteliti lebih lanjut akan
ternyata e.m.f. itu adalah sedemikian rupa hingga kalau mengalirkan arus
listrik, arus listrik itu akan menimbulkan medan magnet yang arahnya sama
dengan arah medan magnet yang dicakup, yang berarti memperkuat kembali medan
magnet yang melemah tadi.
Pada dasarnya
hantaran listrik, yakni hantaran muatan-muatan listrik dilakukan oleh
elektron-elektron dengan setiap elektron membawa muatan sebanyak 1,6 X 10-19
Coulomb. Didalam logam konduktor, hantaran listrik dilakukan oleh
elektron-elektron bebas yang bergerak disela-sela susunan atom-atom logam.
Didalam bahan semikonduktor, hantaran listrik kecuali dilakukan oleh
elektron-elektron bebas, juga oleh elektron-elektron valensi, yakni
elektron-elektron yang masih terikat oleh atom-atom, dengan cara melompat dari
satu atom ke satu atom disampingnya secara estafet. Hantaran listrik oleh
elektron valensi demikian adalah yang dikenal sebagai hantaran listrik oleh
lubang (hole) dalam teori semikonduktor. Didalam cairan, hantaran listrik
bukannya dilakukan oleh elektron-elektron yang dibawa ion-ion cairan yang
bergerak dari satu elektrode ke elektrode yang lain. Sebagian dari
molekul-molekul cairan, senantiasa terurai menjadi ion-ion positif dan negatif.
Apabila kedalam cairan dimasukkan dua keeping logam yang masin-masing
dihubungkan kekutub-kutub sumber daya listrik, maka ion-ion akan bergerak dari
satu keping ke keping yang lainnya. Keping-keping tersebut bertindak selaku elektrode
positif dan elektrode negatif. Ion-ion positif bergerak ke elektrode negtif,
yakni ke keping yang dihubungkan ke kutub negatif sumber daya, dan ion-ion
negatif bergerak ke elektrode positif. Sesampainya di elektrode positif, ion negatif
melepaskan elektronnya ke elektrode tersebut dan menjadi gugusan-gugusan atom
netral.
Sebaliknya ion-ion
positif sesampainya di elektroda negatif akan menarik elektron dari elektrode
tersebut serta juga menjadi gugusan atom-atom netral. Gugusan atom-atom netral
segera bereaksi dengan air dan membentuk molekul-molekul baru yang yang lalu
terurai menjadi ion-ion lagi. Jadi hantaran listrik di dalam larutan elektrolit
itu tak lain ialah hantaran elektron-elektron dari elektrode negatif ke
elektrode positif dengan diangkut oleh ion-ion elektrolit. Hambatan tersebut
berasal dari gesekan dan tumbukan ion molekul dan sebaginya. Di lain pihak,
makin besar konsentrasi larutan elektrolit, makin besar daya hantar listriknya. (Soedojo,
1986)
Dibagian utama, konduktor listrik dapat secara tajam dibagi menjadi dua
kelas : konduktor logam atau elektronik, dan konduktor elektrolit. Logam,
paduan dan beberapa substansi lai seperti karbon, adalah konduktor kelas satu,
larutan garam terentu, garam cair, dan beberapa padatan seperti halida perak 1
dan bentuk perak sufida 2 (stabil diatas 179) merupakan konnduktor kelas kedua.
Jalur listrik melalui conduktor elektrolitik diketahui sebagau elektrolisis.
Garam terlarut atau cair dierbut elektrolit. Pada konduktro logam, lintasan
listrik terjadi tanpa pergerakan kuantitas materi yang dapat dipikirkan, dalam
konduktor kelas kedua, bagian arus saat ini selalu dikaitkan dengan transpor
materi. Selain itu, ada perbedaan penting antara dua kelas konduktor. Dengan
pengecualian karbon amorf, resistensi kondukstor kelas pertama meniagkat dengan
keinaikan suhu, bahwa konduktor kelas kedua menurun dengan peningkatan dalam
suhu.
