Jumat, 10 September 2021

Orientasi Panel Surya dan Tenaga Hidrogen - Laboratorium Zat Padat 1 - FISIKA

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Energi pada saat ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Selama ini penyangga utama kebutuhan energi masih mengandalkan minyak bumi .Sementara itu tidak dapat dihindarkan bahwa minyak bumi semakin langka dan mahal harganya. Dengan keadaan semakin menipisnya sumber energi fosil tersebut, di dunia sekarang ini terjadi pergeseran dari penggunaan sumber energi tak terbaharui menuju sumber energi terbaharui. Dari sekian banyak sumber energi terbahurui penggunaan energi melalui solar cell / sel surya merupakan alternatif yang paling potensial untuk diterapkan di wilayah Indonesia. Energi surya merupakan salah satu energi yang sedang giat dikembangkan saat ini oleh pemerintah Indonesia karena sebagai negara tropis, Indonesia mempunyai potensi energi surya yang cukup besar. Energi surya adalah sangat luar biasa karena tidak bersifat polutif, tidak dapat habis, dapat dipercaya dan tidak membeli.

2        BBH atau bahan bakar hidrogen (bahasa Inggrisfuel cell) adalah sumber energi masa depan yang bersifat ecoenergy dengan proses pembakaran yang hanya  akan  menghasilkan air dan energi (listrik dan panas). BBH berbeda dengan kerja aki. Jika aki menghabiskan zat dari dalam untuk bekerja, sel bahan bakar memanfaatkan zat dari luar, seperti hidrogen dan oksigen, dan terus bekerja tanpa henti selama sumber bahan bakar tersedia. Hidrogen dihasilkan melalui proses tertentu dan disimpan, sedangkan oksigen berasal dari atmosfer. Hidrogen yang disimpan akan dicampur dengan oksigen dari atmosfer dan terjadi reaksi kimia. Reaksi ini merupakan pereaksian pembentukan air yang membebaskan energi. Energi tersebut dikonversi menjadi listrik hingga mendekati 100% dan sisanya adalah panas.

1.2 Tujuan Percobaan   

1.      Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi nilai arus listrik yang dihasilkan oleh panel surya.

2.      Untuk megetahui orientasi dari pael surya terhadap sumber cahaya

3.      Untuk mengetahui aplikasi dari panel surya dan fuel cell.

4.      Untuk megetahui  prinsip kerja fuel cell

BAB II

LANDASAN TEORI

Sel bahan bakar adalah alat yang mampu membangkitkan arus listrik dengan memanfaatka adanya reaksi kimia. Setiap sel bahan bakar memiliki dua elektroda, satu positif dan yang lainnya negatif, yang lazim disebut anoda dan katoda. Reaksi yang menghasilkan listrik adalah reaksi yang terjadi pada elektroda.

Setiap sel bahan bakar juga memiliki elektrolit yang membawa partikel-partikel berlistrik

dari satu elektroda ke elektroda lainnya. Pada setiap sel bahan bakar juga terdapat katalis yang berfungsi mempercepat reaksi pada elektroda. Dan yang paling menjanjikan adalah tidak menimbulkan emisi gas buang yang berbahaya bagi manusia maupun lingkungan alam. Hidrogen adalah bahan dasar bahan bakar,tapi sel bahan bakar ini juga membutuhkan oksigen. Salah satu daya tarik sel bahan bakar ini adalah bahwa sel bahan bakar mampu membangkitkan listrik dengan dampak polusi yang sangat kecil. Hidrogen dan oksigen yang digunakan untuk membangkitkan listrik,akhirnya bereaksi menghasilkan suatu bentuk zat yang aman  (tidak merusak), yaitu air.

Salah satu hal penting dalam hal ini adalah,sebuah sel bahan bakar mampu membangkitkan listrik searah (DC) dalam jumlah sangat sedikit. Dalam kenyataannya banyak sel bahan bakar disusun menjadi suatu ‘stack’  (susunan/kumpulan sel-sel) untuk menghasilkan listrik energi yang besar.

Seiring perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin pesat,kebutuhan akan bahan bakar semakin meningkat, sdangkan cadangan bahan bakar minyak yang ada di perut bumi semakin menipis dan suatu saat nanti akan habis.

