BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Thyristor adalah komponen elektronika yang berfungsi sebagai
saklar (switch) atau pengendali yang terbuat dari bahan semikonduktor.
Thyristor yang secara ekslusif bertindak sebagai saklar ini pada umumnya
memiliki dua hingga empat kaki terminal. Meskipun terbuat dari semikonduktor,
Thyristor tidak digunakan sebagai Penguat sinyal seperti Transistor. Istilah
“Thyristor” berasal dari bahasa Yunani yang artinya adalah “Pintu”.
Pada prinsipnya, Thyristor yang
berterminal tiga akan menggunakan arus/tegangan rendah yang diberikan pada
salah satu kaki terminalnya untuk mengendalikan aliran arus/tegangan tinggi
yang melewati dua terminal lainnya. Sedangkan untuk Thyristor yang berterminal
dua yang tidak memiliki terminal kendali (GATE), fungsi saklarnya akan diaktifkan
apabila tegangan pada kedua terminalnya mencapai level tertentu.
Level tegangan yang dimaksud tersebut
biasanya disebut dengan Breakdown Voltage atau Breakover Voltage. Pada saat
dibawah tegangan breakdownnya, kedua kaki terminal tidak akan mengaliri arus
listrik atau berada di posisi OFF.
Membahas mengenai Saklar (Switch)
elektronik, pada dasarnya kita juga dapat menggunakan Transistor. Namun jika
dibandingkan dengan Transistor, Thyristor yang didedikasi sebagai Komponen
Saklar ini akan dapat berfungsi lebih baik. Hal ini dikarenakan Transistor
memerlukan tegangan/arus yang tepat untuk mengoperasikan fungsi saklarnya, jika
tegangan/arus yang diberikannya tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan
maka Transistor tersebut akan berada diantara keadaan ON dan OFF. Saklar yang
berada diantara keadaan ON dan OFF bukanlah suatu saklar yang baik.
1.2
Tujuan
1.
Untuk mengetahui cara kerja dari SCR
penyearah.
2.
Untuk mengetahui aplikasi dari SCR.
3.
Untuk mengetahui cara penggunaan SCR
sebagai switching.
4.
Untuk mengetahui fungsi peralatan
dan komponen.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
Apa itu Perangkat
Kerusakan? Ini adalah perangkat
solid-state yang kerjanya tergantung pada fenomena longsoran salju. Mereka kadang-kadang disebut dengan nama
generik thyristor yang merupakan saklar semikonduktor yang tindakan bistable
tergantung pada umpan balik regeneratif P-N-P-N. Kita akan membahas perangkat
berikut: Unijunction Transistor (UJT), Silicon Controlled Rectifier (SCR),
Triac (kependekan dari 'triode ac'), Diac (kependekan dari 'diode ac'), Silicon
Controlled Switch (SCS).
Perangkat ini memiliki dua atau lebih persimpangan dan
dapat dinyalakan atau dimatikan pada tingkat yang sangat cepat. Mereka juga
disebut sebagai perangkat latching. Sebuah gerendel adalah sejenis saklar yang
awalnya ditutup, tetap tertutup sampai seseorang membukanya. Unijunction
Transistor Pada dasarnya, ini adalah dioda silikon tiga terminal. Seperti
namanya, itu hanya memiliki satu persimpangan P-N. Ini berbeda dari dioda biasa karena ia
memiliki tiga lead dan berbeda dari FET dalam hal ia tidak memiliki kemampuan untuk
transistor Unijunction.
Namun, ia memiliki kemampuan untuk mengontrol
karakteristik resistansi daya negatif yang besar yang membuatnya berguna
sebagai OSE (a) Konstruksi. Ini terdiri dari panel yang didoping ringan dengan
tipe-D yang didoping. Aterial paduan ke
satu sisi (B lebih dekat,) untuk menghasilkan persimpangan PN tunggal A
ditunjukkan pada Gambar. 27.1 (a), ada tiga Eminals: satu emitor, E dan dua
basis dan B, di bagian atas dan bawah bilah licon . Kaki
emitor ditarik pada sudut n ke vertikal dan panah menunjukkan arah arus
konvensional.