Koefisien resisteansi untuk suhu dR/dt positif untuk metal dan paudan, dan
negtaif untuk karbon Amorf, Grafit, dan konduktor kelas kedua. Beberapa zat telah
diselidiki yang tampaknya menjembatani kesenjangan antara kelas pertama dan
kedua. Konduktor, konduksi dalam zat ini adalah bagian logam dan bagian
elektrolit, oleh karena itu zat ini telah disebut konduktor campuran. Misalnya
bentuk β perak sulfida (stabil dibawah 179º) adalah konduktor campuran, sekitar
80 % konduksi menjadi elektrolit dan 20% sisanya logam.
Pada suhu diatas 200º, banyak garam
logam terutama halida telah ditemukan bertindak sebagai konduktor elektrolit.
Pemilihan larutan padat Oksigen dalam Zirkonium telah dipelajari antara 1600º dan 1800º dna
telah ditemukan bahwa oksigen bergerak melalui kisis, sehingga meningkatkan
konsentrasinya pada ujung positif konduktor. Menurut penyelidikan Kraus,
konduksi dalam larutan logam alkali dan alkali tanah dalam amonia cair adalah
bagian logam dan sebagian elektrolit.
Ketika potongan-potongan foil
platinum melekat pada dua kutub sel Daniell, direndam dalam lartan encer dari
tembaga klorida.Tidak hanya tembaga yang diendapkan pada potongan foil yang
bergabung dengan kutub negatif dari sel, tetapi juga gelembung kklorin
dibebaskan pada bagian lain dari foil. Potongan-potongan foil ini disebut
elektroda. Elektroda yang melekat pada kutub positif dari sel disebut anoda,
yang bergabung dengan kutub negatif, katoda. Selama perjalanan arus listrik
melalui konduktor elektrolit, konstituen elektrolit bergerak melalui solusi dan
dari elektrolisis dan terbebaskan di elektroda.
Seperti
pada elektrolisis tumpangan tembaga ini bagaimanapun tidak selalu terbukti
karena fakta bahwa zat-zat yang dibebaskan di elektroda kadang-kadang bereaksi
dengan pelarut larutan. Produk-produk reaksi ini dapat diamati pada elektroda.
Produk dari banyak elektrolit, seperti garam logam alkali dari asam oksigen dan
alkali hidroksida, hanyalah hidrogen pada katoda dan oksigen pada anoda.
Sebelumnya,
telah diduga bahwa pembentukan gas-gas ini adalah proses sekunder, karena
interaksi dengan air dari logam dan radikal asam yang dibabaskan oleh arus.
Sekarang diketahui, bagaimanapun bahwa elektrolisis larutan tersebut terdiri
dalam dekomposisi utama air, kecuali dalam kondisi yang sangat khusus.
Selama
elektrolisis larutan tersebut, perubahan konsentrasi terjadi didekat elektroda.
Solusi tentang katoda menjadi basa, dan itu tentang anoda. Seringkali
unsur-unsur atau kelompok unsur yang dibebaskan selama perjalanan arus bereaksi
dengan bahan elektroda. Jadi, ketika larutan natrium klorida di elektrolisis
antara anoda perak dan katoda logam di lapisi dengan perak klorida, logam perak
terbentuk pada katoda dan perak klorida di produksi di anoda. Kadang-kadang
perubahan yang terjadi di elektroda jauh dari sederhana. Misalnya Centnerszwer
dan Drucker telah menu jukkan bahwa, ketika larutan kalium iodide dan natrium
iodide dalam cairan sulfur diooksida adalah elektrolisis, reaksi yang sangat
kompleks terjadi pada katoda.
Ada
kemungkinan bahwa logam alkali pertama berisah pada elektroda ini dan kemudian
bereaksi dengan pelarut untuk membentuk hidrosulfit, yang kemudian terurai
menjadi tiosulfat dan pirosulfit. Karena perjalanan listrik melalui konduktro
elektrolit selalu dikaitakn dengan gerakan materi dan pemisahannya di
elektroda, wajar untuk menanyakan apakah ada hubungannya antara kuantitas
listrik yang melewati solusi dan kuantitas materi yang msmisahkan di elektroda.