Oleh karena itu berbagai kemampuan manusia dikerahkan untuk mencari sumber energi baru untuk menggantikan sumber energi dari bahan bakar minyak atau bahan bakar fosil. Suatu sumber energi alternatif yang memiliki keunggulan terbaik adalah “sel bahan bakar oksida padat” atau “solid oxide fuel cell”, yang selanjutkan dapat kita sebut saja “fuel cell”. Keunggulannya adalah menggunakan elektroda-elektroda yang tidak mahal, dan elektrolit padat. Energi yang dihasilkan adalah energi listrik yang mudah diubah ke bentuk energi lain. Dan yang paling menjanjikan adalah tidak menimbulkan emisi gas buang yang berbahaya bagi manusia maupun lingkungan alam.                                                                                                        (Setyabudi, 2015)

Problem utama dalam pemanfaatan energi surya adalah faktor siang dan malam yang selalu bergantian datangnya sehingga kontinuitas perolehan energi surya selalu terputus pada malam hari. Meskipun demikian  manusia dapat memanfaatkan baik secara langsung maupun tak dapat secara langsung menggunakan bahan bakar alami yang ada  dibumi, untukya  menginformasikan

adanya alat.

langsung dengan bantuan pesawat-pesawat pengubah energi, yang mengubah energi surya menjadi tenaga listrik, tenaga mekanis dan pemanas air pada saat matahari sedang bercahaya. Dan yang paling menjanjikan adalah tidak menimbulkan emisi gas buang yang berbahaya bagi manusia maupun lingkungan alam. Saat ini energi surya dimanfaatkan baik dengan teknologi sederhana maupun canggih. Konversi energi surya dibedakan menjadi: umber tenaga listrik dari energi sury,enaga mekanis dari energi surya, Sistem pemanas air/udara melalui tenaga surya

 

Pembangkit listrik energi surya dalam pelaksanaannya dibagi atas 4 metode, antara lain:

 

1. Dengan sistem photovoltaic

 

2. Dengan sistem konversi photoelektrokemis

 

3. Dengan sistem penerima termal surya terditribusi

 

4. Dengan sistem penerima termal surya secara sentral

 

Sel surya dapat berupa alat semikonduktor penghantar aliran listrik yang dapat secara langsung mengubah energi surya menjadi bentuk tenaga listrik secara efisien. Alat ini digunakan secara individual sebagai alat pendeteksi cahaya pada kamera maupun digabung seri maupun paralel untuk memperoleh suatu harga tegangan listrik yang dikehendaki sebagai pusat penghasil tenaga listrik.

Hampir semua sel surya dibuat dari bahan silicon berkristal tunggal. Bahan ini sampai saat ini masih menduduki temapt paling atas dari urutan biaya pembuatannya bila dibandingkan dengan energi listrik yang diproduksi oleh pesawat-pesawat konvensional. Hal ini disebabkan oleh harga silikon murni yan masih mahal. Meskipun berbahan dasar pasir silikon (SiO2), tetapi untuk membuatnya diperlukan biaya produksi yang tinggi.

Konversi  dari  tenaga  surya  menjadi  tenaga  listrik  melalui  sel  surya  adalah  melalui tahapan proses berikut:

1.    Absorpsi cahaya dalam semikonduktor

 

2.    Membangkitkan serta memisahkan muatan positif dan negatif bebas ke daerah-daerah lain dari sel surya, untuk membangkitkan tegangan dalam sel surya

3.   Memindahkan muatan-muatan  yang  terpisah  tersebut  ke  terminal-terminal  listrik  dalam bentuk aliran tenaga listrik.Alat ini digunakan untuk kontrol instrumen elektronik pada satelit komunikasi pertama (Early Bird), dengan kekuatan terpasang sebesar 75 Watt. Roket Vanguard I yang diluncurkan tahun 1958 membawa satelit  generator photovoltaic sebagai  pendukung daya listrik utama, sedangkan  satelit  Intelsat  IV  menggunakan  generator  photovoltaic  berkekkuatan 600  Watt. Skylab yang menggunakan 312.000 sel surya dapat menghasilkan tenaga listrik untuk daerah- daerah terpencil, dapat digunakan untuk menyuplai lisrik untuk keperluan rumah tangga, indutri, pertanian, dan irigasi