UJT dalam kondisi konduksi. Interbase Resistance (RRR)
,Basis Emitor Silikon bar B, Basis Ini adalah perlawanan antara B, dan B,
yaitu, itu adalah resistensi total dari bar silikon dari satu ujung ke ujung
lainnya dengan terminal emitor terbuka . Dari rangkaian ekivalen Gambar 27.2
(b), terlihat bahwa Rap = R2 + R Perlu dicatat juga bahwa titik A sedemikian
rupa sehingga E. RB> R2 Biasanya, R = 60% dari Rpp: (c) Intrinsik Rasio Stand-off Seperti yang terlihat pada
Gambar 27.3 (a), ketika baterai 30 V diterapkan pada B, B, ada penurunan
tegangan secara progresif terhadap RBn asalkan E terbuka. (Theraja,
2005)
Thyristor pada kondisi ini
disebut berada pada keadaan konduksi atau keadaan hidup. Tegangan jatuh yang
terjadi dikarena tegangan ohmic antara empat layer dan biasanya cukup kecil
sekitar 1 V. Pada keadaan on, arus anode dibatasi oleh resistansi atau
impedansi luar RL. Arus anode harus lebih besar dari suatu nilai
yang disebut menemp latching current
IL, agar diperoleh cukup banyak aliran pembawa muatan bebas yang
melewati sambungan-sambungan; jika tidak
devais akan kembali ke kondisi blocking
ketika tegangan anode ke katode berkurang. Latching
current IL, adalah arus
anode minimum yang diperlukan agar dapat membuat thyristor tetap pada kondisi
hidup begitu suatu thyristor telah dihidupkan dan sinyal gerbang
dihilangkan.
Karakteristik v-i umum dari suatu thyristor. Ketika
berada pada kondisi on, thyristor akan bertindak seperti diode yang tidak dapat
dikontrol. Devais ini akan terus berada pada kondisi on karena tidak ada
lapisan deplesi pada sambungan J2, karena pembawa-pembawa muatan
yang bergerak bebas. Akan tetapi, jika arus maju anode berada di bawah suatu
tingkatan yang disebut holding curent LH,
daerah deplesi akan terbentuk di sekitar J2, karena adanya
pengurangan banyak pembawa muatan bebas dan thyristor akan berada pada keadaan blocking.
Holding current
terjadi pada orde milliamper dan lebih kecil dari latching current IL,IH>IL. Holding current IH adalah arus anoda minimum
untuk mempertahankan thyristor pada kondisi on. thyristor keadaan tunak (0,91T).
Ton adalah jumlah tunda td, dan waktu mulai t1,td
didefenisikansebagai interval waktu antara 10% arus gerbang (0,1IG)
dan 10% arus keadaan on thyristor (0,1IT).tr adalah waktu
yang diperlukan agar arus anoda naik dari 10% arus keadaan on thyristor (0,1IT)
ke 90% arus keadaan on thyristor (0,9IT). Berikut beberapa hal yang
harus diperhatikan ketika merancang rangkaian kendali gerbang: Sinyal gerbang
harus dihilangkan setelah thyristor dihidupkan. Suatu sinyal penggerbangan
kontinyuakan meningkatkandaya yang terbuang di sambung gerbang.
Ketika thyristor pada kondisi reverse bias, tidak boleh
ada sinyal gerbang; jika ada sinyal gerbang, thyristor akan rusak karena
peningkatan arus bocor. Lebar pulsa gerbang tG harus lebih lama dari
waktu yang diperlukan untuk arus anoda meningkat ke nilai arus holding IH.
Secara praktis, lebar pulsa TG dapat biasanya diambil lebih dari
waktu ton dari rhyristor.
Suatu thyristor memerlukan waktu minimum untuk menyebarkan kondisi tersambung
ke semua sambungannya secara merata.
