Sabtu, 18 September 2021

thysistor (SCR) - laporan praktikum ELektronika DASar - FISIKA

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

        Thyristor adalah komponen elektronika yang berfungsi sebagai saklar (switch) atau pengendali yang terbuat dari bahan semikonduktor. Thyristor yang secara ekslusif bertindak sebagai saklar ini pada umumnya memiliki dua hingga empat kaki terminal. Meskipun terbuat dari semikonduktor, Thyristor tidak digunakan sebagai Penguat sinyal seperti Transistor. Istilah “Thyristor” berasal dari bahasa Yunani yang artinya adalah “Pintu”.

Pada prinsipnya, Thyristor yang berterminal tiga akan menggunakan arus/tegangan rendah yang diberikan pada salah satu kaki terminalnya untuk mengendalikan aliran arus/tegangan tinggi yang melewati dua terminal lainnya. Sedangkan untuk Thyristor yang berterminal dua yang tidak memiliki terminal kendali (GATE), fungsi saklarnya akan diaktifkan apabila tegangan pada kedua terminalnya mencapai level tertentu.

Level tegangan yang dimaksud tersebut biasanya disebut dengan Breakdown Voltage atau Breakover Voltage. Pada saat dibawah tegangan breakdownnya, kedua kaki terminal tidak akan mengaliri arus listrik atau berada di posisi OFF.

Membahas mengenai Saklar (Switch) elektronik, pada dasarnya kita juga dapat menggunakan Transistor. Namun jika dibandingkan dengan Transistor, Thyristor yang didedikasi sebagai Komponen Saklar ini akan dapat berfungsi lebih baik. Hal ini dikarenakan Transistor memerlukan tegangan/arus yang tepat untuk mengoperasikan fungsi saklarnya, jika tegangan/arus yang diberikannya tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan maka Transistor tersebut akan berada diantara keadaan ON dan OFF. Saklar yang berada diantara keadaan ON dan OFF bukanlah suatu saklar yang baik.

1.2   Tujuan

1.         Untuk mengetahui cara kerja dari SCR penyearah.

2.         Untuk mengetahui aplikasi dari SCR.

3.         Untuk mengetahui cara penggunaan SCR sebagai switching.

4.         Untuk mengetahui fungsi peralatan dan komponen.

BAB II

LANDASAN TEORI

Apa itu Perangkat Kerusakan?  Ini adalah perangkat solid-state yang kerjanya tergantung pada fenomena longsoran salju.  Mereka kadang-kadang disebut dengan nama generik thyristor yang merupakan saklar semikonduktor yang tindakan bistable tergantung pada umpan balik regeneratif P-N-P-N. Kita akan membahas perangkat berikut: Unijunction Transistor (UJT), Silicon Controlled Rectifier (SCR), Triac (kependekan dari 'triode ac'), Diac (kependekan dari 'diode ac'), Silicon Controlled Switch (SCS).

            Perangkat ini memiliki dua atau lebih persimpangan dan dapat dinyalakan atau dimatikan pada tingkat yang sangat cepat. Mereka juga disebut sebagai perangkat latching. Sebuah gerendel adalah sejenis saklar yang awalnya ditutup, tetap tertutup sampai seseorang membukanya. Unijunction Transistor Pada dasarnya, ini adalah dioda silikon tiga terminal. Seperti namanya, itu hanya memiliki satu persimpangan P-N.  Ini berbeda dari dioda biasa karena ia memiliki tiga lead dan berbeda dari FET dalam hal ia tidak memiliki kemampuan untuk transistor Unijunction.

            Namun, ia memiliki kemampuan untuk mengontrol karakteristik resistansi daya negatif yang besar yang membuatnya berguna sebagai OSE (a) Konstruksi. Ini terdiri dari panel yang didoping ringan dengan tipe-D yang didoping.  Aterial paduan ke satu sisi (B lebih dekat,) untuk menghasilkan persimpangan PN tunggal A ditunjukkan pada Gambar. 27.1 (a), ada tiga Eminals: satu emitor, E dan dua basis dan B, di bagian atas dan bawah bilah licon  .  Kaki emitor ditarik pada sudut n ke vertikal dan panah menunjukkan arah arus konvensional.

            UJT dalam kondisi konduksi. Interbase Resistance (RRR) ,Basis Emitor Silikon bar B, Basis Ini adalah perlawanan antara B, dan B, yaitu, itu adalah resistensi total dari bar silikon dari satu ujung ke ujung lainnya dengan terminal emitor terbuka . Dari rangkaian ekivalen Gambar 27.2 (b), terlihat bahwa Rap = R2 + R Perlu dicatat juga bahwa titik A sedemikian rupa sehingga E. RB> R2 Biasanya, R = 60% dari Rpp: (c) Intrinsik  Rasio Stand-off Seperti yang terlihat pada Gambar 27.3 (a), ketika baterai 30 V diterapkan pada B, B, ada penurunan tegangan secara progresif terhadap RBn asalkan E terbuka.                              (Theraja, 2005)

Thyristor pada kondisi ini disebut berada pada keadaan konduksi atau keadaan hidup. Tegangan jatuh yang terjadi dikarena tegangan ohmic antara empat layer dan biasanya cukup kecil sekitar 1 V. Pada keadaan on, arus anode dibatasi oleh resistansi atau impedansi luar RL. Arus anode harus lebih besar dari suatu nilai yang disebut menemp latching current IL, agar diperoleh cukup banyak aliran pembawa muatan bebas yang melewati sambungan-sambungan;  jika tidak devais akan kembali ke kondisi blocking ketika tegangan anode ke katode berkurang. Latching current  IL, adalah arus anode minimum yang diperlukan agar dapat membuat thyristor tetap pada kondisi hidup begitu suatu thyristor telah dihidupkan dan sinyal gerbang dihilangkan. 

            Karakteristik v-i umum dari suatu thyristor. Ketika berada pada kondisi on, thyristor akan bertindak seperti diode yang tidak dapat dikontrol. Devais ini akan terus berada pada kondisi on karena tidak ada lapisan deplesi pada sambungan J2, karena pembawa-pembawa muatan yang bergerak bebas. Akan tetapi, jika arus maju anode berada di bawah suatu tingkatan yang disebut holding curent LH, daerah deplesi akan terbentuk di sekitar J2, karena adanya pengurangan banyak pembawa muatan bebas dan thyristor akan berada pada keadaan blocking.