Penelitian briliian dari ilmuan Inggris ternama, Michael Faraday (1791-1867),
mengarah pada penemuan hubungan ini yang ia nyatakan dalam dua hukum terkenal,
pada tahun 1833. Hukum pertama Faraday dari elektorlisis menyatakan fundamental
hubungan yang ada antara kuantitas lsitrik yang melewati solusi dan jumlah zat
yang dibebaskan pada elektroda.
Hukum
pertama ini menyatakan jumlah zat yang dibebaskan di elektroda berbanding lurus
dengan kuantitas listrik yang melewati larutan. Hukum kedua elektrolisis
Faraday mengungkapkan hubungan mendasar antara jumlah zat yang dibebaskan di
elektroda dengan jumlah listrik yang sama. Undang-undang kedua menyatakan,
jumlah listrik yang sama menyebabkan jumlah setara zat yang sama di elektroda.
Jadi, jumlah perak yang dibebaskan elektroda selama perjalanan 10 coulomb
listrik melalui larutan garam perak adala dua kali lipat yang diendapkan ketika
5 coulomb melewati larutan.
Pengeluaran
jumlah listrik yang sama melalui larutan tembaga klorida, besi bromina, seng
iodida, dan asam hidroklorat, memberikan sejumlah bebas tembaga, klorin, besi,
bromina, seng, yodium, dan hidrogen yang sebanding dengan bobot ekuivalennya. Jumlah
gram elemen atau sekelompok elemen yang diatur bebas dengan jalannya 1 coulomb
listrik melalui suatu konduktor
elektrolitik disebut ekuivalen elektrokimia dari unsue atau kelompok. Menurut
suatu hukum yang dinyatakan oleh seorang
ilmuan fisika, Faraday, setara elektrokimia sebanding dengan setara kimia.
Merupakan hal yang menarik untuk menghitung jumlah listrik yang dibutuhkaan
untuk membebaskan 1 yang setara dari suatu elemen atau kelompok unsur.
Sebagaimana yang telah sudah ditunjukkan, 1 couloumb listrik menetapkan 1,118
miligram perak bebas dari larutan garam perak. (Greighton Jermain,1951)
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Peralatan
dan Fungsi
·
USB perekam data
o Fungsi
: untuk membaca besaran data pengukuran dari modul surya
·
Kabel USB
o Fungsi
: sebagai penghubung atau pemindah informasi dari perekam data ke laptop
·
Laptop yang telah terinstal Clean Energy Trainer
o Fungsi
: mengolah data yang di dapat dari perekam data
·
Adaptor
o Fungsi
: sebagai power supply untuk merubah
tegangan AC menjadi DC
·
Elektrolyzer
o Fungsi
: tempat proses elektrolisis
·
Selang
o Fungsi
: untuk memasukkan larutan elektrolit ke elektrolyzer
·
Tabung penyimpanan
o Fungsi
: untuk meyimpan
·
Tabung penampung
o Fungsi
: untuk menampung
·
Charger Laptop
o Fungsi
: untuk mengisi daya baterai pada laptop
·
Cok sambung
o
Fungsi : untuk menyambungkan peralatan dengan sumber arus listrik (PLN)
·
Kabel penghubung
o
Fungsi : sebagai penghubung antara peralatan
3.2
Bahan Dan Fungsi
1.
Air distilas (Aquades)
Fungsi : Digunakan
sebagai sampel yang akan di elektrolisis sehingga menghasilkan
Hidrogen.
3.3 Prosedur Percobaan
1. Disiapkan
semua peralatan dan bahan.
2. Dirangkai seperangkat alat elektrolyzer
3. Dihubungkan tabung penyimpanan dan tabung penampung ke elektrolyzer.
4. Dihubungkan perangkat elektrolyzer dengan USB perekam data dengan kabel penghubung.
5. Dihubungkan
USB perekam data dengan laptop
menggunakan kabel USB.
