BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Cahaya bukan
satu-satunya contoh gelombang elektromagnetik. Walaupun semua sifatnya memiliki
pokok yang sama seperti interaksi dengan banyak materi yang bergantung dengan
frekuensi gelombang. Gelombang cahaya merupakan frekuensi pendek yang terentang
antara 4,3 x 1014 Hz hingga 7,5 x 1014 Hz (dari warna
merah hingga warna ungu) cepat rambat cahaya sebesar 3 x 108 m/s. Karakteristik gelombang
elektromagnetik seperti pula gelombang cahaya, dapat mengalami superposisi atau
bergabungnya amplitudo gelombang-gelombang yang satu fase atau satu arah dalam
amplitudo sesaat. Amplitudo adalah nilai maksimum dari perut gelombang.
Selain
itu gelombang dapat mengalami interferensi konstruktif dan interferensi
destruktif, interferensi berarti gabungan gelombang yang bertemu dapat
menghasilkan gelombang baru atau saling meniadakan pengaruh satu sama lain.
Salah satu contohnya melalui percobaan difraksi (oleh Young) pada pelajaran
optik fisis. Ada nilai-nilai yang terekam sebagai daerah pita terang dan daerah
pita gelap. Percobaan Hertz menunjukkan bahwa pada salah satu celah pemancar
(transmiter) jika cahaya ultraviolet diarahkan pada salah satu logam target
akan memancar loncatan elektron saat diberi frekuensi cahaya yang sangat
tinggi. Gejala ini dinamakan Efek Fotolistrik.
Gelombang
cahaya membawa energi dan sebagian energi diserap oleh logam yang
terkonsentrasi pada permukaan (terutama elektron pada kulit valensi di
permukaan logam) yang dengan serta merta spontan menyerap energi cahaya pada
frekuensi tinggi tersebut untuk dipertukarkan dengan energi statisnya, jika
terjadi transaksi energi yang memadai maka elektron pada permukaan logam (kulit
valensi) akan terlempar dan muncul sebagai energi kinetik.
1.2 Tujuan
1. Untuk menentukan panjang gelombang dari masing-masing spektrum warna yang tampak dalam percobaan.
2. Untuk menentukan nilai energi pada masing-masing spektrum warna.
3. Untuk menentukan harga konstanta Planck percobaan dalam percobaan.
BAB II
DASAR TEORI
Sinar putih adalah campuran berbagai warna. Terurainya warna-warna sinar putih setelah dibiaskan oleh prisma disebabkan oleh berbedanya indeks bias untuk masing-masing warna. indeks bias warna biru lebih besar dari pada indeks bias warna merah sehingga warna biru lebih dibiaskan daripada warna merah. Analisis hasil uraian warna dari kisi difraksi memberikan sebuah kesimpulan bahwa panjang gelombang cahaya selaku gelombang elektromagnetik menentukan warna cahaya. Jadi untuk warna tertentu, panjang gelombang tertentu pula. Ini berart bahwa indeks bias cahaya tergantung pada panjang gelombangnya. variasi indeks bias terhadap warna atau gelombang yang demikian dinamakan dispersi.
Untuk memberikan ukuran kemampuan suatu bahan gelas dalam menguraikan warna dipilihlah 3 warna tertentu, dengan mengingat bahwa panjang gelombang cahaya selaku gelombang elektromagnetik berkisar antara 4000 amstrong – 7000 amstrong dengan warna yang paling cemerlang pada panjang gelombang5890 amstrong. Ketiga warna tersebut dipilih dengan panjang gelombangnya 4861 amstrong, 5890 amstrong, dan 6563 amstrong.Ketiga panjang gelombang tersebut adalah panjang gelombang yang disebut garis-garis F, D dan C yang berturut-turut berwarna ungu, kuning, dan merah dalam spektrum cahaya.
Menurut grafik dispersi bayang mengikuti persamaan empiris dengan A dan B
ialah tetapan-tetapan yang tergantung pada jenis bahan/medium pembias.udut deviasi perti yang terlihat pada gambar yaitu sudut antara sinar datang
dan sinar sesudah lewat prisma, kecuali tergantung pada indeks bias bahan prisma juga
tergantung pada puncak prisma maupun arah sinar datang.Besar kecil warna dari satu prisma
dinyatakan dengan apa yang dinamakan dispersi daya. Makin besar sudut deviasi, makin besar uraian wama itu. Maka kemampuan penguraian warna berbagai-bagai bahan gelas dapat
dipertanggungjawabkan dengan membandingkan sudut urainya, yaitu sudut antara Arah sinar garis F dan Arah sinar garis C setelah dibiaskan, persatuan sudut deviasi rata-rata, yakni sudut
deviasi sinar untuk garis D.Agar daya dispersi itu hanya tergantung pada suatu puncak pisma.