            Holding current terjadi pada orde milliamper dan lebih kecil dari latching current IL,IH>IL. Holding current  IH adalah arus anoda minimum untuk mempertahankan thyristor pada kondisi on. thyristor keadaan tunak (0,91T). Ton adalah jumlah tunda td, dan waktu mulai t1,td didefenisikansebagai interval waktu antara 10% arus gerbang (0,1IG) dan 10% arus keadaan on thyristor (0,1IT).tr adalah waktu yang diperlukan agar arus anoda naik dari 10% arus keadaan on thyristor (0,1IT) ke 90% arus keadaan on thyristor (0,9IT). Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan ketika merancang rangkaian kendali gerbang: Sinyal gerbang harus dihilangkan setelah thyristor dihidupkan. Suatu sinyal penggerbangan kontinyuakan meningkatkandaya yang terbuang di sambung gerbang.

            Ketika thyristor pada kondisi reverse bias, tidak boleh ada sinyal gerbang; jika ada sinyal gerbang, thyristor akan rusak karena peningkatan arus bocor. Lebar pulsa gerbang tG harus lebih lama dari waktu yang diperlukan untuk arus anoda meningkat ke nilai arus holding IH. Secara praktis, lebar pulsa TG dapat biasanya diambil lebih dari waktu ton  dari rhyristor. Suatu thyristor memerlukan waktu minimum untuk menyebarkan kondisi tersambung ke semua sambungannya secara merata.  Jika peningkatan arus anode lebih cepat dibandingkan kecepatan penyebaran dari proses turn-on, titik-titik pemanasan akan terjadi pada devais karena adanya daerah-daerah dengan kepadatan arus yang tinggi dan devais akan rusak sebagai hasil dari suhu yang berlebihan. Pada prakteknya, devais harus diproteksi terhadap di/dt yang tinggi. Pada keadaan lunak.  Din tersambung ketika thyristor T1 off. Jika T1, dihidupkan (fired), ketika Din, masih tersambung  di/dt akan sangat tinggi dan terbatas hanya oleh induktansi stray dari rangkaian. Thyristor yang berada dalam kondisi on dapat dimatikan dengan mengurangi arus maju ke tingkat di bawah arus holding IH. Ada beberapa variasi teknik untuk membuat thyristor off.                                                        (Rashid, 1999)

Dioda adalah suatu komponen elektronik yang dapat melewatkan arus pada arah saja. Ada berbagai macam dioda,yaitu dioda tabung, dioda sambungan p-n, dioda kontak titik dan sebagainya. Dalam hal ini kita akan membatasi pembahasan pada dioda sambungan p-n, khususnya dioda penyearah, dioda isyarat dan dioda zener.

            Dioda memegang peranan amat penting dalam elektronika, diantaranya  adalah untuk menghasilkan tegangan searah dari tegangan bolak-balik, untuk mengesan gelombang radio, untuk membuat berbagai bentuk gelombang isyarat, untuk mengatur tegangan searah agar tidak berubah dengan beban maupun dengan perubahan tegangan jala-jala (PLN), untuk saklar elektronik, LED, laser semikonduktor , mengesan gelombang mikro dan lain-lain. Beberapa pengertian dasar daripada dioda sambungan p-n digunakan pada transistor, sehingga apabila kita menguasai pengertian dasar dioda akan mudah pula kita memahami sifat transistor.

            Tanda + dan – dalam kotak persegi menyatakan pembawa muatan intrinsik yaitu yang  berasal dari ikatan kovalen pada atom silikon, yang menjadi bebas oleh karena eksitasi termal. Pembawa muatan yang lain adalah muatan bebas, yaitu lubang yang dihasilkan oleh atom akseptor pada bahan jenis-p, dan elektron bebas yang berasal dari atom donor. Pembawa muatan bebas ini adalah pembawa muatan ekstrinsik.

            Elektron bebas pada bahan jenis-n akan berdifusi melalui sambungan’ masuk kedalam bahan jeni-p, dan terjadi rekombinasi dengan lubang-lubang yang ada dalam bahan p. Sebaliknya juga terjadi, yaitu lubang bahan p berdifusi masuk kedalam bahan n, dan berrekombinasi dengan elektron dan saling meniadakan muatan. Akibatnya, tepat pada sambungan p-n terjadi daerah tanpa muatan bebas, yang disebut daerah pengosongan. Oleh karena muatan positif terpisah dari muatan negatif, maka dalam daerah pengosongan terjadi medan listrik, yang melawan proses difusi selanjutnya. Dengan adanya medan listrik ini terjadi beda potensial listrik atau bukit potensial antara bagian p-n dalam daerah pengosongan. Sebaran muatan, kuat medan listrik dan potensial listrik pada sambungan p-n dilukiskan pada gambar.

            Adanya kuat medan listrik menyebabkan terjadinya bukit potensial pada sambungan p-n. Agar suatu elektron dalam bahan n dapat menyebrangi sambungan haruslah elektron tersebut mempunyai energi lebih besardari bukit potensial yaitu muatan elektron. Pada keadaan ini terjadi aliran arus minoritas, yaitu lubang yang ada di jenis n dan elektron bebas yang ada di jenis p. Yang tidak dihalangi oleh bukit potensial, akan tetapi dibantu untuk menyebrang sambugan. Pada saat yang sama, lubang yang ada dijenis p yaitu pembawa muatan mayoritas ada juga  yang mempunyai cukup energi untuk enyebrang sambungan. Dalam keadaan mantap kedua aliran ini saling meniadakan.                            (Sutrisno, 1986)

SCR adalah perangkat empat lapis dengan tiga terminal, yaitu, anoda, katoda, dan gerbang. Ketika anoda dibuat positif sehubungan dengan katoda, persimpangan J2  adalah bias terbalik dan hanya arus bocor yang akan mengalir melalui SCR kemudian dikatakan berada dalam keadaan blok maju atau mati. Ketika katoda dibuat positif sehubungan dengan anoda, persimpangan J1 dan J3 terbalik bias dan arus bocor balik kecil akan mengalir melalui SCR. Ini adalah keadaan pemblokiran terbalik perangkat. Ketika anoda ke katoda tegangan meningkat, persimpangan reverse-bias J2 akan rusak karena gradien tegangan besar melintasi lapisan penipisan. Ini adalah kerusakan longsoran salju. Karena persimpangan lainnya J1 dan J3 adalah bias maju. Gambar 2.1 menunjukkan karakteristik SCR. Pada keadaan aktif, arus dibatasi oleh impedansi eksternal. Jika tegangan anoda ke katoda sekarang berkurang, karena lapisan penipisan asli dan persimpangan bias-balik J2 tidak ada lagi karena pergerakan bebas dari operator, perangkat akan terus tetap hidup. Ketika arus maju turun di bawah level  Ihsaat ini, daerah penipisan akan mulai berkembang di sekitar J2  karena berkurangnya jumlah operator dan perangkat akan pergi ke status pemblokiran. Demikian pula, ketika SCR dihidupkan, arus maju yang dihasilkan harus lebih dari arus penguncian I1 .Hal ini diperlukan untuk mempertahankan jumlah arus pembawa yang diperlukan. oss persimpangan, jika tidak, perangkat akan kembali ke status pemblokiran segera setelah anoda ke katoda tegangan berkurang.

