Rabu, 17 Maret 2021

RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK - Laporan Praktikum FISIKA ATOM

 RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK

BAB I 

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

 

Gelombang elektromaknetik merupakan penggabungan dari listrik dan getran magnet yang merupakan perubahan posisi dengan kecepatan cahaya dan perubahan khusus dalam gelombang. Pada tahun 1864 adanya penelitian yang dilakukan fisikawan terhadap perubahan kecepatan pada suatu muatan yang diturunkan dari pada listrik dan distribusi magnet bahwa perpindahannya dapat diidentifikasi melalui celah. Dikarenakan gelombang elektromagnetik terbentuk oleh adanya rambatan medan magnet dan medan listrik, dimana perambatan kedua medan adalah manifentasidari satu gelombang yang disebut gelombang elektromagnetik. Oleh karena gambaran sifat gelombang pada medan elektromagnetik khususnya pada medium.Hal ini membuat banyaknya teori-teori baru yang hadir menjelaskan gelombang elektromagnetik yang semakin mendalam. Dan mampu mejelaskan tentang radiasi.

Radiasi elektromagnetik adalah proses pancaran dan perjalannan energi elektromagnetik, dalam gelombang elektromagnetik, dan efek yang diakibatkannya pada materi yang dikenainya. Radiasi elektromagnetik dapat berasal dari sumber radiasi tetap (seperti matahari).

Oleh karena itu pula banyaknya penjelasan menarik tentang radiasi gelombang elektromagnetik yang sangat penting untuk dibahas. Agar kiranya dengan praktikum yang dilakukan dapat membantu dalam pembelajaran didalam mata kuliah.


1.2  Tujuan Percobaan 

1.      1. Untuk menentukan perbandingan energi untuk masing-masing tapis dari tabung yang polos dan tabung yang dihitamkan karena perbedaan suhu.

       2. Untuk menentukan perbandingan suhu kalor untuk masing-masing tapis dari tabung yang polos dan tabung yang dihitamkan karena perbedaan suhu.

3.      3. untuk mencari panjang gelombang untuk masing-masing tapis dari tabung yang polos dan tabung yang dihitamkan karena perbedaan suhu.

BAB II 

DASAR TEORI

Gelombang elektromaknetik merupakan penggabungan dari listrik dan getran magnet yang merupakan perubahan posisi dengan kecepatan cahaya dan perubahan khusus dalam gelombang. Pada tahun 1864 Fisikawan Inggris James Clerk Maxwell membuatnya tertarik pada perubahan kecepatan pada suatu muatan yang diturunkan dari pada listrik dan distribusi magnet bahwa perpindahannya dapat diidentifikasi melalui celah. Bahwa perubahan getaran yang terjadi, mengalami gangguan pada gelombang yang diakibatkan keduanya tegak lurus dengan yang lainnya dan tujuan dari pada gelombang tersebut.

Dan setelah studi dari pada Faraday, Maxwell mengetahui  bahwa yang mengubah medan magnet dapat diakibatkan oleh kawat tertutup. Perubahan medan magnet pastinya akan sejalan dengan perubahan medan listrik. Lalu karena hal ini membuat Maxwell bertujuann mengubah kedua medan. Bahwa produk dari pada medan magnet dari induksi elektromaknetik mudah untuk digabungkan, karna terbuat dari sejenis besi yang dapat memperkecil hambatan pada saat mengalirkan muatan. Lemahnya medan magnet ialah banyaknya deteksi dan yang lainnya. dan Maxwell beranggapan bahwa yang terbaik ialah argumen sejajar dibanding menemukan dalam eksperimen.

Jika tanggapan Maxwell benar, gelombang elektromagnetik akan terjadi didalam berbagai konstanta listrik dan medan magnet. Dan Maxwell pun mampu menunjukkan tetapan cepat rambat pada gelombang elektromagnetik dengan bentuk  yang ia tetapkan dimana 0 adalah permitivitas elektron dari percepatan, 0 permeabilitas magnet. Sama halnya dalam gelombang cahaya. Yang merupakan yang Maxwell simpulkan bahwa cahaya mempunyai konstanta elektomagnetik yang tetap ataupun konstan.