Jika peningkatan arus anode lebih cepat dibandingkan kecepatan
penyebaran dari proses turn-on, titik-titik pemanasan akan terjadi pada devais
karena adanya daerah-daerah dengan kepadatan arus yang tinggi dan devais akan
rusak sebagai hasil dari suhu yang berlebihan. Pada prakteknya, devais harus
diproteksi terhadap di/dt yang tinggi. Pada keadaan lunak. Din tersambung ketika thyristor T1
off. Jika T1, dihidupkan (fired), ketika Din, masih
tersambung di/dt akan sangat tinggi dan
terbatas hanya oleh induktansi stray dari rangkaian. Thyristor yang berada
dalam kondisi on dapat dimatikan dengan mengurangi arus maju ke tingkat di
bawah arus holding IH. Ada
beberapa variasi teknik untuk membuat thyristor off. (Rashid, 1999)
Dioda adalah suatu komponen
elektronik yang dapat melewatkan arus pada arah saja. Ada berbagai macam
dioda,yaitu dioda tabung, dioda sambungan p-n, dioda kontak titik dan
sebagainya. Dalam hal ini kita akan membatasi pembahasan pada dioda sambungan
p-n, khususnya dioda penyearah, dioda isyarat dan dioda zener.
Dioda memegang peranan amat penting dalam elektronika,
diantaranya adalah untuk menghasilkan
tegangan searah dari tegangan bolak-balik, untuk mengesan gelombang radio,
untuk membuat berbagai bentuk gelombang isyarat, untuk mengatur tegangan searah
agar tidak berubah dengan beban maupun dengan perubahan tegangan jala-jala
(PLN), untuk saklar elektronik, LED, laser semikonduktor , mengesan gelombang
mikro dan lain-lain. Beberapa pengertian dasar daripada dioda sambungan p-n
digunakan pada transistor, sehingga apabila kita menguasai pengertian dasar
dioda akan mudah pula kita memahami sifat transistor.
Tanda + dan – dalam kotak persegi menyatakan pembawa
muatan intrinsik yaitu yang berasal dari
ikatan kovalen pada atom silikon, yang menjadi bebas oleh karena eksitasi termal.
Pembawa muatan yang lain adalah muatan bebas, yaitu lubang yang dihasilkan oleh
atom akseptor pada bahan jenis-p, dan elektron bebas yang berasal dari atom
donor. Pembawa muatan bebas ini adalah pembawa muatan ekstrinsik.
Elektron bebas pada bahan jenis-n akan berdifusi melalui
sambungan’ masuk kedalam bahan jeni-p, dan terjadi rekombinasi dengan
lubang-lubang yang ada dalam bahan p. Sebaliknya juga terjadi, yaitu lubang
bahan p berdifusi masuk kedalam bahan n, dan berrekombinasi dengan elektron dan
saling meniadakan muatan. Akibatnya, tepat pada sambungan p-n terjadi daerah
tanpa muatan bebas, yang disebut daerah pengosongan. Oleh karena muatan positif
terpisah dari muatan negatif, maka dalam daerah pengosongan terjadi medan
listrik, yang melawan proses difusi selanjutnya. Dengan adanya medan listrik
ini terjadi beda potensial listrik atau bukit potensial antara bagian p-n dalam
daerah pengosongan. Sebaran muatan, kuat medan listrik dan potensial listrik
pada sambungan p-n dilukiskan pada gambar.