Ketika SCR dibiaskan terbalik, perangkat akan berperilaku dengan cara yang sama seperti dua dioda yang terhubung secara seri dengan tegangan balik yang diterapkan di atasnya. Dua bagian dalam SCR akan diolah sedikit dibandingkan dengan lapisan luar. Oleh karena itu, forward breakover voltage VBO akan secara umum lebih tinggi daripada reverse breakover voltage VBR. Dari diskusinya di atas, dapat dilihat bahwa SCR memiliki dua kondisi operasi yang stabil dan dapat dibalik. Pergantian dari off-state ke on-state, disebut turn-on , dicapai dengan meningkatkan tegangan maju di luar VBO. Transisi balik, disebut turn-off, dibuat dengan mengurangi arus maju di bawah Ih. Metode yang lebih nyaman dan berguna untuk menyalakan perangkat menggunakan drive gerbang. Jika tegangan maju kurang dari VBO diterapkan pada perangkat, itu dapat dihidupkan dengan menerapkan tegangan positif antara gerbang dan katoda. Metode ini dikenal sebagai kontrol gerbang.                            (Rio, 1999)

Hubungan p-n merupakan dasar dari elektronik semikonduktor.Sifat hubungan p-n dimengerti benar, ini penting karena merupakan kunci agar dapat memahami elektronik semikonduktor. Hubungan p-n tidak bias dibentuk hanya dengan menghubungkan semikonduktor tipe p dan tipe n begitu saja. Akan didapat hubungan p-n bila kita rubah sebagian dari substrat kristal menjadi tipe-n dengan menambah donor dan bagian yang lain menjadi tipe-p dengan menambah aseptor.

Gambar 2.2 menggambarkan hubungan tepat sesudah terbentuk ;aseptor membentuk semikonduktor tipe-p dan donor membentuk tipe-n yang disertai dengan jumlah hole dan electron yang sama ,dan kedua daerah itu sifat listriknya netral.Hole dan electron itu merupakan pembawa bebas yang dapat dinaikkan tingkatannya  ke jalur konduksi dan juga dapat dalam jalur valensi. Pembawa-pembawa ini berdifusi ke daerah yang mempunyai konsentrasi rendah dan berekombinasi satu sama lain.

Hubungan p-n merupakan dasar dari elektronik semikonduktor.Sifat hubungan p-n dimengerti benar, ini penting karena merupakan kunci agar dapat memahami elektronik semikonduktor. Hubungan p-n tidak bias dibentuk hanya dengan menghubungkan semikonduktor tipe p dan tipe n begitu saja. Akan didapat hubungan p-n bila kita rubah sebagian dari substrat kristal menjadi tipe-n dengan menambah donor dan bagian yang lain menjadi tipe-p dengan menambah aseptor. Hubungan p-n merupakan dasar dari elektronik semikonduktor.Sifat hubungan p-n dimengerti benar, ini penting karena merupakan kunci agar dapat memahami elektronik semikonduktor. Hubungan p-n tidak bias dibentuk hanya dengan menghubungkan semikonduktor tipe p dan tipe n begitu saja.

Misalnya, karena hole dalam tipe-p lebih tinggi konsentrasinya daripada hole dalam tipe-n,mereka berdifusi dari daerah tipe-p ke tipe-n. Ambilah misalnya pada hole,bila ia meninggalkan daerah tipe-p dan hilang ke dalam daerah tipe-n karena berekombinasi,sebuah aseptor akan diionisasikan menjadi negatif dalam daerah tipe-p itu,yang membentuk  muatan ruang negatif. Medan listrik ini menghambat hole untuk berdifusi dari daerah tipe-p ke tipe-n,demikian juga pada elektron terhambat berdifusi dari tipe-n ke tipe-p.Dalam keadaan seimbang dialam hubungan p-n terbentuk daerah:

1.       Daerah tipe-p netral: daerah di mana jumlah hole sama dengan jumlah asepto,

2.       Daerah muatan ruang tipe-p: daerah di mana aseptor diionisasikan negative

3.       Daerah muatan ruang tipe-n: daerah dimana donor diionisasikan positif

4.       Daerah tipe-n netral: daerah dimana jumlah donor sama dengan jumlah elektron

Daerah daerah 2 dan 3 bersama sama disebut daerah muatan ruang atau lapisan deplesi atau dipole listrik.                                                                                             (Ramamoorty, 1977)

BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

1.    Komponen dan Peralatan

3.1.1 Komponen dan Fungsi

1.       SCR 2P4M

Fungsi: sebagai switching atau saklar pada rangkaian

2.       Resistor (220Ω)

Fungsi: sebagai penghambat arus

3.       Saklar (2 buah)

Fungsi: untuk menghidupkan dan mematikan LED

4.       LED

Fungsi: sumber cahaya

5.       Resistor 200 K

Fungsi: penghambat arus

 

3.1.2 Peralatan dan Fungsi

1.       Protoboard

Fungsi : tempat merangkai percobaan

2.         Multimeter

Fungsi: untuk mengukur arus dan tegangan

3.       Jumper

Fungsi: untuk menghubungkan antarkomponen

4.         Power Supply

Fungsi: sebagai sumber tegangan

6.         Baterai

Fungsi: penyimpan tegangan

3.2 Prosedur Percobaan

      1. Dipersiapkan semua peralatan dan komponen.

     2. Dipasang SCR pada papan protoboard

     3. Dipasang Switch 1 pada protoboard dan Switch 2 dipasang pada kaki 3 SCR (katoda)

4.  Dipasang LED dan resistor 200 K pada protoboard pada arah yang sama

5. Dihubungkan baterai pada kaki LED dan Switch 2

6. Dihubungkan PSA dengan Anoda dipasang di Switch 1 sedangkan Katoda dipasang di Switch 2.

7. Digunakan jumper untuk menghubungkan LED dengan Ground

8. Dihitung tegangan yang dihasilkan LED dengan menghubungkan jumper pada ground dan kaki LED

9. Hasil bisa dilihat pada multimeter

 

4.2 Analisa Data

1.       1. Jelaskan pengertian thysistor dan jenis-jenisnya!