Dalam cahaya, dijelaskan bahwa terdapat gelombang didalamnya, dan diduga bahwa cahaya terdiri dari pada gelombang elektromaknetik. Dalam kontribusi Maxwell dalam teori kinetik dan dalam statistik mekanik pada teori elektromaknetik. Yang menunjukkan perhitunga pada kecepatan yang ada pada gelombang cahaya tersebut haruslah tetap.

Cahaya bukan satu-satunya contoh dalam elktromagnetik, meskipun semua gelombang harus memiliki dasar yang sama, namun banyak hal lain yang saling berinteraksi didalamnya dengan selaras seperti terdapatnya frekuensi. Dalam gelombang cahaya, mata dapat merespon gelombang yang didapatkan dengan interfal frekuensi 4,3 1014 Hz sampai pada rentan 7,5 1014Hz pada cahaya ungu. Sama halnya pada spektrum gelombang pada radio yang dijadikan sebagai alat komunikasi seperti pada X-ray dan gamma danlainnya.

Dan untuk karakteristik terpenuhinya jika dikatakan suatu gelombang harus memiliki superposisi : “dimana dua gelombang atau lebih, atau yang sama seperti saat perjalanan alam, dan sama hal nya pada amplitudoyang merupakan jumlah gelombang singkat dan gelombang individu.                                                                                                                                (Beiser, 2003)

Fenomenda radiasi benda hitam memperoleh namanya melalui cara yang secara menarik terbalik. Dalam fisika klasik, benda hitam adalah benda yang menyerap semua radiasielektromagnetik yang jatuh padanya. Jika benda semacam itu menjadi panas, dia akan memancarkan energi yaitu radiasi benda hitam tetapi setelahnya tak akan menjadi hitam lagi. Dan hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan kita tahu bahwa sebuah objek seperti radiator pemanas dapat meradiasikan panas inframerah tanpa terlihat menyala, dan banyak benda yang beradiasi yang memiliki sifat yang sama dengan benda hitam, seperti matahar

iSekitar tahun 1890-an, ekesperimen telah menunjukkan secara pasti bagaimana radiasi benda hitam terkait dengan tempraturnya. Ketika spektrum elektromagnetik dari radiasi ini diplot sebagai grafik. Pada tempratur tertentu, puncaknya selalu berada pada bagian yang sama dari spektrum, yaitu pada panjang gelombang yang sama. Tetapi, ketika benda menjadi bertambah panas puncaknya bergerak ke arah panjang gelombang yang lebih pendek. Pada kurva benda hitam merupakan intensitas radiasi dari sebuah benda  panas memuncak pada panjang gelombang yang terkait dengan tempratur bendanya. Kurva benda hitam ini memuncak didaerah panjang gelombang inframerah dari spektrum dalam bentuk bukit, dan menghasilkan seidikit radiasi dari daerah spektrum daerah tampak.                                                                                                                                                               (Gribbin, 2002)

Jika membahas tentang panjang garis pengiriman dari awal hingga akhir terkadang terhubung pada sebuah generator yang konstan dengaan kuat arusnya V. Menganggap bahwa setelah satu waktu T/2  sifat berlawanan dari pada generator akan sebaliknya, bahwa ini terhubung dengan sifat sebaliknya untuk waktu T. Dan sifat lainnya di T lainnya, dan seterusnya. Waktu T merupakan periode yang memberikan sifat yang berbeda.