Adanya kuat medan listrik menyebabkan terjadinya bukit
potensial pada sambungan p-n. Agar suatu elektron dalam bahan n dapat
menyebrangi sambungan haruslah elektron tersebut mempunyai energi lebih
besardari bukit potensial yaitu muatan elektron. Pada keadaan ini terjadi
aliran arus minoritas, yaitu lubang yang ada di jenis n dan elektron bebas yang
ada di jenis p. Yang tidak dihalangi oleh bukit potensial, akan tetapi dibantu
untuk menyebrang sambugan. Pada saat yang sama, lubang yang ada dijenis p yaitu
pembawa muatan mayoritas ada juga yang
mempunyai cukup energi untuk enyebrang sambungan. Dalam keadaan mantap kedua
aliran ini saling meniadakan. (Sutrisno, 1986)
SCR adalah perangkat empat
lapis dengan tiga terminal, yaitu, anoda, katoda, dan gerbang. Ketika anoda
dibuat positif sehubungan dengan katoda, persimpangan J2 adalah bias terbalik dan hanya arus bocor
yang akan mengalir melalui SCR kemudian dikatakan berada dalam keadaan blok
maju atau mati. Ketika katoda dibuat positif sehubungan dengan anoda,
persimpangan J1 dan J3 terbalik bias dan
arus bocor balik kecil akan mengalir melalui SCR. Ini adalah keadaan
pemblokiran terbalik perangkat. Ketika anoda ke katoda tegangan meningkat,
persimpangan reverse-bias J2 akan rusak karena gradien
tegangan besar melintasi lapisan penipisan. Ini adalah kerusakan longsoran
salju. Karena persimpangan lainnya J1 dan J3
adalah bias maju. Gambar 2.1 menunjukkan karakteristik SCR. Pada keadaan aktif,
arus dibatasi oleh impedansi eksternal. Jika tegangan anoda ke katoda sekarang
berkurang, karena lapisan penipisan asli dan persimpangan bias-balik J2
tidak ada lagi karena pergerakan bebas dari operator, perangkat akan terus
tetap hidup. Ketika arus maju turun di bawah level Ihsaat ini, daerah
penipisan akan mulai berkembang di sekitar J2 karena berkurangnya jumlah operator dan
perangkat akan pergi ke status pemblokiran. Demikian pula, ketika SCR
dihidupkan, arus maju yang dihasilkan harus lebih dari arus penguncian I1
.Hal ini diperlukan untuk mempertahankan jumlah arus pembawa yang
diperlukan. oss persimpangan, jika tidak, perangkat akan kembali ke status
pemblokiran segera setelah anoda ke katoda tegangan berkurang.
Ketika SCR dibiaskan
terbalik, perangkat akan berperilaku dengan cara yang sama seperti dua dioda
yang terhubung secara seri dengan tegangan balik yang diterapkan di atasnya.
Dua bagian dalam SCR akan diolah sedikit dibandingkan dengan lapisan luar. Oleh
karena itu, forward breakover voltage VBO akan secara umum
lebih tinggi daripada reverse breakover voltage VBR. Dari diskusinya
di atas, dapat dilihat bahwa SCR memiliki dua kondisi operasi yang stabil dan
dapat dibalik. Pergantian dari off-state ke on-state, disebut turn-on , dicapai
dengan meningkatkan tegangan maju di luar VBO. Transisi
balik, disebut turn-off, dibuat dengan mengurangi arus maju di bawah Ih. Metode
yang lebih nyaman dan berguna untuk menyalakan perangkat menggunakan drive
gerbang. Jika tegangan maju kurang dari VBO diterapkan pada
perangkat, itu dapat dihidupkan dengan menerapkan tegangan positif antara
gerbang dan katoda. Metode ini dikenal sebagai kontrol gerbang. (Rio, 1999)
Hubungan p-n merupakan
dasar dari elektronik semikonduktor.Sifat hubungan p-n dimengerti benar, ini
penting karena merupakan kunci agar dapat memahami elektronik semikonduktor. Hubungan
p-n tidak bias dibentuk hanya dengan menghubungkan semikonduktor tipe p dan
tipe n begitu saja. Akan didapat hubungan p-n bila kita rubah sebagian dari
substrat kristal menjadi tipe-n dengan menambah donor dan bagian yang lain
menjadi tipe-p dengan menambah aseptor.
Gambar 2.2 menggambarkan
hubungan tepat sesudah terbentuk ;aseptor membentuk semikonduktor tipe-p dan
donor membentuk tipe-n yang disertai dengan jumlah hole dan electron yang sama
,dan kedua daerah itu sifat listriknya netral.Hole dan electron itu merupakan
pembawa bebas yang dapat dinaikkan tingkatannya
ke jalur konduksi dan juga dapat dalam jalur valensi. Pembawa-pembawa
ini berdifusi ke daerah yang mempunyai konsentrasi rendah dan berekombinasi
satu sama lain.
Hubungan p-n merupakan
dasar dari elektronik semikonduktor.Sifat hubungan p-n dimengerti benar, ini
penting karena merupakan kunci agar dapat memahami elektronik semikonduktor. Hubungan
p-n tidak bias dibentuk hanya dengan menghubungkan semikonduktor tipe p dan tipe
n begitu saja. Akan didapat hubungan p-n bila kita rubah sebagian dari substrat
kristal menjadi tipe-n dengan menambah donor dan bagian yang lain menjadi
tipe-p dengan menambah aseptor. Hubungan p-n merupakan dasar dari elektronik
semikonduktor.Sifat hubungan p-n dimengerti benar, ini penting karena merupakan
kunci agar dapat memahami elektronik semikonduktor. Hubungan p-n tidak bias
dibentuk hanya dengan menghubungkan semikonduktor tipe p dan tipe n begitu
saja.
Misalnya,
karena hole dalam tipe-p lebih tinggi konsentrasinya daripada hole dalam
tipe-n,mereka berdifusi dari daerah tipe-p ke tipe-n. Ambilah misalnya pada
hole,bila ia meninggalkan daerah tipe-p dan hilang ke dalam daerah tipe-n
karena berekombinasi,sebuah aseptor akan diionisasikan menjadi negatif dalam
daerah tipe-p itu,yang membentuk muatan
ruang negatif. Medan listrik ini menghambat hole untuk berdifusi dari daerah
tipe-p ke tipe-n,demikian juga pada elektron terhambat berdifusi dari tipe-n ke
tipe-p.Dalam keadaan seimbang dialam hubungan p-n terbentuk daerah:
1.
Daerah
tipe-p netral: daerah di mana jumlah hole sama dengan jumlah asepto,
2.
Daerah
muatan ruang tipe-p: daerah di mana aseptor diionisasikan negative
3.
Daerah
muatan ruang tipe-n: daerah dimana donor diionisasikan positif
4.
Daerah
tipe-n netral: daerah dimana jumlah donor sama dengan jumlah elektron
Daerah daerah 2 dan 3
bersama sama disebut daerah muatan ruang atau lapisan deplesi atau dipole
listrik. (Ramamoorty,
1977)
BAB
III
METODOLOGI
PERCOBAAN
1.
Komponen dan Peralatan
3.1.1
Komponen dan Fungsi
1. SCR 2P4M
Fungsi: sebagai switching atau saklar pada rangkaian
2. Resistor (220Ω)
Fungsi: sebagai penghambat arus
3.
Saklar (2 buah)
Fungsi: untuk
menghidupkan dan mematikan LED
4.
LED
Fungsi: sumber
cahaya
5.
Resistor 200 K
Fungsi: penghambat
arus
3.1.2
Peralatan dan Fungsi
1. Protoboard
Fungsi : tempat merangkai percobaan
2.
Multimeter
Fungsi: untuk mengukur arus dan tegangan
3. Jumper
Fungsi: untuk menghubungkan antarkomponen
4.
Power Supply
Fungsi: sebagai
sumber tegangan
6.
Baterai
Fungsi: penyimpan
tegangan
3.2 Prosedur Percobaan
1. Dipersiapkan semua peralatan dan
komponen.
2. Dipasang SCR pada papan protoboard
3. Dipasang Switch 1 pada protoboard dan Switch 2
dipasang pada kaki 3 SCR (katoda)
4. Dipasang LED dan
resistor 200 K pada protoboard pada arah yang sama
5. Dihubungkan baterai pada kaki LED dan Switch 2
6. Dihubungkan PSA dengan Anoda dipasang di Switch 1
sedangkan Katoda dipasang di Switch 2.
7. Digunakan jumper untuk menghubungkan LED dengan
Ground
8. Dihitung tegangan yang dihasilkan LED dengan
menghubungkan jumper pada ground dan kaki LED
9. Hasil bisa dilihat pada multimeter
4.2 Analisa Data
1. 1. Jelaskan pengertian thysistor dan jenis-jenisnya!
Pengertian Thyristor adalah komponen elektronika yang berfungsi
sebagai saklar (switch) atau pengendali yang terbuat dari bahan semikonduktor.
Thyristor yang secara ekslusif bertindak sebagai saklar ini pada umumnya
memiliki dua hingga empat kaki terminal. Meskipun terbuat dari semikonduktor,
Thyristor tidak digunakan sebagai Penguat sinyal seperti Transistor. Istilah
Thyristor berasal dari bahasa Yunani yang artinya adalah pintu.Pada prinsipnya,
Thyristor yang berterminal tiga akan menggunakan arus/tegangan rendah yang diberikan
pada salah satu kaki terminalnya untuk mengendalikan aliran arus/tegangan
tinggi yang melewati dua terminal lainnya. Sedangkan untuk Thyristor yang
berterminal dua yang tidak memiliki terminal kendali (GATE), fungsi saklarnya
akan diaktifkan apabila tegangan pada kedua terminalnya mencapai level
tertentu. Level tegangan yang dimaksud tersebut biasanya disebut dengan
Breakdown Voltage atau Breakover Voltage. Pada saat dibawah tegangan
breakdownnya, kedua kaki terminal tidak akan mengaliri arus listrik atau berada
di posisi OFF.
2. Jenis-jenis
Thyristor :
a.
SCR
adalah jenis Thyristor yang memiliki tiga kaki terminal yang masing-masing
terminal dinamai dengan GATE, ANODA dan KATODA. Secara struktur, SCR terdiri
dari 4 lapis semikonduktor yaitu PNPN yang terminal pengendalinya terdapat pada
lapisan P (Positif).
b. SCS (Silicon Controlled Switch) merupakan
jenis Thyristor yang memiliki 4 kaki terminal yaitu terminal GATE, ANODE GATE,
ANODE dan CATHODE. Sama seperti SCR, SCS atau Silicon Controlled Switch juga
berfungsi sebagai Saklar.
c. Triode from Alternating Current (TRIAC)
adalah Thyristor yang berkaki terminal tiga yang masing-masing terminalnya
dinamai dengan GATE, MI1 dan MI2. Setelah dipicu (trigger) menjadi ON, TRIAC
mampu menghantarkan arus listrik dari kedua arah. Oleh karena itu, TRIAC sering
disebut juga dengan Bidirectional Triode Thyristor.
d. Diode Alternating Current (DIAC) adalah
Thyristor yang hanya memiliki dua kaki terminal dan dapat menghantar arus
listrik dari kedua arah apabila tegangan melampaui batas tegangan breakovernya
(tegangan breakdown). DIAC sering disebut juga dengan Bidirectional Thyristor.
2. 3. Jelaskan perbedaan NPN dan PNP!
a. pada transistor PNP kaki kolektor selalu
terhubung dengan tegangan negatif sedangkan pada transistor NPN kaki kolektor selalu
terhubung dengan tegangan positif
b. kaki emitor pada transistor PNP akan
mengeluarkan arus negatif sedangkan pada transistor NPN mengeluarkan tegangan
positif
c. kaki basis pada transistor PNP dikontrol
dengan menggunakan tegangan negatif sedangkan pada transistor NPN dikontrol
menggunakan tegangan positif.
3. 4. Sebutkan karakteristik dan prinsip kerja
thysistor (SCR)!