Pengertian Thyristor adalah komponen elektronika yang berfungsi sebagai saklar (switch) atau pengendali yang terbuat dari bahan semikonduktor. Thyristor yang secara ekslusif bertindak sebagai saklar ini pada umumnya memiliki dua hingga empat kaki terminal. Meskipun terbuat dari semikonduktor, Thyristor tidak digunakan sebagai Penguat sinyal seperti Transistor. Istilah Thyristor berasal dari bahasa Yunani yang artinya adalah pintu.Pada prinsipnya, Thyristor yang berterminal tiga akan menggunakan arus/tegangan rendah yang diberikan pada salah satu kaki terminalnya untuk mengendalikan aliran arus/tegangan tinggi yang melewati dua terminal lainnya. Sedangkan untuk Thyristor yang berterminal dua yang tidak memiliki terminal kendali (GATE), fungsi saklarnya akan diaktifkan apabila tegangan pada kedua terminalnya mencapai level tertentu. Level tegangan yang dimaksud tersebut biasanya disebut dengan Breakdown Voltage atau Breakover Voltage. Pada saat dibawah tegangan breakdownnya, kedua kaki terminal tidak akan mengaliri arus listrik atau berada di posisi OFF.

2. Jenis-jenis Thyristor :

a.       SCR adalah jenis Thyristor yang memiliki tiga kaki terminal yang masing-masing terminal dinamai dengan GATE, ANODA dan KATODA. Secara struktur, SCR terdiri dari 4 lapis semikonduktor yaitu PNPN yang terminal pengendalinya terdapat pada lapisan P (Positif).

b.       SCS (Silicon Controlled Switch) merupakan jenis Thyristor yang memiliki 4 kaki terminal yaitu terminal GATE, ANODE GATE, ANODE dan CATHODE. Sama seperti SCR, SCS atau Silicon Controlled Switch juga berfungsi sebagai Saklar.

c.       Triode from Alternating Current (TRIAC) adalah Thyristor yang berkaki terminal tiga yang masing-masing terminalnya dinamai dengan GATE, MI1 dan MI2. Setelah dipicu (trigger) menjadi ON, TRIAC mampu menghantarkan arus listrik dari kedua arah. Oleh karena itu, TRIAC sering disebut juga dengan Bidirectional Triode Thyristor.

d.       Diode Alternating Current (DIAC) adalah Thyristor yang hanya memiliki dua kaki terminal dan dapat menghantar arus listrik dari kedua arah apabila tegangan melampaui batas tegangan breakovernya (tegangan breakdown). DIAC sering disebut juga dengan Bidirectional Thyristor.

 

2.      3.  Jelaskan perbedaan NPN dan PNP!

a.       pada transistor PNP kaki kolektor selalu terhubung dengan tegangan negatif sedangkan pada transistor NPN kaki kolektor selalu terhubung dengan tegangan positif

b.       kaki emitor pada transistor PNP akan mengeluarkan arus negatif sedangkan pada transistor NPN mengeluarkan tegangan positif

c.       kaki basis pada transistor PNP dikontrol dengan menggunakan tegangan negatif sedangkan pada transistor NPN dikontrol menggunakan tegangan positif.

3.      4.  Sebutkan karakteristik dan prinsip kerja thysistor (SCR)!

Karaktristik tegangan versus arus ini diperlihatkan bahwa thyristor mempunyai 3 keadaan atau daerah, yaitu :

a.       Keadaan pada saat tegangan balik (daerah I)

b.       Keadaan pada saat tegangan maju (daerah II)

c.       Keadaan pada saat thyristor konduksi (daerah III)      

Pada daerah I, thyristor sama seperti diode, dimana pada keadaan ini tidak ada arus yang mengalir sampai dicapainya batas tegangan tembus (Vr). Pada daerah II terlihat bahwa arus tetap tidak akan mengalir sampai dicapainya batas tegangan penyalaan (Vbo). Apabila tegangan mencapai tegangan penyalaan, maka tiba – tiba tegangan akan jatuh menjadi kecil dan ada arus mengalir. Pada saat ini thyristor mulai konduksi dan ini adalah merupakan daerah III. Arus yang terjadi pada saat thyristor konduksi, dapat disebut sebagai arus genggam (IH = Holding Current). Arus IH ini cukup kecil yaitu dalam orde miliampere.  Untuk membuat thyristor kembali off, dapat dilakukan dengan menurunkan arus thyristor tersebut dibawah arus genggamnya (IH) dan selanjutnya diberikan tegangan penyalaan.

Pada prisipnya, Thyristor yang memiliki terminal tiga akan menggunakan arus tegangan rendah yang diberikan kepada salah satu kaki terminalnya untuk mengendalikan aliran arus tegangan tinggi yang melewati dua terminal lainya. Sedangkan untuk Thyristor berterminal dua tidak memiliki kendali GATE, fungsi saklarnya akan di aktifkan apabila tengangan pada kedua terminalya mencapai level tertentu. Level tegangan yang dimaksud biasanya disebut Breakdown Voltage. Pada saat dibawah tegangan breakdown. Kedua kaki terminal tidak akan mengaliri arus listrik atau berada pada posisi OFF.Dalam membahas tentang Saklar (Switch) elektronik, pada dasarnya kita juga dapat menggunakan sebuah komponen elektronik Transistor. Namun bila dibandingkan dengan Transistor, Thyristor akan berfungsi lebih baik dari pada transistor. Hal ini dikarenakan Transistor memerlukan tegangan  yang tepat untuk mengoperasikan fungsi saklarnya, jika tegangan yang diberikan tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan maka pada Transistor tersebut akan berada dalam keadan ON dan OFF. Saklar yang berada diatara keadaan ON dan OFF bukanlah saklar yang dalam keadaan baik. Sangat berbeda dengan Thyristor, Komponen ini sudah dirancang untuk hanya berada dalam dua keadaan ON atau ONFF. Dalam aplikasinya, Thyristor banyak digunakan di perangkat atau rangkaian-rangkaian elektronika seperti Pengendali Daya, Timer, Osilator, peredam cahaya, pengendali kecepatan motor listrik dan lain sebagainya.

 

4.      5.  Aplikasi dari SCR!

Secara umum, aplikasi Thyristor adalah  :

a.       Mengontrol kecepatan dan frekuensi

b.       Penyearahan

c.       Pengubahan daya

d.       Manipulasi robot

e.       Kontrol temperatur

f.        Kontrol cahaya

                                                             DAFTAR PUSTAKA

Ramamoorty, M. 1977. An Introduction to Thyristors and Their Applications.

               India : Affiliated

                Pages : 9-11

Rashid, M. H.1999. Elektronika Daya Rangkaian, Devais, Dan Aplikasinya. Jilid Satu.

           Jakarta : PT Prenhallindo.

            Halaman : 74-81

Rio, S. Reka. 1999. FISIKA DAN TEKNOLOGI SEMIKONDUKTOR. Cetakan Ketiga.   

           Jakarta : Pradnya Paramita.

            Halaman : 58-60

Sutrisno. 1986. ELEKTRONIKA : Teori Dasar dan Penerapannya. Jilid Satu. Bandung : ITB.