Telah  disebutkan bahwa efisiensi  maksimum yang dapat  dicapai  secara  teoritis  dari generator photovoltaic adalah 25% sedang dalam pelaksanaanya bahkan berkurang hingga 15% saja. Hal tersebut disebabkan beberapa faktor, antara lain:

1. Adanya kerugian pantulan pada permukaan sel surya yang tidak dapat dihindari

 

2. Daya penyerapan yang kurang sempurna

 

3. Ikatan pada pasangan lubang elektron yang kurang sempurna

 

4. Timbulnya tahanan dalam secara seri yang menyebabkan tambahan lengkung degradasi

 

5. Suatu faktor tegangan

 

Berbeda  dengan  generator  photovoltaic  yang  menggunakan  elemen  silikon  (sistem kering), pada sistem ini konversi photoelektrokemis energi surya diubah melalui elektrolisa air (sistem basah) di mana melalui alat konverter tersebut ditumbuhkan tenaga listrik dan tenaga kemis  yang berupa gas  hidrogen sebagai bahan bakar.  Kalau  sistem  generator listrik, baik photovoltaic maupun konversi photoelektrokemis, mengolah gelombang sinar elektromagnetik menjadi tenaga listrik, dalam   sistem ini gelombang sinar thermisnya yang diubah menjadi tenaga listrik melalui konsentrator thermis pemanas fluida sebagai media utama penggerak turbin yang berfungsi menggerakkan generator listrik.

Dalam  pelaksanaannya  dibedakan  antara  sistem  penerima  kalor  melalui  kolektor- kolektor  pelat  datar  dan  sistem  penerima  kalor  yang  difokuskan pada  saluran-saluran pipa pemanas/penguap melalui konsentrator berbentuk parabola. Pada pesawat sistem penerima kalor yang berbentuk pelat datar, pipa-pipa penguap berada di bawah pelat-pelat datar penyerap utama kalor thermis dari energi surya, di mana suhu yang dapat dicapai berkisar antara 121°C sampai dengan 538°C sehingga lebih menguntungkan dan lebih efisiensi pula.

Cara kerja dari kedua pesawat adalah sama, yakni memanaskan fluida baik yang berupa air, natrium, maupun gas helium sebagai media utama penggerak turbin. Untuk pesawat yang menggunakan air,  uap  yang terjadi  ditampung dalam  suatu drum kolektor untuk kemudian didistribusikan ke pesawat-pesawat turbin penggerak generator listrik.           (Pudjanarsa,2006) Sebagian besar sel bahan bakar operasional adalah sel bahan bakar suhu rendah yang menggunakan hidrogen dan oksigen sebagai reaktan. Sebagian besar sel ini beroperasi pada suhu di bawah 500 K, dan sementara menurunkan suhu operasi meningkatkan efisiensi konversi, laju oksidasi atau output daya sel dapat ditingkatkan dengan meningkatkan tekanan sistem dan / atau

suhu. Sel bahan bakar redoks adalah sel bahan bakar oksigen hidrogen yang berbeda dari sel bahan bakar normal di mana reaksi kimia tidak terjadi pada elektron . Sel redoks memiliki dua larutan elektrolit yang dipisahkan oleh membran penukar ion dan gas reaktan digelembungkan melalui masing-masing elektrolit. Sel ini secara inheren kurang efisien daripada sel konvensional tetapi memiliki resistensi dan kerugian polarisasi yang lebih rendah dan berpotensi kepadatan arus yang lebih tinggi. Keuntungan utama sel ini adalah dapat beroperasi pada reaktan yang relatif tidak murni.

Banyak penelitian sedang dilakukan pada pengembangan sel bahan bakar suhu tinggi yang dapat digunakan untuk beroperasi dengan bahan bakar tidak murni dan murah, seperti hidrokarbon. Untuk memanfaatkan bahan bakar hidrokarbon, pertama-tama harus dipecah menjadi hidrogen dan karbon monoksida. Penggunaan dua gas bahan bakar (karbon monoksida dan hidrogen) dalam sel bahan bakar mempersulit pemilihan elektrolit dalam sistem ini. Selain itu,  karena  sistem  ini  beroperasi  pada  suhu  hingga  1200  K,  itu  menghalangi  penggunaan elektrolit berair dan lainnya untuk elektrolit padat atau garam cair. Dua kemungkinan elektrolit untuk sistem ini adalah campuran oksida atau semacam garam karbonat (CO3).