Karena sifat penguraian wama demikian, prisma dipakai selaku untuk komponen-komponen warna
sumberdinamakan spektroskoop. Dalam alat yang
disebut Spektroskop pandang
langsung diusahakan agar si alat tetap pada arah sinar datang agar untuk spektrum warma,
alat tersebut yang terdiri seperti teropong langsung diarahkan ke sumber cahaya. Untuk
itu dipakai dua
prisma yang digabungkan sehingga terjadi
uraian warna. (Soedojo,1992) Kita telah mengatur kedudukan dan perbesaran bayangan yang dihasilkan cermin atau ikatan,
dapat dihitung
dengan anggapan bahwa cahaya merambat menurut garis lurus dalam medium
homogen, dan sinar cahaya dideviasikan melalui sudut-sudut yang tertentu pada bidang yang
memisahkan dua medium berlainan.Penentuan tempat yang merupakan bayangan merupakan geometrik, dan metoda yang dipakai untuk ini adalah opika-geometrik. Dalam hal ini kita
akan membicarakan fenomena (gejala) interfensi dan difraksi, terutama bagi mereka yang belum cukup
mempunyai pemahaman tentang
azas-azas
optika-geometrik. Disini kita kembali menelaah lebih dalam lagi tentang pandangan dasar cahaya merupakan rambatan gelombang,
dan
efek rambatan gelombang yang tiba pada satu titik tergantung pada fase gelombang dan
amplitudonya.Pegetahuan mengenai
ini disebut optika-fisik.
Pada setiap titik dimana dua atau lebih rentetan gelombang
bergabung
menjadi satu maka gelombang-gelombang
ini dikatakan berinterferensi. Ini bukan berarti bahwa rentetan
gelombang yang
satu merintangi yang
lain, yang lainkan terjadi efek kombinasi kedua gelombang itu (kedua gelombang itu berimpitan pada titik tersebut). Azas superposisi
pengaturan pemindahan resultan pada
setiap titik dan setiap saat, dapat dicari dengan
menambah pengiriman pemindahan yang
akan dihasilkan oleh
masing-masing rentetan gelombang dititik itu. Istilah “pemindahan "
yang dipakai di sini merupakan istilah umum. Jika kita melihat suatu
kerutan permukaan pada suatu cairan, makapemindahan sebenarnya
terjadi atas atau di bawah permukaan yang normal. Jika gelombang-gelombag itu adalah
gelombang bunyi, maka istilah
itu
menyatakan
tekanan lebih
atau
kurang. Jika
pada gelombang elektromagnetik, maka perpindahan diartikan sebagai perubahan intensitas medan
listrik atau magnet.Yang menjadi persoalan tentang efek pada gelombang cahaya yang
datang
dari berbagai sumber tentang titik
itu. Untuk mudahnya, ambil dua titik sumber saja.Jika
gelombang-gelombang yang
meninggalkan sumber-sumber ini
berangkat dengan fase yang sama, merambat pada jalan yang
berlainan dan kemudian tiba bersama-sama pada sebuah layar,maka gelombang-gelombang akan tiba dengan fase yang sama. Jika demikian halnya,
maka kedua gelombang
itu
saling
menguatkan sesamanya. Namun,
mengapa salah
satu sumber itu mungkin mengubah fase yang tiba-tiba, setelah mana kedua gelombang itu mulai merambat dari dua sumber dengan fase yang berbeda. Bila gelombang-gelombangyang baru
ini datang bersama-sama
pada layar,
maka gelombang itu
tidak akan saling menguatkan.
Ini
merupakan sifat
dasar dari atom-atom
atau
molekul-molekul
scbuah sumber
cahaya, yang terus-menerus dikirim, yang menyebabkan fase penggantian yang berulang- ulang dalam cahaya jang
dipancarkan itu. Untuk dapat mengalihkan pembicaraan, perlu mempunjai dua sumber yang memancarkan gelombang cahaya, yang pada saat berangkat,
selalu dalam fase yang sama. Hal ini tidak pernah dapat dihasilkan dengan dua sumber yang
terpisah.Bahkanjika gelombang cahaya dari sumber yang terpisah mempunyai fase yang sama
pada suatu waktu, maka seketika itu
diduga gelombang-gelombang
itu akan berubah fasenya. Untuk
menghasilkan dua gelombang cahayayang kembali dua titik pada fase yang sama, maka perlu untuk
memulai dengan hanya satu gelombang cahaya dan menyusun gelombang
ini menjadi dua
bagian, masing-masing
merambat melalui jalan yang berbeda, akhirnya
gelombang
itu dimaksudkan bertemu pada titik yang sama pada suatu layar. Dalam fase ini, pada fase transisi,
di mana cahaya asal mengalami pembagian menjadi dua bagian, yang
karena itu meninggalkan titik
tolak tertentu dalam fase yang
sama. Dua titik
semacam ini
disebut sumber koheren.