6. Dibuka aplikasi Clean
Energy Trainer.
7. Dipilih tab electrolyzer.
8. Diisi kedua tabung dengan
dengan air terdistilasi hingga batas tabung.
9. Diatur software pada mode manual.
10. Diatur
tegangan pada 2000 mV.
11. Dibuka
klep pada samping tabung.
12. Diperhatikan penurunan aquades
pada tabung per 5 mm.
13. Dicatat
waktu yang dipakai.
14. Setelah
30 mm pada tabung H2, tegangan diubah menjadi 0 mV.
15. Kemudian
diubah mode menjadi mode automatic.
16. Diklik
start.
17. Dicatat
data yang dihasilkan pada table karakteristik.
18. Setelah
selesai software ditutup dan laptop
di shutdown.
19. Dirapikan
kembali alat yang sudah digunakan.
BAB IV
HASIL DAN ANALISA
4.1. Data Percobaan
4.
Proses elektrolisis air adalah Elektrolisis air
adalah peristiwa penguraian senyawa air
(H2O) menjadi oksigen
(O2) dan hidrogen
gas (H2) dengan menggunakan arus
listrik yang melalui air tersebut. Pada
katode, dua molekul air bereaksi dengan menangkap dua elektron,
tereduksi menjadi gas H2 dan ion hidroksida (OH-).
Sementara itu pada anode, dua molekul air lain terurai menjadi gas oksigen
(O2), melepaskan 4 ion H+ serta mengalirkan elektron ke
katode. Ion H+ dan OH- mengalami netralisasi sehingga
terbentuk kembali beberapa molekul air. Gas hidrogen dan oksigen yang dihasilkan
dari reaksi ini membentuk gelembung pada elektrode
dan dapat dikumpulkan. Prinsip ini kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan
hidrogen dan hidrogen peroksida (H2O2) yang dapat
digunakan sebagai bahan bakar kendaraan hidrogen.
4.3. Gambar Percobaan
BAB V
KESIMPULAN
5.1
Kesimpulan
1. 1 Dari percobaan yang dilakukan dapat diketahui
prinsip kerja elektrolyzer yaitu menguraian senyawa air (H2O)
menjadi oksigen (O2) dan hidrogen gas (H2) dengan
menggunakan arus listrik yang melalui air tersebut. Pada katode, dua molekul
air bereaksi dengan menangkap dua elektron, tereduksi menjadi gas H2
dan ion hidroksida (OH-). Sementara itu pada
anode, dua molekul air lain terurai menjadi gas oksigen (O2),
melepaskan 4 ion H+ serta mengalirkan elektron ke katode. Ion H+
dan OH- mengalami netralisasi sehingga terbentuk kembali beberapa
molekul air. Gas hidrogen dan oksigen yang dihasilkan dari reaksi ini membentuk
gelembung pada elektrode dan dapat dikumpulkan. Prinsip ini kemudian
dimanfaatkan untuk menghasilkan hidrogen dan hidrogen peroksida (H2O2)
yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan hidrogen.
1. 3. Aplikasi percobaan dalam kehidupan
sehari-hari :
·
Bahan bakar kendaraan
hidrogen.
·
Pembuatan beberapa
bahan kimia
·
Pemurnian logam
· Penyepuhan logam
DAFTAR PUSTAKA
Nasruddin. 2013. Fisika Dasar Edisi Kedua. Medan
: USU Press.
Halaman : 133-136, 139-140145,148-149,154,164-165
Soedojo, Peter. 1986. Azas-Azas Ilmu Fisika Jilid 2.
Yogyakarta: Gadjah Mada University
Halaman : 111-113, 115-120, 136, 149-150
Greighton, Jermail. 1951. Principles And Applications Of
Electrochemistry. London : John wiley
& sons, INC
Pages: 12-17





Tidak ada komentar:
Posting Komentar