          Halaman : 81-83

Theraja, B. L. 2005. Basic Electronics. India : RAM NAGAR, NEW DELHI .

          Pages : 472-473 

Driver Relay dengan Sensor - laporan praktikum ELektronika DASar - FISIKA

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Transistor merupakan komponen elrktronika yang berfungsi sebagai penguat arus, stabilisasi, penyaklaran, dll. Dalam adaptor transistor berfungsi sebagai sebagai stabilizer, untuk penyetabil arus yang keluar dari blok filter. Pada umumnya transistor dibagi dua yaitu transistor PNP dan transistor NPN. Dan dari pembagian ini akan di klasifikasikan lagi tergantung jenis jenis transistor tersebut. Untuk lebih jelasnya mengenai jenis-jenis transistor dapat dilihat pada bab pembahasan.Sensor adalah suatu alat yang dapat merubah suatu gejala atau besaran fisis menjadi besaran listrik. Jenis-jenis sensor dapat dibagi menjadi sensor cahaya, sensor jarak dan sensor suara. Di dalam sensor kita harus mengetahui rangkaian antarmuka sensor, rangkaian detektor puncak, serta rangkaian Sample and Hold.

Transistor PNP ( P-Channel ) adalah transistor yang sumbernya terletak pada gate positif. Sedangkan transistor NPN ( N-Channel )adalah transistor yang sumbernya terletak pada gate negative. Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan penyambung (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau sebagai fungsi lainnya. Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus inputnya (BJT) atau tegangan inputnya (FET), memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya.Relay adalah komponen listrik yang bekerja berdasarkan prinsip kerja induksi medan elektromagnetis. Jika sebuah penghantar dialiri oleh arus listrik, maka disekitar penghantar tersebut timbul medan magnet yang dihasilkan oleh arus listrik tersebut selanjutnya diinduksikan ke logam ferromagnetis.Pada percobaan ini akan membahas mengenai driver relay dengan sensor, dimana transistor sebagai driver relay, transistor disini dikonfigurasikan sebagai transistor cut off dan saturasi atau bisa juga disebut sebagai saklar elektronik.

1.2 Tujuan

1.     Untuk mengetahui jenis jenis dari sensor

2.     Untuk mengetahui kontak kontak relay

3.     Untuk memahami karakteristik dari relay

4.     Untuk mengetahui fungsi dari sensor dan relay

BAB II

LANDASAN TEORI

Relai adalah pengontrol yang dikendalikan dengan cara menghantam arus ke gulungan.  Ketika koil diberi energi, medan magnet yang dihasilkan menarik tempat logam ke arahnya, menekan kontak switching yang menempel pada kontak yang terbuka.  Dengan cara ini, arus kecil dapat mengontrol yang jauh lebih besar, hanya transimor yang dibuat.  Relai dapat memiliki sejumlah kontak untuk mempesonakan beberapa sirkuit yang tidak terhubung pada saat yang bersamaan.Seperti dengan switches, set cach disebut kutub.Juga, beberapa kontak mungkin biasanya terbuka (NC), yang berarti bahwa mereka tidak menyentuh sampai relai diberi energi, dan beberapa mungkin tertutup secara non-lokal (NC), yang berarti sebaliknya.Setiap arah disebut shrow.  Dengan demikian, relay dua-pule, double-chrow (DPDT) akan memiliki dua switching, masing-masing tiga kontak di sisi NO, kontak bergerak dan sisi NC

Relai Penanda dapat ditandai secara skematis untuk konstruksi internal -yaitu, di mana sambungan koil dan jenis sakelar apa yang ada di dalamnya.  Anda mungkin dapat menemukan peringkat tegangan: yang menentukan tegangan koil, bukan tegangan maksimum yang diizinkan pada kontak sakelar.  Balap resistensi juga untuk koil.Jika Anda menemukannya, Anda dapat menghitung arus tarik koil dengan hukum Ohm.Ini juga membantu Anda saat menguji koil dengan DMM Anda.  Beberapa relay termasuk dioda internal di seluruh panggilan untuk mencegah reverse voitage yang dihasilkannya ketika listrik dilepas dari memberi makan kembali ke sirkuit dan merusaknya.  Jika relai menunjukkan tanda polaritas (+ dan -), ia memiliki dioda.  Maksimum cunent yang bisa ditangani oleh kontak saklar biasanya tidak terlihat, tapi mungkin saja.Jika tanda bertuliskan "12 VDC, 3 A."yang menunjukkan kumparan 12 volt yang dimaksudkan untuk digerakkan dengan daya DC, yang beralih kontak yang mampu switching 3 amp.                               Beberapa relay dibuat secara khusus untuk operasi AC col, juga, dengan pawai yang sesuai. Penggunaan Relay pernah banyak digunakan untuk mengganti arus besar dengan yang lebih kecil.Saat ini, semikonduktor biasanya melakukan pekerjaan itu, tetapi beberapa aplikasi masih menggunakan relay.Sirkuit tunda catu daya, yang mencegah daya mencapai sirkuit selama beberapa saat setelah suplai dinyalakan, sering memiliki relay.circuit proteksi speaker di amplifier audio daya tinggi menggunakannya t00, karena sinyal audio arus tinggi tidak terhambat oleh relay, tetapi akan dengan semikonduktor.  Sebagian besar relay membuat klik terdengar ketika mereka mengalah, memberikan kehadiran mereka.Apa yang dimulaiMasalah Relai Mereka secara tidak langsung melibatkan kontak sakelar.  Korosi dari usia dan oksidasi, serta pitting dari arcing ketika arus besar tersihir, menyebabkan resistensi atau kontak serpihan.  Sekali waktu, relay akan menjadi lengket, tidak ingin membuka kembali setelah daya saya dihapus dari koil.  Kondisi ini dapat disebabkan oleh lengkungan pada kontak yang membuat mereka saling menempel, dan oleh melemahnya pegas yang digunakan untuk menarik piring menjauh dari inti besi koil.  Kadang-kadang, relai akan menempel karena pelat penarik termagnetisasi, sehingga menempel ke inti logam di sekitar koil.  Demagnetisasi dengan demagnetizer head tape atau magnet dari polaritas yang berlawanan dapat mengembalikan operasi yang tepat.  Jika relai memiliki penutup yang dapat dilepas, Anda mungkin dapat mematikannya dan membungkam atau melepas kontak.  Hati-hati saat membuka penutup miniatur relay.                                                                              

Penutup itu bisa sangat ketat, membutuhkan menggunakan pisau X-Acto untuk mengorek plastik.  Sangat penting untuk menghancurkan koil relay seperti itu jika pisau tergelincir ke dalam dan mengiris lilitan setipis rambut.  Saya sudah melakukannya.Lihat cune wordi di Daftar Istilah. Kadang-kadang hanya dengan menarik selembar kertas yang direndam di dalam pembersih kontak di antara kontak-kontak tersebut akan merapikannya dan mengembalikan operasi yang benar. Jika itu tidak cukup, menyeka sangat ringan dengan ampelas tine dapat merusak lapisan luar gunk.Semir perak juga berfungsi, tetapi pastikan untuk menyelesaikannya setelah selesai.Berhati-hatilah untuk tidak membengkokkan kontak, dan jangan mengampelas, itu penting untuk kelangsungan hidup jangka panjangnya.Apapun metode yang Anda gunakan, bersihkan kontak dengan kertas yang dibasahi bersih untuk menghilangkan residu sebelum Anda memasang kembali penutup relai.Pengujian Di Luar Sirkuit Gunakan kesinambungan DMM Anda atau skala ohm terendah.                             Periksa koil terus-menerus, Jika ada dioda, pastikan untuk memeriksa di kedua arah.Jika bunyinya sangat dekat dengan nol pada relai yang memiliki dioda, curigai dioda korsleting, terutama jika rymptom ruggesta yang koilnya tidak ingin menarik penyihirnya, karena tranaistor yang memberi energi pada relai berjalan hor atau terbakar.Jika dioda ada di papan, di luar relai, Anda menarik satu kaki dan memeriksa lagi untuk pendek.Juga, periksa apakah tidak ada kontinu di antara koil dan merupakan inti logam.Jika ada, the coil memiliki pendek, dan Anda memperhatikan relay baru. Transistor yang ditiupkan juga dapat disebabkan oleh dioda perlindungan terbuka di koil relay. Tujuan dioda adalah untuk menyerap lonjakan arus mundur yang terjadi ketika daya ke coild dihilangkan dan medan magnetnya runtuh. Jika dioda terbuka, lonjakan itu diterapkan pada transirtor dan dapat menghancurkannya.Setiap kali Anda menemukan tranaistor driver estafet yang ditiup, tangkap kumparan sborted atau dioda proteksi yang terbuka atau singkat.Periksa NC Mereka harus membaca dosis yang sangat untuk itu.  Gunakan catu  anda untuk memberi energi pada koil. Jika memiliki dioda, pastikan polaritasnya benar, dengan katoda dioda, bukan anoda.  Ingat, dioda ingin ditransfer ke belakang, sehingga tidak akan berfungsi ketika daya diterapkan.                                                                                                             (Geier, 2016)

Ketika arus diterapkan ke koil, medan magnet dihasilkan.  Medan magnet ini menarik armature baja, membuka kontak atas, dan menutup kontak bawah, normal terbuka (NO).Kontak membentuk saklar kutub tunggal, lemparan ganda (SPDT).  Ketika daya terputus dari koil, medan magnet berhenti, dan kontak kembali ke keadaan awal karena pegas.  Relay coil dirancang untuk dioperasikan. Kadang-kadang Anda akan mendengar ungkapan bahwa relay telah "diambil" atau diambil "Ini berarti bahwa daya telah diterapkan ke koil relay, dan kontaknya telah dipindahkan sesuai dengan fungsinya, dan pergantian circuit telah terjadi.  relay biasanya memiliki lebih dari satu set kontak, sehingga beberapa operasi switching dapat dilakukan secara bersamaan.Berbagai lengan kontak digabung bersama sehingga mereka beroperasi bersama ketika daya diterapkan ke koil. Konfigurasi yang umum adalah dua bentuk-kontak A yang digabungkan untuk  membentuk relai kutub ganda, lemparan tunggal (DPST), Menyatukan dua kontak bentuk-C bersama pada relai yang sama menghasilkan relai kutub ganda, lemparan ganda (DPDT). Jenis relai lain yang banyak digunakan adalah relai buluh, diilustrasikan dalam Gambar 12.15.  Jantung dari reed relay adalah saklar buluh yang terdiri dari dua kontak tipis, logam, buluh disegel dalam tabung gelas.  Kontak buluh terbuat dari bahan magnetik, sehingga mereka akan bermagnet ketika medan magnet diterapkan pada mereka.  Sebuah kumparan yang terdiri dari banyak lilitan kawat halus dililit pada suatu bentuk dan ditempatkan di atas buluh.Ketika daya diterapkan ke koil, medan magnet dihasilkan.  Medan magnet ini menarik kedua buluh seolah magnet batang.  Satu ujung setiap buluh akan memiliki kutub utara dan kutub selatan.  Rcedes diposisikan sedemikian rupa sehingga kutub utara satu akan menarik kutub selatan yang lain. Diingat kembali, teori magnetik mengatakan bahwa tidak seperti kutub berhenti, sedangkan kutub seperti mengusir.  Hasilnya adalah bahwa kontak akan bergerak satu sama lain dan menyentuh, membuat koneksi listrik yang baik.  Ketika daya dilepaskan dari koil, kontak menjadi mengalami kerusakan magnetik dan pegas terpisah.  Relai buluh akan juga beroperasi dengan menggerakkan magnet permanen di dekatnya.                                       (Frenzel , 2010)

Jenis relai lain yang banyak digunakan adalah relai buluh, diilustrasikan dalam Jantung dari reed relay adalah saklar buluh yang terdiri dari dua kontak tipis, logam, buluh disegel dalam tabung gelas.  Kontak buluh terbuat dari bahan magnetik, sehingga mereka akan bermagnet ketika medan magnet diterapkan pada mereka.  Sebuah kumparan yang terdiri dari banyak lilitan kawat halus dililit pada suatu bentuk dan ditempatkan di atas buluh.  Ketika daya diterapkan ke koil, medan magnet dihasilkan.  Medan magnet ini menarik kedua buluh seolah magnet batang.  Satu ujung setiap buluh akan memiliki kutub utara dan kutub selatan.  Rcedes diposisikan sedemikian rupa sehingga kutub utara satu akan menarik kutub selatan yang lain.  Remenmber, teori magnetik mengatakan bahwa tidak seperti kutub berhenti, sedangkan kutub seperti mengusir.  Hasilnya adalah bahwa kontak akan bergerak satu sama lain dan menyentuh, membuat koneksi listrik yang baik.  Ketika daya dilepaskan dari koil, kontak menjadi mengalami kerusakan magnetik dan pegas terpisah.  Relai buluh akan juga beroperasi dengan menggerakkan magnet permanen di dekatnya.                                                           Ketika magnet sudah dekat, kontak th akan menutup.  Ini adalah cara umum untuk merasakan jendela atau pintu terbuka di sistem keamanan rumah. Pengkodean transistor Sistem eropa untuk mengklasifikasi transistor me- libatkan penggunaan kode alfanumerik yang terdiri dari dua huruf dan tiga angka (transistor serbaguna) atau tiga huruf dan dua angka (transistor khusus). Identifikasilah masing-masing transistor berikut ini: (a) AF115 (c) BD135 (d) BFY51.  Penyelesaian Transistor (a) adalah transistor germanium serbaguna, daya-rendah, frekuensi-tinggi.  Transistor (b) adalah sebuah transistor silikon ser- baguna, daya-rendah, frekuensi-rendah.Transistor (c) adalah transistor silik serbaguna, daya-tinggi, frekuensi-rendah.Transistor (d) adalah transistor silikon khusus, daya-rendah, frekuensi-tinggi.  Cara kerja transistor Transistor bipolar umumnya dibentuk dari sam bungan NPN atau PNP dengan bahan silicon. Sambungan ini dihasilkan dari iris silikon yang dicampurkan dengan bahan pengerjaan proses pembuatan yang tereduksi menggunakan foto grafis).  Transistor-transistor silikon lebih unggul dibandingkan dengan transistor-transistor germanium untuk sebagian besar aplikasi (terutama pada sub-tinggi) dan, oleh karena, perangkat germanium sangat jarang ditemukan.NPN bersama dengan lambang lambang rangkaiannya.         (Tooley, 2003)