Jika
jarak antara sumber-sumber terdiri dari banyak panjang gelombang, maka akan
terdapat sekali bidang-bidang
dimana gelombang-gelombang
saling memperkuat, banyak sekali tepi-tepi hiperbola terang dan gelap harus lurus terletak di atas layar yang sejajar dengan garis yang menghubungkan sumber-sumber itu. Sejumlah besar lingkaran-lingkaran yang bertepi terang dan gelap berganti-ganti, akan terbentuk pada layar yang
tegak lurus pada garis yang menghubungkan
sumber-sumber tersebut. (Zemansky, 1960) Langkah pertama Planck pada dasarnya adalah empiris. ia menemukan bahwa dengan
memasukkan -1 ke
dalam penyebut rumus wien untuk diperoleh, dan dengan menyesuaikan konstanta wien, ia bisa mendapatkan formula yang
direduksi menjadi rumus atau panjang
gelombang
Rayleigh dan yang
sesuai dengan kurva eksperimental di mana-mana. Dia tahu bahwa dia telah menemukan formula yang benar dan itu harus diturunkan. Posisi Planck sedikit seperti posisi seorang siswa
yang telah mengintip jawaban di belakang buku dan
sekarang dihadapkan dengan tugas untuk menunjukkan bagaimana jawaban itu dapat dihitung secara logis. Planck mencoba dengan setiap metode yang bisa dibayangkannya untuk mendapatkan formula yang benar ini dari fisika klasik. Dia akhirnya dipaksa untuk memasukkan bahwa tidak ada cacat dalam derivasi Rayleigh dan bahwa cacat itu harus terletak pada teori klasik itu sendiri. Planck harus menghilangkan "bencana ultraviolet" yang datang ke derivasi Rayleigh karena asumsi bahwa gelombang radiasi berdiri memiliki fundamental dan juga jumlah mode harmonik getaran yang tak terbatas. masing-masing diasumsikan memiliki energi rata-rata kt. Alih-alih jika mengambil energi rata-rata per mode menjadi langsung, Planck memeriksa masalah ini secara lebih rinci. Mari kita, seperti yang dilakukan Planck, berasumsi bahwa setiap mode hanya dapat menerima energi dalam langkah-langkah terpisah, u. Kandungan energi dari satu mode adalah 0, u, 2u, 3u, dll., Atau secara umum. Di mana m adalah bilangan bulat. (Metode pada titik ini melibatkan mengikuti prosedur yang digunakan oleh Boltzmann pada tahun 1877 untuk menentukan distribusi energi kinetik antara molekul dalam gas.) Jumlah osilator yang memiliki energi, seperti yang diberikan oleh undang-undang distribusi Boltzmann. Ingat bahwa derivasi ini energi dari sebuah osilator telah diasumsikan sebagai bilangan bulat dikali sejumlah energi kecil. Fisika klasik mengatakan energi mungkin memiliki nilai apapun. Ini mengatakan bahwa mungkin sangat kecil dan dalam batasnya mendekati nol. (Wehr, 1902) Masalah yang menyebabkan lahirnya teori kuantum adalah spektrum cahaya kontinu yang dihasilkan ketika suatu benda padat atau cair dipanaskan hingga bercahaya, seperti pada filamen bola lampu atau batang baja panas-merah. Fenomena ini tidak bersifat atomik, karena atom-atomnya sangat rapat dan terus-menerus berinteraksi satu sama lain, benar-benar mengganggu cara alami mereka menghasilkan cahaya. Ketika atom diisolasi, Seperti dalam gas, setiap elemen memiliki karakteristik Spektrum Garis. tetapi dalam kondisi yang lebih kental, semua bahan menghasilkan cahaya pijar yang hampir sama.Spektrum cahaya pijar tentu kontinu: cahaya dipancarkan di semua frekuensi. Kecerahan relatif dari berbagai warna tergantung pada suhu. saat sebuah benda dipanaskan, ia pertama-tama bersinar merah, tetapi ketika suhu naik, warna bergeser ke arah biru. Efek ini menjadi bidang penelitian penting dalam dua dekade terakhir abad kesembilan belas, sebagian sebagai hasil dari kesuksesan lampu listrik pijar Edison. Memahami spektrum ini dari sudut pandang teoritis adalah sebagai masalah dalam mekanika statistik, yang telah secara konsisten menangani panas dari konvergensi ke dalam badai energi lain, seperti pada mesin uap dan dalam reaksi kimia. Teori tersebut telah menunjukkan bahwa bahan-bahan yang terlibat dalam transformasi ini tidak begitu penting, seperti yang terlihat dengan cahaya pijar.Upaya pertama menunjukkan hasil yang menggembirakan. Terbukti sederhana untuk memperhitungkan fakta bahwa energi total