Setiap sel bahan bakar yang berhasil harus memenuhi dua persyaratan utama yaitu

 

invarian dan persyaratan reaktivitas. Persyaratan invarian menentukan bahwa sistem harus dirancang untuk beroperasi secara andal untuk jangka waktu yang lama. Tidak boleh ada keracunan katalis oleh kotoran dalam reaktan, tidak ada penyumbatan pori-pori elektroda, tidak ada gelembung melalui reaktan, dan tidak ada interdifusi og reaktan.

Persyaratan reaktivitas berkaitan dengan memperoleh energi maksimum yang mungkin dari reaksi kimia pada laju reaksi yang relatif tinggi. Jadi, penting bahwa semua atom bahan bakar teroksidasi sepenuhnya selama operasi sel. Laju reaksi juga dapat ditingkatkan dengan menggunakan elektroda berpori yang diambil untuk meningkatkan laju reaksi biasanya bertentangan dengan persyaratan invarian.

Sejumlah sel bahan bakar telah berhasil digunakan untuk aplikasi khusus. Sistem ini telah digunakan secara luas dalam program luar angkasa untuk aplikasi jangka pendek yang relatif seperti penerbangan ruang angkasa berawak dan misi Apollo ke bulan. Sayangnya, sel bahan bakar belum berkembang ke titik di mana mereka dapat memasok energi listrik ekonomis dalam jumlah besar secara efisien untuk jangka waktu yang lama. Bahkan, beberapa orang yang bekerja di bidang ini memiliki keraguan bahwa sel bahan bakar akan pernah memenuhi aplikasi tertentu itu.  Energi elektromagnetik dapat dikonversi langsung menjadi energi listrik dalam sel fotovoltaik, yang biasa disebut sel surya. Seperti sel bahan bakar , efisiensi konversi maksimum sistem ini tidak dibatasi oleh efisiensi siklus mesin panas yang dapat dibalik secara eksternal. Namun demikian, konversi energi matahari menjadi energi listrik terbatas pada efisiensi konversi yang relatif rendah

Prinsip pengoperasian sel fotovoltaik ditemukan oleh Adams and Day pada tahun 1876, menggunakan  selenium.  Pada  tahun  1919,  Coblenz  menemukan  bahwa  tegangan  diinduksi antara daerah yang diterangi dan gelap kristal semikonduktor. Namun, konversi fotolistrik pada dasarnya adalah fenomena laboratorium sampai 1941 ketika Ohl menemukan efek fotovoltaik di persimpangan p-n dari dua semikonduktor.                                                                  (Culp,1979) Cara yang baik untuk menemukan bagaimana kinerja sel surya adalah dengan melakukan tes khusus. Sel surya terestrial mengalami berbagai perubahan kondisi, beberapa di antaranya meningkatkan outputnya dan yang lain membatasi. Ada empat variabel yang memiliki efek signifikan: cahaya, suhu, luas sel, dan beban. Cahaya menyerang sel dalam jumlah yang bervariasi, sel surya terpapar ke berbagai suhu, sel surya diproduksi dengan berbagai dimensi atau jumlah luas permukaan, dan perangkat yang mengkonsumsi daya atau banyak ukuran yang berbeda melekat pada terminal ini. generator tenaga surya. Pengetahuan kita tentang fotovoltaik akan sangat maju jika kita bisa mengisolasi kondisi individu ini dan membiarkannya memengaruhi sel kita satu per satu.

Prosedur yang sehat secara ilmiah adalah menahan semua kecuali satu dari keadaan yang berubah saat memanipulasi variabel yang tersisa. Untuk menghemat waktu dan meningkatkan akurasi percobaan kami, akan lebih mudah jika kita bisa menggerakkan matahari di langit sesuka hati atau kadang-kadang menjaga posisinya tetap. Kami ingin memvariasikan suhu pada rentang yang luas, jadi akan sangat berguna jika kita dapat beralih dari musim panas ke musim dingin dan membawa salju beku atau menahan panas. Kami akan memiliki sel dengan berbagai ukuran untuk bereksperimen, dan sebagai beban kami akan menggunakan resistor variabel. Tempat uji akan berada di luar ruangan di permukaan laut di area terbuka yang luas tanpa penghalang atau tempat teduh.Kami membutuhkan beberapa instrumen untuk mengukur kinerja sel surya kita. Meter tegangan (voltmeter) dipasang di terminal sel surya, dan meter arus (ammeter) ditempatkan secara seri dengan beban. Pada siang hari matahari pada hari yang cerah, sebuah situs di bumi mengalami tenaga surya maksimum pada hari itu.                         (Buresch, 1983)

BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1  Peralatan dan Fungsi  

  1. Panel surya

Fungsi: sebagai alat yang akan menyerap cahaya yang dipantulkan terhadapnya

  1. Load measurement box

Fungsi: alat yang akan mengukur besarnya arus listrik yang dihasilkan oleh panel surya

  1. Banana Jack

Fungsi: sebagai penghubung panel surya dengan load measurement box dan penghubung antara panel surya, fuel cell dan mobil

  1. Lampu PAR 100-200 watt

Fungsi: sebagai sumber cahaya yang dipantulkan ke panel surya

  1. Penggaris 60 cm

Fungsi: sebagai alat yang akan mengukur jarak antara panel surya dengan sumber cahaya dan mengukur jarak lintasan mobil

  1. Busur derajat

Fungsi: alat yang akan mengukur sudut cahaya

  1. Fuel cell

Fungsi: sebagai wadah hidrogen dan oksigen direaksikan

  1. Mobil

Fungsi: sebagai alat untuk menguji tenaga hidrogen

9.      Stopwatch

Fungsi: untuk menghitung waktu tempuh mobil

10.  Senter

Fungsi: untuk melihat volume H2 dalam fuel cell

11.  Kacamata hitam

Fungsi: untuk menghindari mata dari sinar radiasi (cahaya lampu)

12.   Cok Sambung

             Fungsi: untuk menyambungkan arus dari PLN ke komponen

13.   Balok Kayu

             Fungsi: Sebagai penyangga mobil

 

 

3.2   Bahan dan Fungsi

1.    Air terdistilasi

Fungsi: untuk mempermudah menghasilkan Hidrogen yang akan digunakan sebagai bahan bakar

 

 

3.3  Prosedur Percobaan

3.3.1 Orientasi Panel Surya

1.         Disiapkan semua peralatan percobaan

2.         Disambungkan panel surya pada terminal current load mesurement box dengan menggunakan kabel-warna merah dengan warna merah dan warna hitam dengan warna hitam

3.         Diatur posisi sumber cahaya dengan jarak 20 cm antara sumber cahaya dan panel surya

4.         Diputar kenop load pada short circuit lalu tekan tombol ON/OFF

5.         Diperiksa layar hingga muncul angka pada LMB. Jika tidak muncul, periksa kembali sambungannya. Jika muncul angka negatif, maka sambungan terbalik dan anda perlu membetulkannya

6.         Diputar kenop load pada 3 Ω

7.         Diatur posisi panel surya dan sumber cahaya sehingga panel surya berhadapan langsung dengan sumber cahaya

8.         Dinyalakan lampu

9.         Digerakkan lampu mendekati atau menjauhi panel surya sambil dijaga sudut pencahayaan pada 0 derajat

10.     Diukur dan dicatat jaraknya

11.     Dituliskan arus yang tercantum pada ammeter

12.     Diulangi percobaan no 7, 8 dan 9 dengan mengubah sudut pencahayaan pada 10o,    

      20o, 30o, 40o, 50o, 60o, 70o, 80o dan 90o

13.     Dimatikan lampu

14.     Dikembalikan peralatan seperti keadaan awal/ dirapikan. 

3.3.2 Tenaga Hidrogen

1.        Disiapkan semua peralatan danbahan

2.        Diletakkan fuel cell pada posisi terbalik di permukaan yang datar

3.        Dilepaskan stopper yang ada pada silinder fuel cell

4.        Dituangkan air terdistilasi pada kedua silinder penyimpanan hingga air sejajar dengan tabung kecil di tengah silinder

5.        Disentuh perlahan fuel cell untuk membantu air mengalir menuju area di sekitar membran dan pelat besi pengumpul air

6.        Ditambahkan air hingga meluber ke tabung pada silider

7.        Dipasang kembali stopper pada silinder. Pastikan tidak ada udara pada silinder tersebut

8.        Dipasang kabel merah pada terminal warna merah dan kabel hitam pada terminal warna hitam pada panel surya

9.        Diaturjarak panel suryadenganlampu PAR 100-200 Watt minimal 20 cm

10.    Dihidupkanlampu

11.    Ditunggu higga Hidrogen pada tabung fuel cell terisipenuh

12.    Dicabutkabelpenghubung panel suryadan fuel cell

13.    Disiapkan stopwatch dan dalam posisi start

14.    Dipasang kabel merah dan hitam dari fuel cell ke terminal hitam dan merah pada mobil

15.    Ditekan start pada stopwatch

16.    Diamatai volume HIdrogen yang digunakandalamrentang 3 mL, 5 mL, 8 mL, 10 mL dan 13mL. Sambil dicatat waktu roda berputar

17.    Dikembalikan peralatan seperti keadaan awal/dirapikan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Percobaan

KESIMPULAN

5.1  Kesimpulan

1.      Faktor yang mempengaruhi nilai arus listrik yang dihasilkan panel surya:

-  Jumlah sinar matahari yang mencapai panel surya

  Intensitas cahaya matahari mempengaruhi karakteritik nilai arus-tegangan pada panel surya. Semakin tinggi iradiasi matahari maka daya yang dihasilkan modul sura akan semakin meningkat, dan sebaliknya.

-   Hambatan listrik beban  Panel surya sangat bergantung pada cahaya mathari untuk mengahasilakn tenaga listrik yang menghasilkan pengaruh nilai arus listrik. Cuaca yang tidak selamanya cerah tentu bisa berpengaruh terhadap tegangan listrik yang dihasilkan oleh panel surya.

-   Suhu ideal panel surya

Panel surya dapat bekerja dengan maksimal apabila kondisi sel terjagga pada suhu 25 derajat celcius sehingga sistem panel surya dapat bekerja dengan efisien.

-   Intensitas sinar matahari

Ada beberapa cara agar sistem panel surya surya di rumah mendapatkan sinar matahari yaitu dengan cara menentukan arah pemasangan panel surya di rumah serta mempertimbangkan sudut dari kemiringannya.

-   Orientasi panel surya

Pemasangan pv modul surya harus menhadap ke arah khatulistiwa, agar mendapat penyinaran yang optimal sehingga dapat menghasilkan energi yang maksimum.

 

2.      Orientasi panel surya terhadap sumber cahaya dapat kita lihat misalnya pada pemasangan pv panel surya yang harus menghadap arah khatulistiwa, agar pv panel surya mendapatkan penyinaran yang optimal sehingga dapat menghasilkan energi yang maksimum terhadap sumber cahaya. Pv panel surya yang dipasang di arah khatulistiwa harus diletakkan mendatar agar menghasailkan energi yang maksimum terhadap sumber cahaya.

4.      Kita dapat mengetahui bahwa prinsip kerja dari fuell cell adalah konversi energi kimia oleh bahan bakar CH3OH (methanol) menjadi energi listrik yang nilainya (tegangan dan arus yang mengalir) pada LM Box. Konversi energi kimia menjadi energi listrik yang mana gas dari H2 dialirkan kemudian dari O2 dialirkan ke katoda. Pada anoda terjadi pemecahan H2 yang akan menjadi proton dan elektron mengalir melalui membran sehingga elektron melalui molekul eksternal sirkuit. Dengan mengalirnya elektron-elektron ke katoda sehingga menghasilkan arus listrik.

DAFTAR PUSTAKA

Daniels, David k.Mc.1929. THE SUN OF FUTURE ENERGY SOURCE. New York: Jhon &

         Wiley & Sons.

         Edisi kedua.

         Pages: 159, 278-281.

Harper, Gavin D.J. 2007. SOLAR ENERGY PROJECTS FOR THE EVIL GENIUS. New York:    

         McGraw-Hill.

         Pages: 27-34, 129.

Kadir, Abdul. 1996. PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK. Jakarta: UI-Press.

         Halaman: 4-5, 65-67.

Pudjanarsa, Astu. 2006. MESIN KONVERSI ENERGI. Yogyakarta: C.V Andi Offset

          Halaman: 224-229.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Interface Input Output - Laporan Interface - FISIKA

  1.1   Latar belakang Jika I/O yang dipetakan dimemori sedang digunakan, seluruh keempat register itu merupakan bagian dari ruang alamat ...