Karaktristik
tegangan versus arus ini diperlihatkan bahwa thyristor mempunyai 3 keadaan atau
daerah, yaitu :
a. Keadaan pada saat tegangan balik (daerah I)
b. Keadaan pada saat tegangan maju (daerah II)
c. Keadaan pada saat thyristor konduksi (daerah
III)
Pada
daerah I, thyristor sama seperti diode, dimana pada keadaan ini tidak ada arus
yang mengalir sampai dicapainya batas tegangan tembus (Vr). Pada daerah II
terlihat bahwa arus tetap tidak akan mengalir sampai dicapainya batas tegangan
penyalaan (Vbo). Apabila tegangan mencapai tegangan penyalaan, maka tiba – tiba
tegangan akan jatuh menjadi kecil dan ada arus mengalir. Pada saat ini
thyristor mulai konduksi dan ini adalah merupakan daerah III. Arus yang terjadi
pada saat thyristor konduksi, dapat disebut sebagai arus genggam (IH =
Holding Current). Arus IH ini cukup kecil yaitu dalam orde
miliampere. Untuk membuat thyristor kembali off, dapat dilakukan dengan
menurunkan arus thyristor tersebut dibawah arus genggamnya (IH) dan
selanjutnya diberikan tegangan penyalaan.
Pada prisipnya, Thyristor
yang memiliki terminal tiga akan menggunakan arus tegangan rendah yang
diberikan kepada salah satu kaki terminalnya untuk mengendalikan aliran arus
tegangan tinggi yang melewati dua terminal lainya. Sedangkan untuk Thyristor
berterminal dua tidak memiliki kendali GATE, fungsi saklarnya akan di aktifkan
apabila tengangan pada kedua terminalya mencapai level tertentu. Level tegangan
yang dimaksud biasanya disebut Breakdown Voltage. Pada saat dibawah tegangan
breakdown. Kedua kaki terminal tidak akan mengaliri arus listrik atau berada
pada posisi OFF.Dalam membahas tentang Saklar (Switch) elektronik, pada
dasarnya kita juga dapat menggunakan sebuah komponen elektronik Transistor. Namun bila dibandingkan dengan Transistor, Thyristor
akan berfungsi lebih baik dari pada transistor. Hal ini dikarenakan Transistor
memerlukan tegangan yang tepat untuk mengoperasikan fungsi saklarnya,
jika tegangan yang diberikan tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan
maka pada Transistor tersebut akan berada dalam keadan ON dan OFF. Saklar yang
berada diatara keadaan ON dan OFF bukanlah saklar yang dalam keadaan baik.
Sangat berbeda dengan Thyristor, Komponen ini sudah dirancang untuk hanya
berada dalam dua keadaan ON atau ONFF. Dalam aplikasinya, Thyristor banyak
digunakan di perangkat atau rangkaian-rangkaian elektronika seperti Pengendali
Daya, Timer, Osilator, peredam cahaya, pengendali kecepatan motor listrik dan
lain sebagainya.
4. 5. Aplikasi
dari SCR!
Secara
umum, aplikasi Thyristor adalah :
a. Mengontrol kecepatan dan frekuensi
b. Penyearahan
c. Pengubahan daya
d. Manipulasi robot
e. Kontrol temperatur
f.
Kontrol
cahaya
Ramamoorty, M. 1977. An Introduction to Thyristors and Their Applications.
India : Affiliated
Pages : 9-11
Rashid, M. H.1999. Elektronika Daya
Rangkaian, Devais, Dan Aplikasinya. Jilid Satu.
Jakarta : PT Prenhallindo.
Halaman : 74-81
Rio, S. Reka. 1999. FISIKA DAN TEKNOLOGI SEMIKONDUKTOR. Cetakan
Ketiga.
Jakarta : Pradnya
Paramita.
Halaman : 58-60
Sutrisno. 1986. ELEKTRONIKA : Teori Dasar
dan Penerapannya. Jilid Satu. Bandung : ITB.
Halaman : 81-83
Theraja, B. L. 2005. Basic Electronics. India : RAM NAGAR, NEW DELHI .
Pages : 472-473