yang dipancarkan meningkat ketika
kekuatan keempat dari temperatur
absolut: teori itu juga
menjelaskan alasannya. ketika cahaya yang
dipancarkan berubah dari merah kusam melalui
oranye ke putih dan ke biru, saat suhu naik.Planck adalah seorang
profesional sejati dalam bidangnya,
fisikawan Jerman pertama yang berspesialisasi dalam teori
sejak
awal
pelatihannya.Dia
juga menikmati keuntungan dari kedekatannya dengan para peneliti
terkemuka di bidang ini.yang bekerja di universitasnya. Dengan demikian ia memiliki akses ke hasil mereka sebelum publikasi,
memberinya keunggulan dalam hal
pesaing.
Mengingat keunggulan ini, ia memutuskan untuk membiarkan data membimbingnya ke formula yang
tepat.Pencariannya dihargai awal tahun 1900. Tetapi menemukan formula enmpirical yang
tidak sesuai dengan data tetapi tidak didasarkan pada teori apa pun tidak
banyak memajukan pemahaman kita. Mekanika statistik adalah teori yang
dikembangkan dengan baik, dan Planck menetapkan standar
tinggi untuk karyanya sendiri.Selain itu, rumus ini
memiliki parameter semacam "faktor fudge” :yang
dapat ditentukan hanya dengan
mengutakatik nilainya hingga prediksi rumus sesuai dengan pengukuran. Saat ini parameter ini dikenali sebagai konstanta
Planckditetapkan oleh
simbol
(h), dan
dengan
konstanta gravitasi (G) dan
kecepatan
cahaya (c)
sebagai salah satu
faktor fundamental yang
menentukan sifat alam semesta
kita.Planck tahu dia harus mendapatkan nomor dari mekanika statistik atau memasukkannya melalui beberapa
hipotesis baru.Pada akhir
tahun, Planck telah
menemukan derivasi yang keras. Tapi itu dibawa melalui asumsi
bahwa itu sangat tidak masuk akal.Dia terpaksa berasumsi bahwa
konversi panas menjadi cahaya tidak dapat terjadi dalam jumlah berapa pun.Sama seperti setiap mata uang
di dunia memiliki koin terkecil,
konversi panas ke cahaya memiliki unit pertukaran terkecil.Ukuran unit ini tergantung
pada
frekuensi cahaya
yang
dihasilkan,
dan kemudian
disebut kuantum. Untuk frekuensi unit energi adalah
E = hv........................................................................................................................(2.2)
dengan E = mc2sebagai
salah
satu formula paling
signifikan dari abad kedua puluh. Pengenalan formula ini pada pertemuan masyarakat Fisik Jerman pada tanggal 14 Desember
1900,
sama saja dengan tanggal lahir teori kuantum.Dengan asumsi ini.diskontinuitas telah
memasuki fisika. Belum pernah ada kuantitas fisis penting yang dibatasi pada serangkaian
nilai yang
terpisah.Planck sendiri jauh dari yakin bahwa kuantum harus diambil dengan hati- hati. Mungkin ada beberapa cara
untuk menghilangkan aturan itu, atau menjelaskannya.
Kuantum mungkin tidak lebih dari stasiun jalan pada rute menuju pemahaman yang lebih
dalam.dan banyak fisikawan yang mengerjakan masalah itu berharap masalah itu akhirnya hilang. Planck mungkin telah
menemukan
aturan umum yang
akan beroperasi dimana-mana dalam domain atom, bukan untuk fenomena
satu ini. Salah satunya
adalah untuk melihat
apakah itu diterapkan pada cahaya itu sendiri dalam fenomena situasi lain. (March,1937)
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
1.1 Peralatan
dan Fungsi
1.
Induktor Rumhkorf
Fungsi : sebagai sumber tegangan.
2.