Dalam bab ini akan dibahas rangkaian yang tidak hanya mengandung komponen resistor saja, tetapi juga mengandung in- duktor dan kapasitor. Adanya tiga macam komponen ini dengan masing-masing sifatnya ternyata akan menimbulkan karakteristik yang baru dalam rangkaian. Resistor yang bersifat membuang daya dalam bentuk panas, induktor yang bersifat menyimpan arus bolak balik atau alternating current (ac), dan kapasitor yang bersifat menyimpan tegangan searah atau direct current (de), akan me- nimbulkan adanya sifat sementara (transien) dalam rangkaian. Sifat sementara rangkaian ini mudah dipahami mengingat simpanan energi dalam rangkaian oleh unsur induktif atau kapasitif, lambat laun akan dibuang oleh unsur resistif dalam bentuk panas. Jadi rangkaian tidak bisa menyimpan energi selamanya, dengan kata lain hanya bersifat sementara. Dalam kondisi sementara ini, sebelum diterapkan sumber-sumber bebas dari luar, tanggapan rangkaian disebut dengan tanggapan sementara. Setelah lenyapnya tanggapan sementara, rangkaian dikatakan dalam keadaan mantap atau tunak .Untuk membuat rangkaian mempunyai tanggapan sesuai dengan yang diinginkan maka perlu diterapkan sumber-sumber bebas dari luar, baik sumber tegangan atau sumber arus.                                                                                                   

Tanggapan yang diakibatkan oleh adanya sumber-sumber bebas dari luar ini dinamakan dengan tanggapan paksa.Kombinasi tanggapan tran- sien dan tanggapan paksa inilah yang merupakan tanggapan lengkap rangkaian.1. Induktor Induktansi didefinisikan sebagai konstanta pembanding yang berlaku pada persamaan tegangan dalam eksperimen mengenai kumparan konduktor yang selanjutnya disebut dengan induktor ini ditemukan oleh dua ilmuwan, yaitu Michael Faraday (Inggris) dan Joseph Henry (Amerika). Untuk menghargai jasa penemuan ini, nama penemunya digunakan sebagai nama satuan induktansi (Henry yang disingkat sebagai H). Berdasarkan persamaan di atas, karena besarnya tegangan sebanding dengan perubahan arus terhadap waktu, arus yang tidak berubah terhadap waktu akan menyebabkan tegangan menjadi nol. Hal ini berarti bahwa induktor bagi de merupakan rangkaian hubungan pendek. Apabila pada induktor bisa diterapkan arus yaitu arus yang berubah secara mendadak dari suatu harga ke harga tertentu, maka akan dihasilkan bentuk tegangan yang besarnya tak berhingga () yang berlangsung hanya sesaat. Bentuk tegangan ini disebut dengan impuls yang tidak pernah terjadi dalam dunia praktis               (Zukhri, 2007)

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan dalam mendesain suatu peranti elektronik dan memahami kerja suatu peranti elektronik, maka pada akhimya kita akan menemukan realisasi subsistem dengan sesuatu device, untuk dapat menggantikan suatu subsistem dengan suatu device dan untuk menggabungkan antar-device dalam kesatuan sistem sangat dibutuhkan pemahaman mengenai device elektronika tersebut. Dunia itu indah, dan objek yang ada didunia selalu diciptakan oleh Tuhan dalam keadaan berpasangan. Di dalam elektronika, kita umumnya bermain dengan 2 bentuk sinyal, yaitu sinyal analog dan sinyal digital. Sinyal analog adalah sebuah kuantitas variabel fisik atau listrik secara kontiniu dengan bentuk sinyal seperti gelombang sinus. Sedangkan sinyal digital bentuk gelombangnya seperti kotak.

            Umumnya secara alami kuantitas fisik di dunia ini dalam bentuk analog. Lalu mengapa kita butuh representasi digital yang sebenarnya secara alami adalah analog? Jawabannya adalah jika kita ingin alat elektronik menginterpretasikan, berkomunikasi, dan menyimpan informasi analog akan lebih mudah jika kita mengkonversikan terlebih dahulu ke format digital. Sebagai contoh, termometer analog yang menunjukkan suhu 30 derajat celcius dapat direpresentasikan sebagal deretan level tegangan on dan off yang dikenal oleh media reversebias, berbeda dengan dioda bins. Perbedaan lain antara zener dan dioda lainnya adalah doping yang lebih banyak pada sambungan P dan N.                                    (Budiharto, 2010)

BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Komponen dan Peralatan

3.1.1 Komponen

      1. Relay 5 V DC

             Fungsi : Untuk pengontrol sistem tegangan tinggi tapi dengan tegangan rendah.

      2. Transistor

             Fungsi :Sebagai switching untuk mendrive relay.

      3. LED

             Fungsi :Sebagai induktor cahaya

4. LDR

Fungsi : Untuk menghantarkan arus listrik dan menghambat arus listrik.

 

3.1.2 Peralatan

1.       Multimeter

Fungsi :Untuk mengukur hambatan arus listrik.

2.       Protoboard

Fungsi :Untuk merangkai rangkaian sementara

3.       Jumper

Fungsi : Untuk Sebagai penghubung antara komponen-komponen.

4.       Catu Daya

         Fungsi :Untuk mengubah arus AC menjadi arus DC ( Sumber tegangan)       

3.2 Prosedur Percobaan

1.       Rakitlah rangkaian seperti pada gambar pada protoboard

2.       Ukurlah tegangan pada titik titik tertentu dan catat hasilnya

3.       Tutup dan buka sensor LDR dan perhatikan perubahan pada relay dan keadaan LED, kemudian catat hasilnya

BAB IV

HASIL DAN ANALISA

4.1 Data Percobaan

      Pengujian LDR (Light Dependent Resistor)

4.2 Analisa Data

·         Keadaan Gelap


·         Keadaan Terang

BAB V

KESIMPULAN

5.1  Kesimpulan

1. Jenis-jenis sensor

            Menurut klasifikasinya terbagi atas :

-          Sensor Pasif : adalah jenis sensor yang dapat menghasilkan sinyal output tanpa memerlukan pasokan listrik dari eksternal.

-          Sensor Aktif : adalah jenis sensor yang membutuhkan sumber daya eskternal untuk dapat beroperasi.

Berdasarkan sifatnya terbagi atas :

-          Sensor Analog adalah sensor yang menghasilkan sinyal output yang kontinu atau berkelanjutan.  Sinyal keluaran kontinu yang dihasilkan oleh sensor analog ini sebanding dengan pengukuran.

-          Sensor Digital adalah sensor yang menghasilkan sinyal keluaran diskrit. Sinyal diskrit akan non-kontinu dengan waktu dan dapat direpresentasikan dalam “bit”.

Berdasarkan penggunaannya terbagi atas :

-          Akselerometer (Accelerometer) : adalah sensor yang mendeteksi perubahan posisi, kecepatan, orientasi, goncangan, getaran, dan kemiringan dengan gerakan indra. Akselerometer analog ini dapat digolongkan lagi menjadi beberapa yang berbeda berdasarkan variasi konfigurasi dan sensitivitas.

-          Sensor Cahaya (Light Sensor) : adalah Sensor analog yang digunakan untuk mendeteksi jumlah cahaya yang mengenai Sensor tersebut.  Light dependent resistor atau LDR dapat digunakan sebagai sensor cahaya analog yang dapat digunakan untuk menghidupkan dan mematikan beban secara otomatis berdasarkan intensitas cahaya yang diterimanya.  Resistansi LDR akan meningkat apabila intensitas cahaya menurun. Sebaliknya, Resistansi LDT akan menurun apabil intensitas cahaya yang diterimanya bertambah.

-          Sensor Suara (Sound Sensor): adalah Sensor analog yang digunakan untuk merasakan tingkat suara. Sensor suara analog ini menerjemahkan amplitudo volume akustik suara menjadi tegangan listrik untuk merasakan tingkat suara. Proses ini memerlukan beberapa sirkuit, dan menggunakan mikrokontroler bersama dengan mikrofon untuk menghasilkan sinyal output analog.

-          Sensor Tekanan (PressureSensor) : adalah Sensor yang digunakan untuk mengukur jumlah tekanan yang diterapkan pada sebuah sensor. Sensor tekanan akan menghasilkan sinyal keluaran analog yang sebanding dengan jumlah tekanan yang diberikan.

-          Sensor Suhu (Temperature Sensor) : adalah Sensor tersedia secara luas baik dalam bentuk sensor digital maupun analog. Ada berbagai jenis sensor suhu yang digunakan untuk aplikasi yang berbeda. Salah satu Sensor Suhu adalah Termistor, yaitu resistor peka termal yang digunakan untuk mendeteksi perubahan suhu. Apabila Suhu meningkat, resistansi listrik dari termistor akan meningkat juga. Sebaliknya, jika suhu menurun, maka resistansi juga akan menurun.

 

        2. Kontak-kontak Relay ada tiga jenis, yaitu:

- Normally Open (NO), apabila kontak-kontak tertutup saat relay dicatu.

- Normally Closed (NC), apabila kontak-kontak terbuka saat relay dicatu.

-Change Over (CO), relay mempunyai kontak tengah yang normal tertutup, tetapi

ketika relay dicatu kontak tengah tersebut akan membuat hubungan dengan kontak-

kontak yang lain.

 

        3. Karakteristik dari relay

- Relay Waktu Seketika (Instantaneous relay), Relay yang bekerja seketika (tanpa  waktu tunda) ketika arus yang mengalir melebihi nilai settingnya, relay akan bekerja dalam waktu beberapa mili detik (10 – 20 ms). Relay ini jarang berdiri sendiri tetapi umumnya dikombinasikan dengan relay arus lebih dengan karakteristik yang lain.
- Relay arus lebih waktu tertentu (definite time relay), relay ini akan memberikan   perintah pada PMT pada saat terjadi gangguan hubung singkat dan besarnya arus  gangguan melampaui settingnya (Is), dan jangka waktu kerja relay mulai pick up sampai kerja relay diperpanjang dengan waktu tertentu tidak tergantung besarnya  arus yang mengerjakan relay.

- Relay arus lebih waktu terbalik, relay ini akan bekerja dengan waktu tunda yang tergantung dari besarnya arus secara terbalik (inverse time), makin besar arus makin kecil waktu tundanya. Karakteristik ini bermacam-macam dan setiap pabrik dapat membuat karakteristik yang berbeda-beda, karakteristik waktunya dibedakan dalam tiga kelompok :Standar invers, Very inverse dan Extreemely inverse

 

4. Fungsi dari sensor secara umum adalah untuk mendeteksi adanya perubahan yang ada

lingkungan fisik atau kimia dan dapat digunakan untuk mengkonversi suatu besaran  tertentu menjadi satuan analog sehingga dapat dibaca oleh suatu rangkaian elektronik. Fungsi dari relay adalah mengendalikan sirkuit tegangan tinggi dengan menggunakan    bantuan signal tegangan rendah, menjalankan logic function atau fungsi logika, memberikan time delay function atau fungsi penundaan waktu, dan melindungi motor atau komponen lainnya dari korsleting atau kelebihan tegangan.

DAFTAR PUSTAKA

Budiharto, Widodo. 2010. Elektronika Digital Dan Mikroprosesor. Yogyakarta : ANDI

            Halaman : 8 – 9 ; 46 - 47

Frenzel, Louis. 2010. Electronics Explained. United States of America : Newnes                       

           Pages : 289 – 291

Geier, Michael. 2016. How to Diagnose and Fix Everything Electronic. United States of 

          America : McGraw Hill Education

          Pages :149 -151

Tooley, Michael. 2003. Rangkaian Elektronik Prinsip dan Aplikasi.Jakarta : Erlangga

           Halaman : 91 – 92

Zukhri, Zainuddin. 2007. Analisis Rangkaian Edisi Dua. Yokyakarta : Graha Ilmu

          Halaman : 35 – 37


Interface Input Output - Laporan Interface - FISIKA

  1.1   Latar belakang Jika I/O yang dipetakan dimemori sedang digunakan, seluruh keempat register itu merupakan bagian dari ruang alamat ...