Bidang batas AA terus bergerak ke kanan dengan kecepatan c, seperti pada Gambar 1.Pada saat polaritas pertama kali dibalik, arus di kedua konduktor, garis, dibalik juga, dan pesawat batas baru BB didirikan yang juga bergerak ke kanan dengan kecepatan c.Pembalikan berikutnya membentuk pesawat CC, dan seterusnya.Situasi ini sangat mirip dengan situasi di dalam tabung yang berisi fluida ketika pendorong di ujung kiri bergerak bergantian bolak-balik dengan kecepatan konstan v antara pembalikan.  Perhatikan bahwa arus tidak sama di semua titik konduktor pada Gambar 1, tetapi bergantian ke kiri dan ke kanan di daerah yang berdekatan. Jika alih-alih membalikkan generator dc, kami menghubungkan generator ac di ujung kiri.  dari garis pada Gambar 1, satu-satunya perbedaan adalah bahwa tegangan akan mundur secara bertahap dan sinusoidal, bukan tiba-tiba Jika koneksi pertama tidak ada ketika terminal atas gen.erator berada pada potensi positif maksimum Vm, perbedaan potensial akan berkurang secara sinusoidal (atau secara kosinusoid) dari nilai Vm pada AA menjadi nol pada BB.  Kemudian akan meningkat ke Vm maksimum dalam arah yang berlawanan di titik tengah antara BB dan CC, turun ke nol pada CC, dan seterusnya.  Demikian pula, arus di konduktor atas akan menjadi maksimum ke kanan di AA, akan menjadi nol di BB, maksimum menuju tengah kiri antara BB dan CC, dan seterusnya.  Kami kemudian akan memiliki gelombang sinusoidal dari arus dan tegangan yang bergerak sepanjang garis dari kiri ke kanan.  Untuk situasi seperti itu pada Gambar 1 ada, perlu bahwa panjang garis harus panjang dibandingkan dengan jarak yang ditempuh oleh gelombang dalam waktu satu periode.

................................................................................................................(2.2)

dengan frekuensi yang cukup, oleh karena itu sebuah garis pada pertengahan panjang dapat dapat berakomodasi menjadipanjang daripada gelombang. Disepanjang gelombang sebuah garis lintasan memiliki pengaruh lebih pada istilah dari arus dan beda potensial. Jika diperhitungkan medan listrik dan medan magnet merupakan gabungan dari pada gelombang. Dimana intensitas medan listrik ditandai dengan E, dan pada medan magnet H yang keduanya saling tegak lurus disetiap lintasannya.

            Lalu jika membahas tentang radiasi yang diartikan secara sederhana berarti pancaran energi. Radiasi elektromagnetik adalah proses pancaran dan perjalannan energi elektromagnetik, dalam gelombang elektromagnetik, dan efek yang diakibatkannya pada materi yang dikenainya. Radiasi elektromagnetik dapat berasal dari sumber radiasi tetap “(seperti matahari). Dan dapat pula berasal dari partikel yang mengalami akselerasi. Dimana secara fisik radiasi elektromagnetik identik dengan hubungannya dengan gelombang elektromagnetik, khususnya tentang energi gelombangnya.

            Dikarenakan gelombang elektromagnetik terbentuk oleh adanya rambatan medan magnet dan medan listrik, dimana perambatan kedua medan adalah manifentasidari satu gelombang yang disebut gelombang elektromagnetik. Oleh karena gambaran sifat gelombang pada medan elektromagnetik khususnya pada medium “bebas” dimaksudkan bahwa dalam medium yang dirambati oleh gelombangtidak ada muatan listrik bebas dengan ketetapan ρ=0. Dalam medium seperti ini juga tak terdapat arus listrik, kecuali arus pergeseran yang berasal dari medan listrik, yang muncul karena hubungan J dengan ϭ dan E.                                                                                                   (Sears, 1963)

            Radiasi benda hitam merupakan salah satu contoh benda radiasi. Dikatakan benda hitam ialah benda yang dapat menyerap dan juga memancarkan radiasi secara sempurna. Benda semacam itu memancarkan dengan  sempuran yang berasal dari dirinya, dan menyerap seluruhnya (tanpa adanya pemantulan). Dan digunakan benda berbangun kotak dari bahan logam yang tahan akan panas, dengan ruang hampa didalamnya, dan dimasukkan kedalam oven, dan dipanaskan sampai suhu yang diinginkan, dan pada kotak diberikan celah kecil, tempat cahaya masuk kedalam, dan cahaya yang jatuh kedalam benda hitam yang masuk kedalam celah akan terserap sempurna.

Analisis terhadap distribusi energi sebagai fungsi dari frekuensi cahaya yang terpancar, yang memberikan gambaran pada kurva sesaui gambar 2, yang disebut sebagai kurva distribusi rapat energi. Dimana kurva ini berguna untuk menunjukkan  fungsi frekuensi benda hitam yang pertama kali dikemukakan ileh Lummer dan Pringsheim pada 1899. Namun kurva distribusi ini mampu melahirkan teori-teori dari beberapa ilmuan. Salah satunya ialah dari Rayleigh dan Jeans pada tahun 1900, melalui apa yang disebut teori distribusi Rayleigh dan Jeans dengan menjelaskan misal, energi total persatuan volume, yang ada dalam suatu kotak hitam, adalah U, dan bahwa kerapatan energi cahaya yang memiliki frekuensi antara v dan v+dv adalah u(v). Dalam teori Rayleigh dan Jeans menjelaskan , nilai untuk u(v) pada suatu harga suhu T, dengan kB=1,38 x 10-23 JK-4Yang merupakan tetapan Boltzmann, dan c adalah kecepatan cahaya. Dimana melalui persamaan ini didapati kebenaran akan harga dari frekuensi yang rendah.Teori lain yang ikut ambil bagian dikemukakan oleh Wien pada tahun 1893, dimana Wien menyatakan bahwa u sebagai fungsi panjang gelombang u(𝞴) dengan persamaan yang terbentuk d, dimana w(𝞴T) adalah suatu fungsi dari perkalian antara panjang gelombang 𝞴, dan suhu mutlak T.Meskipun secara umum namun rumusan Wien nampak benar untuk distribusi rapat energi benda hitam, namun persamaan tersebut juga belum lengkap.

Dan muncul teori lain oleh Max Planck pada 1900, Planck menjelaskan bahwa jika radiasi didalam benda hitam ada dalam kesetimbangan termal dengan atom-atom dinding didalamnya, maka akan terdapat hubungan antara distribusi rapat energi radiasi dengan energi atom-atom pada dinding tersebut. lalu Planck juga mengemukakan suatu model yang didasarkan bahwa atom-atom dinding benda hitam tersebut diakibatkan oleh kalor yang diterima, yang mengalami gerak osilasi harmonik, yang menganggap bahwa benda hitam hanya mampu menyerap atau memancarkan porsi-porsi energi dengan jumlah tertentu. Yang Planck nyatakan dengan persamaan , dengan h adalah suatu tetapan yang kemudian dikenal dengan tetapan Planck. Dan melalui perhitungan fisika ditemukan pula persamaan untuk distribusi energi radiasi, sebagai fungsi frekuensi, dengan k­­B juga adalah tetapan Boltzmann.