Tabung Hidrogen
Fungsi : sebagai
tempat lampu Pijar.
3.
Lampu Pijar
Fungsi : sebagai
sumber Cahaya.
4.
Kisi 300 lines/mm
Fungsi : untuk
menguraikan cahaya menjadi spektrum warna yang berasal dari lampu
pijar.
5.
Penggaris
Fungsi : Untuk mengukur
antara jarak kolimator ke lampu Pijar.
6.
Statif
Fungsi : sebagai
penyangga lampu Pijar dan tabung Hidrogen.
7.
Kabel Penghubung
Fungsi : sebagai
penghubung imduktor Rumhkorf ke sumber PLN.
8.
Lup (kaca pembesar)
Fungsi : sebagai
alat untuk memperjelas skala yang akan dibaca pada spektrometer.
9.
Spektrometer
Fungsi
: sebagai alat optik untuk mengamati spektrum warna
dan berbagai spektrum
sudutnya yang terdiri dari:
a.Teleskop
Fungsi :
Untuk mengamati spektrum warna yang terjadi.
b.Kolimator
Fungsi : Untuk memfokuskan
atau mensejajarkan cahaya dari lampu Pijar.
c.Meja Kisi
Fungsi : sebagai tempat untuk
meletakkan kisi.
d.Meja skala
Fungsi : untuk membaca besar sudut yang
dibentuk oleh spektrum warna.
10. Tissue/serbet
Fungsi : untuk membersihkan peralatan yang digunakan.
3.2 Prosedur
Percobaan
1. Dipersiapkan peralatan yang akan digunakan
2. Dihubungkan tabung Hidrogen ke statif
3. Dipasang lampu Pijar ke dalam tabung Hidrogen
4. Dihubungkan induktor Rumhkorf ke sumber PLN
5. Dinyalakan induktor Rumhkorf dan ditunggu hingga lampu
Pijar menyala penuh
6. Diukur jarak dari lampu Pijar ke kolimator dengan
jarak sejauh 3o cm
7. Disejajarkan kolimator dengan menggeser ke kiri-kanan
untuk mensejajarkan cahaya pada celah sempit agar sejajar dengan sumbu x dan
sumbu y
8. Dilihat sudut pada meja skala sebagai θstandar
nya
9. Diletakkan kisi 300 lines/mm pada meja kisi
10. Dicari spektrum warna yang akan dianalisi dengan
menggeser teleskop ke kiri dan ke kanan
11. Dibaca skala pada spektrometer untuk mengetahui besar
sudut spektrum warna yang akan diperoleh
12. Dicatat hasilnya pada kertas data
13. Diulangi percobaan yang sama hingga terlihat warna
yang lain
14. Dimatikan peralatan
15. Dibersihkan peralatan yang digunakan dan dikembalikan
ke tempat semula
BAB IV
HASIL DAN ANALISA
4.2 Analisa Data
1.
Mencari nilai deviasi untuk
masing-masing kisi
d = 1/N
Untuk kisi 300 lines/mm
= 300000 lines/m
d= 3,33 .106 m3
2.
Mencari nilai
θ = (θkiri – θ kanan )/2
3.
Mencari nilai
𝞴= d sin Ө
4.
Menentukan
nilai E dari masing-masing Warna
Epraktek = c/𝞴
5.
Menentukan nilai h dari
masing-masing warna
E
= h
6. Mencari % deviasi untuk masing-masing spektrum warna:
BAB V
KESIMPULAN
Aplikasi dari percobaan ini adalah :
Dalam kehidupan sehari-hari adalah pembuatan foto tiga dimensi yang disebut
hologram. Pada
hologram, berkas dari laser dipindahkan menjadi dua
berkas yaitu :
berkas acuan dan berkas benda. Berkas benda ini memantul dari benda yang akan difoto dan pola interferensi antara
berkas benda ini dan berkas acuan direkam pada
film fotonya.
Rumbai interferensi pada film
bertindak sebagai
kisi.
DAFTAR PUSTAKA
March.R.1937. Physics for
Poets.Boston:Mc Graw Hill
Pages
: 174-176
Soedojo.P.1992. AZAS-AZAS ILMU FISIKA.Cetakan pertama.Yogyakarta:Gadjah Mada
University Press
Halaman:
33-37
Wehr.R.1902. PHYSICS
OF THE ATOM.Canada:Addison Wesley Publishing Company
Pages:
80 – 83
Zemansky.M.1960. FISIKAUNTUK UNIVERSITAS.Jakarta:BINATJIPTA
Halaman: 852-856
LAMPIRANG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar