BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Pembiasan cahaya adalah peristiwa penyimpangan atau pembelokan cahaya karena melalui dua medium yang berbeda kerapatan optiknya.Arah pembiasan cahaya dibedakan menjadi dua macam yaitu mendekati garis normal dan menjauhi garis normal.Cahaya yang dibiaskan mendekati garis normal jika cahaya merambat melalui medium kurang rapat ke medium yang lebih rapat, contohnya cahaya merambat dari udara ke dalam air.Sedangkan cahaya yang dibiaskan menjauhi garis normal adalah cahaya yang merambat dari medium optik yang lebih rapat ke medium optik yang kurang rapat, contohnya cahaya yang merambat dari dalam air ke udara.
Spektrometer adalah sebuah alat optik untuk menghasilkan garis spektrumcahaya dan mengukur panjang gelombang serta intensitasnya. Adapun prinsip kerja dari spektrometer yang akan digunakan pada praktikum ini adalah cahaya didatangkan lewat celah sempit uang disebut kalimator. Kalimator ini merupakan fokus lensa sehingga cahaya yang diteruskan akan bersifat sejajar, kemudian diteruskan ke kisi untuk kemudian ditangkap oleh teleskop yang posisinya dapat digerakkan. Pada posisi teleskop tertentu yaitu pada sudut θ, merupakan posisi yang sesuai dengan terjadinya pola terang. Biasanya pembelokan ini terjadi ketika cahaya pindah dari medium satu ke medium yang lain. Pada prisma cahaya akan dibelokkan dua kali, yaitu ketika masuk dan keluar, sehingga penyebaran cahaya terjadi. Sinar pada prisma tidak semua mengalami penyimpangan yang sama, tetapi kesalahan ini sedikit ketika prisma berada di posisi deviasi minimum.Sinar cahaya yang dipantulkan berada dalam bidang yang samadengan sinar datang dan normal.
1.2 Tujuan Percoba
1. Untuk menentukan indeks prisma secara praktikum
2. Untuk menentukan kecepatan dari masing-masing spektrum warna yang dibentuk oleh prisma
3. Untuk menentukan panjang gelombang spektrum warna yang dibentuk oleh prisma
4. Untuk membuktikan proses dispersi cahaya pada prisma
BAB II
PEMBAHASAN
Spektrometri gamma didefinisikan sebagai suatu metode pengukuran
dan identifikasi unsur-unsur radioaktif di dalam suatu sampel dengan jalan
mengamati spektrum karakteristik yang ditimbulkan oleh interaksi sinar gamma
yang dipancarkan oleh zat-zat radioaktif tersebut dengan detektor. Metode ini
digunakan untuk perhitungan jumlah radiasi untuk masing-masing tingkat atau
rentang energi tertentu. maupun penelitian, karena sistem ini dapat melakukan
pencacahan secara integral maupun differensial, sekaligus menghasilkan spektrum
distribusi energi radiasi. Detektor yang akan digunakan dalam sistem spektroskopi gamma itu haruslah memiliki kemampuan-kemampuan untuk membedakan energi-energi radiasi. Beberapa modul-modul elektronik yang terdiri dari
detektor radiasi gamma (biasanya detektor germanium kemurian tinggi (High
purity Germanium sering disebut Hp-Ge) beserta penguat awal (pre-amplifier),
suplai tegangan tinggi detektor (High Volatege), penguat pulsa (spectroscopy
amplifier), dan penganalisis saluran ganda (Multi Channel Analyzer disingkat
MCA) yang biasanya dapat di gabungkandengan seperangkat komputer. Dalam
teknologi nuklir, MCA digunakan
untuk mengukur spektrum energi sebuah sumber radioaktif, sehingga selanjutnya
bermanfaat untuk mengetahui distribusi energi yang dimiliki oleh suatu sumber
radioaktif atau mengindentifikasi sebuah sumber radioaktif berdasarkan
distribusi energinya yang terukur.