            Hal penting yang Wien nyatakan terhadap radiasi benda hitam ialah Hukum pergeseran Wien. Hukum ini ditemukan secara empirisoleh Wien pada 1896. Hukum pergeseran Wien menyatakan bahwa perkalian panjang gelombang dan suhu mutlak pada nilai energi radiasi maksimum adalah tetap. Atau yang secara matematik dituliskan , dimana b adalah tetapan Wien yang nilainya adalah 2,8789x10-23Jk. Yang diturunkan melalui perhitungan fisika dan didapati pula persamaan  yang mana merupakan persamaan transenden yang dapat diselesaikan antara lain melalui grafik, yaitu dengan membuat plot dari  fungsi dari fungsi-fungsi y= dan  kedua grafik yang didapatkan, akan berpotongan satu dengan yang lain pada suatu titik dengan absis x.
            Hal yang juga harus ditinjau atau hal lain-lain lagi yang juga perlu diperhatikan adalah Hukum Stefan-Boltzmann. Hukum ini menyatakan emitansi radiasi yakni merupakan energi yang dipancarkan oleh suatubenda hitam yang dijelaskan dengan satu persatu luas persatuan waktu yang sebanding dengan pangkat empat  dari suhu mutlak benda hitam tersebut, yang dituliskan secara  mutlak  , dengan ϭ = 5,6693x10-8 Wm-2 K-4 ,yang dikenal dengan tetapan Stefan-Boltzmann. Hal yang juga harus ditinjau atau hal lain-lain lagi yang juga perlu diperhatikan adalah Hukum Stefan-Boltzmann.                                                                                                                                                  (Juwono, 2017)

BAB III

 

METODOLOGI PERCOBAAN

 

 

3.1  Peralatan dan Bahan

        1.      Lampu pijar 100 watt

                Fungsi : sebagai sumber cahaya

2.      Reflektor

                Fungsi : untuk memfokuskan cahaya

3.      Tabung aluminium yang dihitamkan dan yang dipolis

                Fungsi : Sebagai wadah (tempat) yang akan diisi cairan

4.      Isolator dengan lubang celah

                Fungsi : untuk mencegah agar suhu cairan tidak terkontaminasi dengan suhu ruangan

5.      Tapis merah dan biru

                Fungsi : sebagai penyaring cahaya

6.      Termometer

                Fungsi : untuk mengukur suhu cairan

7.      Gelas ukur

                Fungsi : untuk mengukur volume cairan yang akan digunakan

8.      Penggaris

                Fungsi : untuk mengukur jarak tabung dengan lampu pijar atau sumber cahaya

9.      Tissue

                Fungsi : untuk mengelap / membersihkan peralatan

10.  Stopwatch

                Fungsi : untuk mengukur waktu saat penyinaran

11.  Serbet

                Fungsi : untuk mengelap / membersihkan peralatan

12.  Es batu

                Fungsi : sebagai sampel yang akan diukur besar

 

3.3 Prosedur Percobaan

 

3.3.1 Tanpa Tapis

a. Tabung yang dipolis   

1.      Disediakan alat dan bahan yang akan digunakan.

2.      Diletakkan sumber  infra red dengan reflektor yang berisi lampu pijar sebesar 100 watt.

3.      Diukur suhu ruangan dengan menggunakan termometer.

4.      Diukur sampel (es batu yang telah dicairkan) dengan menggunakan gelas ukur sebanyak 100 mL.

5.      Dituang sampel kedalam tabung yang dipolis.

6.      Ditutup tabung dengan isolator dengan lubang celah.

7.      Dihitung dan dicatat suhu awalnya dengan menggunakan termometer.

8.      Diukur dan diletakkan tabung yang dipolis sejauh 10 cm dari sumber infra red dan reflektor tanpa melepas termometer.

9.      Dihidupkan sumber infra red dan reflektor bersamaan dengan stopwatch.

10.  Diukur kenaikan suhu air yang ada didalam tabung yang dipolis setiap 3 menit, 6 menit dan 9 menit.

11.  Dicatat hasilnya pada kertas data percobaan.

b. Tabung yang dihitamkan

1.      Disediakan alat dan bahan yang akan digunakan.

2.      Diletakkan sumber  infra red dengan reflektor yang berisi lampu pijar sebesar 100 watt.

3.      Diukur suhu ruangan dengan menggunakan termometer.

4.      Diukur sampel (es batu yang telah dicairkan) dengan menggunakan gelas ukur sebanyak 100 mL.

5.      Dituang sampel kedalam tabung yang dihitamkan.

6.      Ditutup tabung dengan isolator dengan lubang celah.

7.      Dihitung dan dicatat suhu awalnya dengan menggunakan termometer.

8.      Diukur dan diletakkan tabung yang dihitamkan sejauh 10 cm dari sumber infra red dan reflektor tanpa melepas termometer.

9.      Dihidupkan sumber infra red dan reflektor bersamaan dengan stopwatch.

10.  Diukur kenaikan suhu air yang ada didalam tabung yang dihitamkan setiap 3 menit, 6 menit dan 9 menit.

11.  Dicatat hasilnya pada kertas data percobaan.

3.3.2 Tapis Merah

a. Tabung yang dipolis

1.      Disediakan alat dan bahan yang akan digunakan.

2.      Diletakkan sumber  infra red dengan reflektor yang berisi lampu pijar sebesar 100 watt.

3.      Diukur suhu ruangan dengan menggunakan termometer.

4.      Diukur sampel (es batu yang telah dicairkan) dengan menggunakan gelas ukur sebanyak 100 mL.

5.      Dituang sampel kedalam tabung yang dipolis.

6.      Ditutup tabung dengan isolator dengan lubang celah.

7.      Dihitung dan dicatat suhu awalnya dengan menggunakan termometer.

8.      Diukur dan diletakkan tabung yang dipolis sejauh 10 cm dari sumber infra red dan reflektor tanpa melepas termometer.

9.      Diletakkan tapis merah diantara sumber infra red dan tabung yang dipolis.

10.  Dihidupkan sumber infra red dan reflektor bersamaan dengan stopwatch.

11.  Diukur kenaikan suhu air yang ada didalam tabung yang dipolis setiap 3 menit, 6 menit dan 9 menit.

12.  Dicatat hasilnya pada kertas data percobaan.

b. Tabung yang dihitamkan

1.      Disediakan alat dan bahan yang akan digunakan.

2.      Diletakkan sumber  infra red dengan reflektor yang berisi lampu pijar sebesar 100 watt.

3.      Diukur suhu ruangan dengan menggunakan termometer.

4.      Diukur sampel (es batu yang telah dicairkan) dengan menggunakan gelas ukur sebanyak 100 mL.

5.      Dituang sampel kedalam tabung yang dihitamkan.

6.      Ditutup tabung dengan isolator dengan lubang celah.

7.      Dihitung dan dicatat suhu awalnya dengan menggunakan termometer.

8.      Diukur dan diletakkan tabung yang dihitamkan sejauh 10 cm dari sumber infra red dan reflektor tanpa melepas termometer.

9.      Diletakkan tapis merah diantara sumber infra red dan tabung yang dihitamkan.

10.  Dihidupkan sumber infra red dan reflektor bersamaan dengan stopwatch.

11.  Diukur kenaikan suhu air yang ada didalam tabung yang dihitamkan setiap 3 menit, 6 menit dan 9 menit.

12.  Dicatat hasilnya pada kertas data percobaan.

 

3.3.3 Tapis Biru

a. Tabung yang dipolis

1.    Disediakan alat dan bahan yang akan digunakan.

2.    Diletakkan sumber  infra red dengan reflektor yang berisi lampu pijar sebesar 100 watt.

3.    Diukur suhu ruangan dengan menggunakan termometer.

4.    Diukur sampel (es batu yang telah dicairkan) dengan menggunakan gelas ukur sebanyak 100 mL.

5.    Dituang sampel kedalam tabung yang dipolis.

6.    Ditutup tabung dengan isolator dengan lubang celah.

7.    Dihitung dan dicatat suhu awalnya dengan menggunakan termometer.

8.    Diukur dan diletakkan tabung yang dipolis sejauh 10 cm dari sumber infra red dan reflektor tanpa melepas termometer.

9.    Diletakkan tapis biru diantara sumber infra red dan tabung yang dipolis.

10.    Dihidupkan sumber infra red dan reflektor bersamaan dengan stopwatch.

11.    Diukur kenaikan suhu air yang ada didalam tabung yang dipolis setiap 3 menit, 6 menit dan 9 menit.

12.    Dicatat hasilnya pada kertas data percobaan.

b. Tabung yang dihitamkan

1.    Disediakan alat dan bahan yang akan digunakan.

2.    Diletakkan sumber  infra red dengan reflektor yang berisi lampu pijar sebesar 100 watt.

3.    Diukur suhu ruangan dengan menggunakan termometer.

4.    Diukur sampel (es batu yang telah dicairkan) dengan menggunakan gelas ukur sebanyak 100 mL.

5.    Dituang sampel kedalam tabung yang dihitamkan.

6.    Ditutup tabung dengan isolator dengan lubang celah.

7.    Dihitung dan dicatat suhu awalnya dengan menggunakan termometer.

8.    Diukur dan diletakkan tabung yang dihitamkan sejauh 10 cm dari sumber infra red dan reflektor tanpa melepas termometer.

9.    Diletakkan tapis biru diantara sumber infra red dan tabung yang dihitamkan.

10.    Dihidupkan sumber infra red dan reflektor bersamaan dengan stopwatch.

11.    Diukur kenaikan suhu air yang ada didalam tabung yang dihitamkan setiap 3 menit, 6 menit dan 9 menit.

12.    Dicatat hasilnya pada kertas data percobaan


3.2  Gambar Percobaan

  (Terlampir)


BAB IV

 

HASIL PERCOBAAN DAN ANALISIS

 

 

4.1 Data Percobaan

Volume air      : 100 mL

 Jarak               : 10 cm



        dst...


dst...


dst...




 BAB V

 

KESIMPULAN


5.1   Kesimpulan

1. Perbandingan energi untuk masing-masing tapis dari tabung yang dipolis dan tabung yan dihitamka karena   perbedaa suhu   adala semakin   besar Ketika   suhu mengalami kenaikan maka energi radiasi yang dihasilkan akan semakin besar.

2. Perbandingan kalor untuk masing-masing tapis dari tabung yang dipolis dan tabung yan dihitamka karena   perbedaa suhu   adala semakin   besar Ketika   suhu mengalami kenaikan maka kalor yang dihasilkan akan semakin besar yang juga dipengaruhi oleh suhu awal. Pada masing-masing tapis dari tabung yang dihitamkan memiliki kalor yang nilainya lebih besar dibandingkan dengan tabung yang dipolis, karena tabung yang dihitamkan menyerap semua radiasi yang diberikan.

        3. Perbandingan panjang gelombang untuk masing-masing tapis dari tabung yang dipolis dan                     tabung yang dihitamkan karena perbedaan suhu adalah semakin kecil. Ketika nilai rata-rata                    suhu yang dihasilkan semakin besar maka panjang gelombang untuk masing- masing tapis dari             tabung yang dipolis dan tabung yang dihitamkan akan bernilai kecil.     

 .             

DAFTAR PUSTAKA

 

Beiser, A. 2003. Concepts Of Modern Physics. Edisi Keempat. New york: Mc Graw

 

Hill.

 

Pages: 53-55

 

Gribbin, J. 2002. Fisika Kuantum. Jakarta : Erlangga

 

Halaman : 13-15

 

Juwono, A. 2001. Pendahuluan Fisika Kuantum. Edisi Pertama. Malang: UBpress.

 

Halaman:1-9

 

Sears, F W.1963. College Physics.Tokyo: Tosho Insatsu Printing Co Ltd.

 

Pages:742-743



 

LAMPIRAN

 

 

3.4.1 Tanpa Tapis

 

- Tabung yang polos



-Tabung yang dihitamkan





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Interface Input Output - Laporan Interface - FISIKA

  1.1   Latar belakang Jika I/O yang dipetakan dimemori sedang digunakan, seluruh keempat register itu merupakan bagian dari ruang alamat ...