Pada MCA terdapat
instrumen analog to digital converter (ADC) yang digunakan untuk
menkonversi sinyal analog (amplitudo pulsa) menjadi nilai digital yang sesuai
yang dikonversikan ke dalam nomor kanal dan jumlah sinyal disimpan dalam memori
pada MCA. Dalam MCA terdapat kanal-kanal yang akan
mencatat pulsa sesuai dengan tingginya. Jadi di dalam MCA, tersimpan informasi berupa nomor kanal, tinggi pulsa, dan
energi radiasi. Kemudian akan digambarkan kurva yang menghubungkan antara
tinggi pulsa dengan jumlah cacahan. Jumlah kanal dalam MCA, tergantung tipa MCA-nya
itu sendiri. Pencacahan radiasi menggunakan MCA biasanya dilakukan selama selang waktu tertentu dan selang
waktu dalam pencacahan radiasi sangat mempengaruhi hasil pengukuran. Akurasi
jumlah cacahan yang ditampilkan oleh sistem spektrometer pada kanal dalam hal
ini yaitu jumlah radiasi yang disimpan oleh memori MCA perlu dilakukan pengujian secara regular. Pengujian yang
sering dilakukan terhadap MCA
yaitu pengujian akurasi dan waktu pencacahan, pengujian koreksi waktu mati,
pengujian Diffrensial Non Linearity (DNL) dan pengujian Integral
Non Linearity (INL).
Secara ideal, setiap
radiasi yang mengenai detektor akan
diubah menjadi sebuah sinyal (pulsa) listrik dengan amplitudo tertentu.
Banyaknya radiasi yang dipancarkan oleh sumber radiasi dan terdeteksi oleh
detektor akan dapat ditentukan jumlahnya dengan mengukur jumlah pulsa listrik
yang dihasilkan. Tinggi sinyal (pulsa) listrik yang dihasilkan detektor
menunjukkan energi radiasi sehingga energi radiasi dapat ditentukan dengan
mengukur tinggi pulsa listrik yang dihasilkan detektor. Pulsa listrik yang
dihasilkan oleh detektor biasanya berbentuk pulsa eksponensial dengan
karakteristik waktu munculnya pulsa sangat cepat (sering disebut rise-time) dan
waktu jatuhnya pulsa sangat lambat (sering disebut fall-time). Sangatlah sulit
untuk mendeteksi atau mengukur tinggi pulsa yang berbentuk eksponensial ini.
Amplifier pada perangkat spektrometer mempunyai fungsi untuk mengubah pulsa
eksponensial yang dihasilkan detektor menjadi pulsa Gaussian dan mempertkuat
amplitudo pulsa agar mempunyai tinggi dengan orde Volt.
Multi Channel
Analyzer (MCA) Pengukuran energi radiasi dari zat
radioaktif menggunakan MCA
dilakukan dengan melakukan perekaman distribusi tinggi pulsa dari partikel yang dipancarkan oleh sumber
radioaktif yang terdeteksi oleh
detektor. MCA memiliki saluran
(kanal) pencacahan ganda
yang dibatasi oleh pulse height analysis
(PHA). PHA mempunyai fungsi untuk menyaring apakah suatu pulsa dari
keluaran amplifier
diteruskan ke ADC-MCA atau
tidak. Pulsapulsa yang mepunyai amplitudo lebih tinggi dari batas
bawah tetapi lebih rendah dari batas atas saja yang akan diteruskan ke dalam ADC-MCA untuk di proses.
Pengolahan pulsa pada PHA
dilakukan dengan
mengelompokkan pulsa yang datang berdasarkan ketinggian pulsa tersebut, dan
kemudian menyimpannya
pada memori. Bagian utama dari suatu MCA adalah ADC
(analog to digital conerter) yang berfungsi untuk menkonversi sinyal analog yang
datang (amplitudo pulsa) dan mengubahnya menjadi nilai digital (bilangan
biner). Bilangan biner tersebut akan diteruskan ke bagian memori yang akan menyimpan jumlah dari
masing-masing
bilangan biner dihasilkan ADC.
Setelah pencacahan pulsa, isi dari memori akan berisi daftar bilangan
yang sesuai dengan jumlah cacah pulsa pada tiap tinggi pulsa (nomor salur /
kanal) sehingga
akan ditampilkan pada layar berupa spektrum radiasi Walaupun radiasi gamma yang dipancarkan oleh suatu
radioisotop bersifat diskrit, namun karenainteraksi radiasi gamma dengan materi
detektorlebih dari satu jenis interaksi,
sehingga pada MCA tidak akan
muncul satu energi saja. Spektrum yang membawa informasi energi gamma adalah yang berasal
dari interaksi fotolistrik. Karena dalam spektrum ini, seluruh energi gamma terserap
oleh atom
bahan detektor. Oleh karena itu dalam pemilihan jenis detektor yang akan
digunakan harus juga memilih detektor dengan bahan yang
memilikikemampuan/kemungkinan terjadinya interaksi fotolistrik dengan foton gamma yang
tinggi. Jumlah kanal dalam MCA,
tergantung tipa MCA-nya
itusendiri, saat ini jumlah kanal pada sebuah MCAmempunyai kemampuan 8000 kanal (8K) bahkan ada yang mempunyai
kemampuan mencapai 16000kanal (16K) Nomor kanal pada MCA sebanding dengan
energi radiasi gamma yang tertangkap oleh detektor. Semakin besar energi radiasi gamma,semakin besar pula nomor kanal
tempat munculnyaspektrum radiasi tersebut, demikian pula sebaliknya. Pada layar
MCA akan ditampilkan spektrum radiasi gamma yang muncul pada beberapa nomor salur yang
berlainan.
Unjuk kerja sistem spektrometer gamm (MCA) harus diuji untuk mengetahui kelayakan sistem spektrometer
untuk analisa suatu cuplikan. Salah satu pengujian unjuk kerja pada perangkat
spektrometer gamma adalah pengujian kesetabilan pencacahan yang pada sistem
spektrometer gamma disebut dengan pengujian Diffrensial Non Linearity (DNL).
Pengujian DNL ini diperuntukkan untuk menguji kemampuan memori pada MCA dalam
menyimpan data jumlah pulsa pencacahan. Pengujian DNL pada dasarnya merupakan pengujian akurasi pencacathan hanya
saja kalau dalam pengujian akurasi pencacahan dilakukan hanya dilakukan pada
kanal-kanal tertentu dari MCA, tetapi dalam pengujian DNL dilakukan pada seluruh kanal-kanal pada MCA secara bersamaan. kestabilan
pencacahan (DNL) yang nilai
relative kecil.
Unjuk kerja sistem spektrometer gamma (MCA) harus diuji untuk mengetahui kelayakan sistem spektrometer untuk analisa suatu cuplikan. Salah satu pengujian unjuk kerja pada perangkat spektrometer gamma adalah pengujian kesetabilan pencacahan yang pada sistem spektrometer gamma disebut dengan pengujian Diffrensial Non Linearity (DNL). Pengujian DNL ini diperuntukkan untuk menguji kemampuan memori pada MCA dalam menyimpan data jumlah pulsa pencacahan. Pengujian DNL pada dasarnya merupakan pengujian akurasi pencacahan hanya saja kalau dalam pengujian akurasi pencacahan dilakukan hanya dilakukan pada kanal-kanal tertentu dari MCA, tetapi dalam pengujian DNL dilakukan pada seluruh kanal-kanal pada MCA secara bersamaan. Untuk melakukan pengujian DNL dibutuhkan suatu pembangkit pulsa yang dapat menghasilkan sejumlah pulsa yang sama dengan tinggi pulsa yang berbeda-beda agar dapat mengisi semua lokasi memori pada kanal MCA dengan nilai yang sama. (Luhur, 2016)
Pada sistem pencacah konvensional, proses pengukuran (pencacahan radiasi) akan dimulai ketika operator menekan suatu tombol tertentu dan pengukuran akan berhenti setelah selang waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam kegiatan pengukuran berulang, misalnya dalam pengukuran waktu paro nuklida, operator harus selalu melakukan hal yang sama yaitu memulai pencacahan dan mencatat hasil pencacahan secara berulang-ulang. Kegiatan ini akan sangat membosankan, dan akan menimbulkan kesalahan, bila harus dilakukan puluhan kali pengulangan. Dengan perkembangan teknologi perangkat keras saat ini dan diiringi dengan tersedianya perangkat lunak yang semakin mudah untuk digunakan (user friedly) maka sudah saatnya untuk mulai menerapkan kemajuan ini pada sistem pencacah, khususnya untuk keperluan pencacahan berulang.
Dimana untuk menyediakan sistem pencaca berbasiskomputer yang
dapat digunakan untuk kegiatan praktikum pencacahan radiasi secara berulang,
seperti praktikum pengukuran waktu paro nuklida. Adapun ruang lingkup kegiatan
ini meliputi disain dan pembuatan perangkat keras rangkaian elektronik yang berbasis
mikrokontroler, pembuatan program untuk mengendalikan
peralatan elektronik dan program user
interface nya, serta penulisan petunjuk pengoperasiannya. Sebenarnya sistem
pencacah ini dapat digunakan untuk berbagai macam detektor, aka tetapi dalam
kegiatan ini hanya menggunakan detektor
sintilasi Nal(TI) untuk mengukur radiasi gamma. Susunan peralatan suatu sistem
pencacah, baik untuk mengukur radiasi alpha, beta, maupun gamma.
Detektor berfungsi sebagai pengubah energi
radiasi menjadi sinyal listrik yang kemudian diperkuat oleh amplifier.
Diskriminator adalah suatu alat untuk menyaring sinyal listrik yang memasukinya
berdasarkan tinggi atau amplitudo. Oleh karena tinggi pulsa listrik sebanding
dengan energi radiasi maka dengan kata lain diskriminator berfungsi untuk
menyaring radiasi yang masuk berdasarkan energinya. Counter adalah alat yang
digunakan untuk menghitung jumlah pulsa yang diteruskan oleh diskriminator
selama selang waktu yang ditentukan oleh timer. Sedangkan HVPS adalah catu daya
tegangan tinggi yang dibutuhkan oleh detektor. Sistem pencacah berbasis
komputer yang dibuat dalam kegiatan ini juga tersusun atas beberap fungsi
seperti di atas, yang membedakannya dengan sistem pencacah konvensional
terletak pada diskriminator, counter dan timer. Pada sistem pencacah
konvensional operator harus melakukan beberapa langkah sebagai berikut:
Pengaturan batas bawah (lower level) dan batas atas (upper
level). Diskriminasi yang dilakukan dengan cara memutar potensiometer yang ada di
diskriminator:
1. Pengaturan selang waktu pencacahan yang
dilakukan dengan memutar potensiometer atau saklar putar yang ada di timer.
2. Memulai pencacahan dengan menekan tombol yang
ada di counter dan timer, juga bila akan menghentikan pencacahan sebelum
waktunya, ataupun bila akan menghapus nilai cacahan.
3. Mencatat nilai cacahan setelah waktu
pencacahan telah tercapai.
Terlihat bahwa semua kegiatan di atas aka
sangat menjemukan bila harus melakukan pengukuran berulang, apalagi bila hasil
pengukuran tersebut akan diolah lebih lanjut menggunakan komputer. Operator
atau penelit harus mengetikkan catatan hasil pengukura tersebut ke dalam
komputer. Pada sistem pencacah berbasis komputer ini, semua langkah di atas
dilakukan oleh operator dengan
menggunakan mouse, keyboard, dan layar monitor komputer, sedangkan hasil
pengukuran dapat langsung terekam ke dala memory atau media penyimpanan
komputer seperti hard disk.
Pada sistem pencacah berbasis komputer
rangkaian diskriminator dilengkapi dengan komponen DAC (digital to analog converter)
yang dapat dikendalikan oleh mikro-kontroler sedangkan counter dan timer
digantikan oleh mikro-kontroler. Sebuah computer personal diperlukan untuk keperluan human interfac sehingga
semua pengendalian dapat
dilakukan melalui komputer.
Perangkat keras merupakan komponen
utama dari sistem pencacah ini adalah mikrokontroler. Jenis mikrokontroler yang
sudah sangat familiar adalah keluarga MCS51 yang mempunyai banyak variant
dengan berbagai karakteristiknya. Untuk keperluan sistem pencacah mr,
mikrokontroler yang digunakan sekurang-kurangnya harus mempunyai:
• sebuah masukan interrupt
(int 0),
• sebuah masukan counter
(counter 0),
• dua buah keluaran
digital 8 bit, dan
• komunikasi serial
(UART).
Pengoperasian sistem pencacah Instalasi
Perangkat Keras Perangkat keras sistem pencacah berbasis komputer ini terdiri
atas penguat utama (amplifier), diskriminator, counter, dan timer madul
catu daya tegangan tinggi. Untuk menyusun suatu sistem pencacah yang dapat dioperasikan
masih dibutuhkan lagi sebuah detektor Nal(TI) dan sebuah komputer
personal. Perlu diperhatikan bahwa detektor Nal(TI) yang dapat digunakan
disini adalah detektor yang tidak dilengkapi pre amplifier pada PMT nya dan
mempunyai tegangan kerja antara 900 - 1.00 Volt, sedangkan komputer personalnya
mempunyai komunikasi serial RS 232. Koneksi perangkat keras untuk menginstalasi
sistem pencacah ini adalah sebagaiman Setelah sistem pencacah diinstalasi. Maka
sistem pencacah dapat dihidupkan dengan prosedur sebagai berikut:
1. Tekan tombol saklar utama 0 berwarna merah sehingga
LED merah di atasnya akan
menyala.
2. Putar potensio HV 8 ke kanan, hingga terdengar bunyi
klik dan LED kuning diatasnya akan menyala.
3. Lanjutkan memutar potensio HV f) ke
kananperlahan-Iahan sampai maksimum.
4. Sistem pencacah siap untuk digunakan.
Untuk mematikan sistem pencacah, ikuti prosedur di atas dengan urutan yang dibalik (Iangkah 3, 2 dan kemudian 1. (Tjahyno, 2005)
Informasi mengenai peluruhan pada beta, seperti pada peluruhan beta, beta yang tertunda oleh gammadan hambatan peluruhan beta akiat probabilitas emisi neutron, dan pada massa nuklir, yang di ketahui memiliki peranan dalam prosesnya. Isotop dengan metode Bρ - E - Bρ, sedangkan pada tahap kedua dilakukan identifikasi partikel menggunakan. Bρ - E dan informasi waktu penerbangan (TOF). Balok sekunder diperlambat dengan cara dari pengurai aluminium dan berhenti di detektor silikon aktif untuk waktu paruh dan β-delay γ -ray pengukuran. Sistem akuisisi data independen diperkenalkan untuk pertama kalinya transfer data paralel untuk BigRIPS / ZDS, detektor sinar-β, dan detektor sinar-ray. Tampilan skematik dari pengaturan eksperimental dan tampilan detektor silikon ditunjukkan. Sili detektor con terdiri dari sembilan detektor strip silikon dua sisi (DSSSD: Micron Model W1-1000) tersegmentasi dengan 16 strip pada sumbu horizontal dan vertikal sebagai sistem penghitungan β yang sensitif terhadap posisi tem. Sistem freezer diperkenalkan untuk mendinginkan DSSSD hingga -25 derajat agar dapat beroperasi untuk percobaan jangka panjang dengan arus bocor minimum. Isotop yang dihasilkan ditanamkan DSSSD dan kehilangan energinya disimpan di salah satu dari setiap dua DSSSD (kedua, keempat, keenam, dan kedelapan) diukur untuk konfirmasi posisi implantasi berdasarkan peristiwa per peristiwa. Sistem penghitungan β dikelilingi oleh empat detektor germanium tipe semanggi untuk mengukur sinar- dari keadaan isomerik dan keadaan tereksitasi dari inti anak setelah peluruhan β. Stopper aktif dengan sensitivitas posisi memberikan peluang besar untuk melakukan β-delay γ spektroskopi dan di lingkungan sinar koktail. Sistem penghitungan β baru, WAS3ABi (lebar- berbagai rangkaian stopper strip silikon aktif untuk deteksi beta dan ion), dengan 19.200 segmentasi, memiliki telah dikembangkan untuk memaksimalkan keluaran fisika dalam hubungannya dengan -ray dengan efisiensi tertinggi detektor di RIBF.
Detektor strip silikon dua sisi. sistem
deteksi presisi dan resolusi tinggi yang dioptimalkan untuk fasilitas mereka.
Program ilmiah terkait dengan spektroskopi peluruhan telah dimulai, yang
bertujuan untuk mengukur waktu paruh peluruhan β dan sinar beta tertunda dan
isomer. Dalam dekade mendatang, beberapa ratus isotop yang tidak diketahui akan
dianalisis di RIBF menggunakan spesifikasi- troskopi
untuk mendapatkan wawasan tentang evolusi cangkang nuklir, penampilan dan
hilangnya sihir, evolusi bentuk di daerah cangkang tengah, dan misteri proses-r masing-masing, pada RIBF terdapat beberapa ratus inti kaya neutron yang
diambl pada saat proses-r yang dapat diakses dalam bebrapa dekade mendatang
dadn juga didalam inti terdapat parameter bruto yang dipreroleh secara
eksperimental yang diharapan dapat meningkatkan prediksi teori. (Nishimura, 2012)
Ditemukan bahwa
beberapa zat yang terbentuk secara alami terdiri dari atom
yang tidak stabil yaitu mereka mengalami transformasi spontan menjadi atom
produk yang lebih stabil. Zat-zat
tersebut dikatakan radioaktif dan proses transformasi dikenal sebagai peluruhan
radioaktif.Peluruhan radioaktif biasanya disertai dengan emisi partikel
bermuatan dan sinar gamma.Fakta bahwa beberapa unsur radioaktif secara alami
pertama kali disadari oleh Becquerel pada tahun 1896. Dia
mengamati menghitamnya emulsi fotografis di sekitar senyawa uranium.Ini
kemudian dikaitkan dengan radiasi yang dipancarkan oleh uranium. Dalam sepuluh tahun berikutnya karya
eksperimental yang luar biasa dari Rutherford dan Soddy, M. dan Mme Curie dan
lainnya menetapkan fakta bahwa inti tertentu tidak sepenuhnya stabil.Radiasi
inti yang tidak stabil ini memancarkan tiga jenis utama, yang disebut radiasi
alfa, beta, dan gamma.
Radiasi-
Radiasi alfa, beta dan gamma, radiasi alfa (a)
ditunjukkan oleh Rutherford dan Royds terdiri dari inti helium yang terdiri
dari dua proton dan dua neutron.Keempat partikel ini terikat bersama begitu
erat sehingga partikel alfa berperilaku dalam banyak situasi seolah-olah itu
adalah partikel fundamental.Sebuah partikel-
memiliki massa 4
dan membawa dua unit muatan positif. Radiasi
beta terdiri dari
elektron kecepatan tinggi yang berasal dari nukleus.Elektron nuklir ini
memiliki sifat yang identik dengan elektron atom, yaitu memiliki massa1/1840
dan membawa satu unit muatan negatif. Jenis lain dari radiasi beta ditemukan oleh
C. D. Anderson pada tahun 1932. Radiasi ini terdiri dari partikel dengan massa
yang sama dengan elektron tetapi memiliki satu unit.
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1
PeralatandanBahan
3.1.1
Peralatan
1.
Power Supply/High Voltage
Berfungsi: sebagai sumber tegangan tinggi
2.
DetektorNaI(Tl)
Berfungsi : sebagai untuk mendeteksi radiasi, mencacah jumlah partikel
radioaktif dan energy radiasi
3.
Absorber Pbdan Fe
Berfungsi : sebagai penyerap radiasi yang dipancarkan unsurr adioaktif
4.
CPU
Berfungsi : sebagai unit control sebagai pengatur jalannya suatu program
5.
Register
Berfungsi : sebagai penyimpan instruksi yang diberikan.
6.
ALU (Aritmatika Logic Unit)
Berfungsi : sebagai pemproses instruksi aritmatika pada program
7.
Praamplifierdan amplifier
Berfungsi : sebagai penguat sinyal / pulsa yang dimunculkan unsur Cs-137
dan unsur X yang
dideteksi
8.
PMT
Berfungsi : untuk memutus arus ketika terdapat beban.
9.
Monitor
Berfungsi : sebagai layar penampil hasil deteksi
10.
Mouse
Berfungsi : sebagai alat pendukung computer untuk menggerakkan kursor.
11.
MCA
Berfungsi : sebagai alat pencacah
12.
Keyboard
Berfungsi : sebagai alat untuk memasukkan input
3.1.2
Bahan
1.
Co-60
Berfungsi : sebagai sumber radioaktif beta
2.
Cs-137
Berfungsi : sebagaisumber radiasi sinar gamma
3.2
ProsedurPercobaan
3.2.1
Kalibrasi MCA
1.
Disiapkan peralatan yang akan digunakan dalam percobaan.
2.
Dihubungkan detektor NaI(TI) kealat cacah.
3.
Dihidupkan pencacah dan ditunggu beberapa menit sehingga tegangan sebesar
1000 volt .
4.
Diletakkansumberradioaktif Cs-137 danbahan-bahan
X dan ukur cacah dan laju cacah.
5.
Dihitung besar energi yang
dihasilkan unsur Cs-137 dan bahan X.
6.
Ditentukan unsur dan bahan X dengan membandingkan hasil dari energi yang
dihasilkan dalam buku text book (Kaplan).
7.
Dicatat hasil cacahannya pada kertas data
percobaan.
3.2.2 MenentukanInteraksiDengan Cs-137, CacahLatarBelakang (Background), CacahInteraksiDengan
Absorber Fe Dan Absorber Pb
1.
Disiapkan peralatan yang akan digunakan dalam percobaan.
2.
Disusun rangkaian percobaan.
3.
Dimasukkan Cs-137 dan dihitung cacah interaksinya.
4.
Diletakkan Pb sebagai absorbernya.
5.
Divariasikan tegangan dari 0-900 Kev.
6.
Dicatat jumlah cacah yang
dihasilkan.
7.
Diukur cacah untuk interaksi Cs-137
dengan menggunakan Fe dan back ground.
8.
Dicatat jumlah cacah yang dihasilkan pada kertas data
percobaan.
3.3 Gambar Percobaan
(Terlampir)
DAFTAR PUSTAKA
Hendriyanto,
H. T. 2005. Sistem Pencacahan Berbasis Komputer. Indonesia : Widyanuklida.
6(2)
Halaman: 26-35
Luhur,
N. 2016. Evaluasi Unjuk Kerja Memori Sistem
Spektrometer Gamma.Tanggerang
Selatan:Pusat Rektor Serba Guna.
Halaman : 112-114
Nishimura, S. 2012. Beta-Gamma Spectroscopy at RIBF.
Japan: RIKEN Nishina Center.
Pages: 3-11